Partner | KAENDRA Tour & MICE

Rabu, 04 Desember 2013

"HIKMAH DIBALIK QURBAN"



Hari ini , merupakan hari raya Iedul Adha, yang dikenal dengan hari raya haji dan hari raya qurban.

Tetapi pernahkah kita merenungkan tentang hikmah tersembunyi dibalik qurban itu?

Selama ini yang secara umum, adalah kisah tentang nabi Ibrahim mendapat wahyu untuk menyembelih anaknya yang bernama Ismail ( dalam islam), atau Ishaq dalam agama masehi. Kemudian diganti kambing.

Hikmah yang tersembunyi menurut saya ternyata amat dahsyat sekali, yakni tentang adanya sebab dan akibat, yang tidak akan dapat terbantahkan.

Hal itu dapat saya simpulkan karena : saat nabi Ibrahim mendapat wahyu dari Tuhan agar menyembelih anaknya, kemudian digantikan dengan kambing.

Pertanyaannya adalah; mengapa saat anaknya yang disembelih lantas tergantikan binatang kambing? Padahal saat menyembelih ada unsur kesengajaan dan secara sadar dilakukan.

Hal itu menunjukkan bahwa betapapun bagaimana, segala sesuatu akan terjadi jika ada 2 unsur yakni: unsur sebab, dan unsur sikap prilaku sebelum kejadian. Sehingga jika kedua unsur ini bertemu akan terjadi suatu akibat.

Jadi dengan adanya kedua unsur itu, sudah tidak memperdulikan lagi tentang adanya unsur kesengajaan, maupun keterpaksaan dan lain-lain. Sebab, kesemuanya pasti akan mengarah pada akibat yang akan terjadi sesuai dengan sikap dan perilakunya.

Contoh : ketika kita melihat ada seseorang yang bunuh diri, ditembak seseorang, jatuh dari pesawat, dan lain-lain. Banyak kejadian mereka tidak mati, dan terselamatkan dari kematiannya.

Sebaliknya, ada pula yang berlindung untuk mencegah dari kematian, malahan akhirnya juga mati. Bahkan ada pula yang ketika kecelakaan tidak mati, tahu-tahu dikemudian hari dia malah mati ketika hanya jatuh terpeleset di kamar mandi.

Mengapa demikian? Semua itu terjadi semata-mata karena adanya sikap serta perilaku manusia itu sendiri. Selamat atau tidaknya adalah tegantung dari warna sikap dan perilaku yang dijalani. Dan jika dalam agama disebutkan tergantung dari ibadahnya.

Intinya : Seseorang tidak akan pernah mendapatkan kematian atau musibah, betapapun besarnya mala-petaka yang dialami, jika sikap dan prilakunya, memang tidak mengarah pada akibat yang disebut musibah. Dan, dari sikap prilaku ini pulalah yang menjadikan warna kehidupan seseorang.

Jadi, adanya keikhlasan atau kepasrahan tersebut tidak datang secara tiba-tiba saat musibah itu akan dijalani, atau sedang dijalani. Melainkan, semuanya berproses dari keadaan-keadaan sebelumnya terhadap sikap dan prilaku yang dihasilkan. Dari proses keadaan inilah nantinya yang akan terakumulasi menjadi warna sikap dan prilaku. Sehingga akan terjadi suatu akibat; apakah musibah itu terjadi atau tidak terjadi.

Demikian, dan semoga menjadi bahan renungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar