Pernahkah
kita melihat seorang pencuri, pemerkosa, pembunuh, dan perbuatan lain
yang negatif, termasuk korupsi, kemudian tertangkap?
Tentu kita akan mendengar, bahwa sebagian besar alasan mereka akan mengatakan " saya menyesal dan telah tergoda oleh setan".
Dan sebagian besar diantara kita juga akan mengatakan bahwa" perbuatan mereka keji, setan, iblis dan lain-lain".
Pernahkah pula diantara kita yang berbuat negatif, kemudian menyadari terhadap perbuatannya itu? Tentu akan mengatakan, bahwa; perbuatannya itu karena tergoda oleh setan. Mereka inilah sesungguhnya yang memasukkan unsur api kedalam dirinya, dan bukan cahaya. Sehingga akhirnya terpuruk, karena ketidak-mampuan dalam mengelola api menjadi cahaya.
Pernahkah pula kita melihat seseorang yang didzalimi orang lain, dan mereka dalam keadaan sabar dan sadar? Padahal kita tahu bahwa yang mendzalimi adalah perbuatan setan. Namun setelah itu kita melihat orang yang didzalimi bisa menjadi orang yang makin terkenal dan ternama. Gus Dur dan SBY bisa menjadi presiden. Jokowi bisa menjadi gubernur DKI, bahkan digadhang untuk menjadi presiden.
Masih banyak lagi contoh-contoh orang setelah dizalimi menjadi orang yang sukses.
Tahukah? Bahwa sesungguhnya mereka inilah yang dapat mengambil cahayanya merasuk kedalam diri tanpa terbakar oleh apinya.
Intinya : jika kita mendapatkan sesuatu yang negatif, kita harus berpikir; apakah hikmah yang ada didalamnya, serta yang akan dapat kita raih.
Sedangkan jika akan berbuat sesuatu, kita juga harus lewat niat tentang hikmah apakah yang akan dapat diberikan pada orang lain.
Dan bukankah hikmah itu secara substansi berarti "cahaya". Mungkinkah akan ada barokah tanpa musibah? Dan mungkin pulakah akan ada hikmah tanpa peristiwa?
Tentu kita akan mendengar, bahwa sebagian besar alasan mereka akan mengatakan " saya menyesal dan telah tergoda oleh setan".
Dan sebagian besar diantara kita juga akan mengatakan bahwa" perbuatan mereka keji, setan, iblis dan lain-lain".
Pernahkah pula diantara kita yang berbuat negatif, kemudian menyadari terhadap perbuatannya itu? Tentu akan mengatakan, bahwa; perbuatannya itu karena tergoda oleh setan. Mereka inilah sesungguhnya yang memasukkan unsur api kedalam dirinya, dan bukan cahaya. Sehingga akhirnya terpuruk, karena ketidak-mampuan dalam mengelola api menjadi cahaya.
Pernahkah pula kita melihat seseorang yang didzalimi orang lain, dan mereka dalam keadaan sabar dan sadar? Padahal kita tahu bahwa yang mendzalimi adalah perbuatan setan. Namun setelah itu kita melihat orang yang didzalimi bisa menjadi orang yang makin terkenal dan ternama. Gus Dur dan SBY bisa menjadi presiden. Jokowi bisa menjadi gubernur DKI, bahkan digadhang untuk menjadi presiden.
Masih banyak lagi contoh-contoh orang setelah dizalimi menjadi orang yang sukses.
Tahukah? Bahwa sesungguhnya mereka inilah yang dapat mengambil cahayanya merasuk kedalam diri tanpa terbakar oleh apinya.
Intinya : jika kita mendapatkan sesuatu yang negatif, kita harus berpikir; apakah hikmah yang ada didalamnya, serta yang akan dapat kita raih.
Sedangkan jika akan berbuat sesuatu, kita juga harus lewat niat tentang hikmah apakah yang akan dapat diberikan pada orang lain.
Dan bukankah hikmah itu secara substansi berarti "cahaya". Mungkinkah akan ada barokah tanpa musibah? Dan mungkin pulakah akan ada hikmah tanpa peristiwa?
Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar