Partner | KAENDRA Tour & MICE

Rabu, 04 Desember 2013

BENTUK UJIAN TUHAN

  • Sebenarnya hal ini pernah saya tuliskan pada beberapa waktu yang lalu tentang ujian, dan cobaan. Akan tetapi masih banyak yang belum faham. Sehingga saat dirinya menerima ujian dari Tuhan, masih ingin menundanya. Atau memohon agar diberi ketegaran dan lain-lain.

    Menurut saya, kata yang tepat, bukan merupakan ujian. Akan tetapi adalah cobaan.

    Sebab jika berbicara ujian, berarti berbicara otak kiri, yang bersifat pembelajaran logika dan unsur akal yang dominant.

    sedangkan berbicara masalah cobaan, adalah berbicara perasaan, yang mengandung unsur pelatihan terhadap nafsu.

    Walaupun memang, ujian dan atau cobaan itu, hanya merupakan sekedar istilah yang dibuat oleh manusia. Akan tetapi satu sama lain, memiliki perbedaan yang amat jelas sekali.

    Kalau ujian, yang dijadikan sasaran adalah otak kiri, supaya
    semakin banyak memory yang kita miliki, yang kemudian dikatakan suatu pengalaman. Akan tetapi kalau cobaan, yang menjadi sasaran adalah otak kanan kita. Sehingga semakin banyak kenangan yang dihadapi oleh otak kanan, maka diharapkan akan semakin banyak pula warna perasaan yang termemory didalam diri. Dan dari sini nantinya akan memunculkan insting. Khususnya yang berkaitan dengan nafsu, yang ada didalam liver.

    Baik hasil dari ujian, maupun hasil dari cobaan, akan menjadikan data base pada otak manusia. Pengalaman otak kiri menjadi data empirik, dan pengalaman otak kanan menjadi data non empirik.

    Mengapa manusia perlu ujian dan cobaan ?

    Hal itu karena alam semesta ini bergerak, dan selalu mengadakan perubahan setiap saatnya. Baik perobahan yang dilakukan oleh alam sendiri, maupun perobahan yang datang dari dalam diri kita sendiri yang berwujut " kehendak". Yang kemudian terangkum menjadi satu tujuan, yakni keinginan.

    Jika hanya ujian untuk otak kiri saja, manusia akan menjadi seperti mesin atau robot.

    Jika hanya berbentuk cobaan untuk otak kanan saja, maka manusia hanya akan selalu pasif didalam menghadapi perobahan.

    Sehingga dengan adanya cobaan, atau ujian batin, ujian nyali, diharapkan seseorang akan bisa menjadi orang yang tahan bantingan menghadapi segala apapun yang terjadi. Tidak akan gampang perasaan, tidak sombong, serta tidak akan gampang mencaci, mencela, atau berbuat sesuatu yang merugikan orang lain. Bahkan tidak akan gampang mengalami kecelakaan. Karena sebelum terjadinya kecelakaan, insting tadi sudah merasakan lebih dahulu, sehingga tidak akan panik jika ada masalah terjadi.

    Jadi intinya : dalam hal datangnya suatu COBAAN, yang dibutuhkan adalah berlatih untuk mengendalikan PERASAAN. Kalau ujian, adalah berlatih untuk mengasah PIKIRAN.

    Selanjutnya, jika kita menghadapi ujian, kita bisa belajar lebih dahulu, dengan membaca pelajaran yang pernah diberikan. Kalau cobaan, datangnya akan tiba-tiba.

    Sehingga bagaimana mungkin perasaan bisa diatur lebih dahulu, jika nanti menghadapi cobaan. Sebab, semakin diatur lebih dahulu, maka warna perasaan lebih dahulu berubah. Jika warna perasaan berobah lebih dahulu, bagaimana mungkin bisa memunculkan insting, guna melatih perasaan yang akan terjadi? Dan jika insting tidak keluar, maka suara hati juga tidak akan bisa memberikan petunjuk.

    Oleh karena itu, janganlah kita berandai-andai untuk mengatasi suatu perasaan didalam menghadapi suatu masalah yang belum terjadi. Serta, tidak perlu merasa takut jika cobaan itu datang. Yang jelas, semua ujian dan cobaan yang kita alami, adalah sepenuhnya untuk diri kita sendiri. Seberapa besar ujian dan cobaan yang datang, maka akan semakin besar pula hikmahnya yang akan kita raih.

    Dengan begitu, maka orang tersebut akan semakin menjadi orang yang arif bijaksana. Dan orang-orang seperti inilah yang pantas dijadikan sebagai pemimpin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar