Dulu,
untuk menjadi seperti sekarang ini saya melewati 3 kali tahapan
menjalani laku, yakni; "bertapa". Yang pertama, waktu masih bujang, di
gunung kawi selama 8 bulan setengah. Setelah menikah, saya menjalani lagi
laku yang kedua, ada di alas purwo banyuwangi. Yang ketiga, dialas
katangga. Disamping itu, juga menjalani di kamar mandi, disungai, candi2
dan lain-lain. Dalam hati, tidak ada niat secuilpun, untuk mencari kesaktian, atau
kekayaan materi. Yang ada, hanya mencari Tuhan. Tidak ada pembimbing,
tidak ada guru, hanya berbekal nekad bukan tekad. Paling-paling, yah...
mati.
Setelah laku ketiganya selesai saya jalani, saya jadi bingung, kenapa koq bisa melihat apa-apa yang semula tidak kelihatan, dan bisa membantu orang. Padahal tidak ada niatan sedikitpun untuk mendapat ilmu seperti itu. Serta, tidak ada doa yang saya baca, selain hanya Allah yang menjadi rujukan.
Saya terus berpikir, akhirnya baru ketemu, setelah banyak menolong orang. Yakni; disaat orang dalam keadaan kosong,dan disadari akan kekosongannya, semua jadi semakin terang benderang, semua seolah menyatu.
Yang menjadi masalah, bagaimana cara saya menularkan ilmu ini kepada semua orang? Apakah harus melewati cara-cara seperti yang saya lakukan? Akhirnya setelah sekian lama saya merenung, baru ketemu, setelah melalu proses yang panjang, untuk saya jadikan sebagai teori atau pendapat sebagai berikut.:
1.Bertapa, dari kata dasar bahasa jawa " tapa". Yang merupakan kirata basa(singkatan) "nata rupa"( menata rupa)atau wajah batin.
Setelah laku ketiganya selesai saya jalani, saya jadi bingung, kenapa koq bisa melihat apa-apa yang semula tidak kelihatan, dan bisa membantu orang. Padahal tidak ada niatan sedikitpun untuk mendapat ilmu seperti itu. Serta, tidak ada doa yang saya baca, selain hanya Allah yang menjadi rujukan.
Saya terus berpikir, akhirnya baru ketemu, setelah banyak menolong orang. Yakni; disaat orang dalam keadaan kosong,dan disadari akan kekosongannya, semua jadi semakin terang benderang, semua seolah menyatu.
Yang menjadi masalah, bagaimana cara saya menularkan ilmu ini kepada semua orang? Apakah harus melewati cara-cara seperti yang saya lakukan? Akhirnya setelah sekian lama saya merenung, baru ketemu, setelah melalu proses yang panjang, untuk saya jadikan sebagai teori atau pendapat sebagai berikut.:
1.Bertapa, dari kata dasar bahasa jawa " tapa". Yang merupakan kirata basa(singkatan) "nata rupa"( menata rupa)atau wajah batin.
Wajah batin itu harus ditata sesuai dengan kehendak kita atau saat dibutuhkan. Tetapi mungkinkah kita akan bisa menata batin, jika sebelumnya tidak mengenal? Dan mungkinkah bisa mengenal jika seluruh nafsu belum dimurnikan? Kata memurnikan disini, bukan berarti meniadakan, tetapi kembali dijadikan seperti keadaan aslinya waktu masih bayi. Sehingga, kita bisa mengisi kembali dengan penuh kesadaran atau niat untuk mengisi. Dan ini berbeda dengan sebelum bertapa, dimana nafsu terisi dengan sendirinya lantaran adanya keinginan. Yang berarti; terisinya tidak dalam keadaan sadar.
2. Bertapa, meniadakan pikiran-pikiran apapun, selain Tuhan, Gusti, Allah, atau apapun istilah yang diyakini tentang Dzat Mutlak. Dan hal ini bisa cepat berhasil, karena berada ditempat yang sepi dan sunyi, yang otomatis, bisa menunjang adanya kecepatan didalam pengosongan pikiran. Apalagi suasana yang menakutkan, menyeramkan dan lain-lain. Sehingga yang ada, hanyalah sifat kepasrahan. Lama kelamaan diri kita jadi kosong, tidak ada rasa takut, kecewa, susah dan lain-lain. Dan disini, saya bisa merasakan penuh kedamaian, seperti orang gila, tapi sadar akan kegilaannya. Diri ini sepertinya ada tapi tiada.
3. Didalam bertapa, saya seolah merasakan, bahwa apa yang ada disekeliling saya seolah-olah merupakan tubuh saya sendiri. Apa yang saya pegang, seperti memegang anggota tubuh saya.
Tahapan-tahapan itu telah lama berlalu. Akan tetapi keadaan yang saya rasakan, senantiasa sama, walaupun saya tidak bertapa lagi. Jika situasi dan kondisi saya buat seperti waktu bertapa, tidak ada perbedaan apapun, dan seperti termemori didalam diri. Seperti halnya disaat ingat kesusahan masa lalu, maka saat ini akan mengalami perasaan susah waktu itu. Bahkan, jika saya ingin merasakan kesusahan orang lain, akan sama persis dengan apa yang dirasakan dihati mereka.
Dari sini, saya lantas membuat kelinci percobaan dengan mengangkat 3 orang murid. 2 orang china dan 1 orang jawa. Tidak saya suruh bertapa dihutan, atau seperti tahapan yang saya lalui, melainkan disawah, pada tengah malam dan saya dampingi. Ternyata berhasil mendapatkan, seperti apa yang saya miliki. Walaupun hanya saya suruh laku cuma sekitar 1 jam.
Kelinci percobaan terus berlanjut, saya mengangkat murid 3 orang perempuan di hongkong, dan 2 laki-laki. Cuma saya beri wejangan dengan mengingat segala peristiwa yang pernah dialami, baik sedih maupun gembira. Ternyata hasilnya sama dengan yang saya dapatkan.
Dari sini saya lanjutkan dengan beberapa kelinci percobaan lain, yakni dari jauh, yakni di Rotterdam dan hongkong, tanpa saya pergi kesana. Hasilnya benar-benar ajaib. Mereka tidak saya suruh laku apapun, selain memberi makan pada orang miskin yang tidak dikenalnya. Mereka kini menjadi paranormal terkenal disana.
Dari tulisan diatas ini, saya mengambil kesimpulan, bahwa semua orang pasti bisa memiliki kemampuan sebagaimana yang dikehendaki, tanpa harus melalui tahapan seperti yang saya lakukan, sepanjang mau memahami lambang NOL. Sehingga dengan lambang NOL sudah dipahami, maka hati masing-masing orang akan berperan disaat dibutuhkan.
Dan jangan biarkan kesusahan, kesedihan,dan kegembiraan berlarut-larut didalam diri. Sebab, perobahan itu adalah merupakan ungkapan rasa untuk memberi tahu kita, bahwa; ada perasaan yang terdownload. Segeralah diinstal kedalam memory diri, yakni otak belakang. Dan jangan dipikir, bila tidak mampu memikirkan. Melainkan diendapkan dahulu, terkecuali kalau memang mampu. Segala perobahan rasa, adalah merupakan pertanda bagi diri, untuk melakukan lewat jalur mana. Otak kiri, ataukah otak kanan, yakni lewat kepasrahan. Dan untuk mempercepatnya, silahkan lewat memberi sesuatu makanan, atau uang, pada orang yang tidak kenal, miskin, serta dari tangan kita sendiri, dan bersifat langsung antara pemberi dan penerima.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar