Partner | KAENDRA Tour & MICE

Rabu, 04 Desember 2013

SEBUAH IRONI




 Sebagai manusia, kita tidak hanya bisa mencipta, tetapi juga bisa mengendalikan apa yang diciptakan.
Kita kendati bukan yang mencipta, tentu bisa mengendalikan kendaraan. Baik itu motor, mobil, pesawat terbang, kapal induk dan lain-lain. Bahkan manusia juga mampu mengendalikan pesawat hanya dengan monitor.

Yang menjadi bahan renungan disini adalah ssebagai berikut. :

Seluruh kendaraan hasil ciptaan manusia, bahkan bukan diri kita sendiri yang menciptakan, mengapa kita bisa mengendalikan? Apalagi kendaraan yang dikendalikan itu adanya diluar raga.

Lalu apakah bedanya dengan nafsu ? Bukankah nafsu itu juga merupakan kendaraan asli, dalam artian; yang menjadi stimulus didalam pencapaian semua yang menjadi kehendak manusia. Disamping itu, nafsu berada didalam diri manusia itu sendiri.

Namun pada kenyataannya, tidak seluruh orang diantara kita yang mampu mengendalikan nafsunya. Bahkan lebih pandai mengendalikan kendaraan yang ada diluar raganya.

Betapa ironis sekali. Semestinya, seluruh nafsu yang ada didalam diri manusia, apalagi menyatu dengan dirinya, akan lebih mudah dikendalikan. Lantaran, perkembangan nafsu itu, diri kita sendiri yang menciptakan. Sejak kita beranjak dewasa, nafsu itu tumbuh kembang, sesuai dengan kehendak kita yang menciptakan.

Semua itu terjadi, karena kita tidak menyadari akan adanya keseimbangan antara kehendak jiwa, dengan tenaga atau energi, yang dibutuhkan oleh nafsu itu sendiri. Jika ketidak seimbangan itu semakin banyak, tentu akan mempengaruhi juga, terhadap kemampuan kita untuk mengendalikan. Sehingg,a akan berakibat fatal pada kita selaku pengemudi. Dan yang pasti, akan menyebabkan kerusakan, pada nafsu sebagai kendaraan kita setiap harinya.

Jika kita mengalami demikian, dimana kendaraan nafsu mengalami kerusakan, satu-satunya jalan, bawalah ke bengkel nafsu.

Apa bengkel nafsu? Jawabnya adalah " hati".

Bagaimana cara hati bisa memperbaiki? Hati tidak mengenal cara. Tetapi, sebagai tanda; bahwa hati akan memperbaiki, yaitu jika kita merasa terharu, terhadap sesuatu hal yang ditangkap oleh panca indra, sehingga kemudian indra keenam, memerintahkan jiwa untuk berbuat.

Jika setelah berbuat, keterharuan semakin keras dan bergetar lebih hebat, maka sesungguhnya sejak saat itu hati sebagai bengkel telah bekerja untuk membetulkan kendaraan nafsu yang rusak.

Sementara kita selaku pengemudi, harus sabar lewat prihatin, dan menjalalankan skala prioritas terhadap apa yang dibutuhkan. Dan tidak harus menggunakan kendaraan sendiri. Sampai nanti kendaraan nafsunya selesai diperbaiki.

Saran : buatlah perasaan kita untuk terharu. Carilah situasi yang membuat kita terharu sehingga dengan keterharuan kita akan berbuat sesuatu.
Sebaliknya hindarkan keadaan yang membuat kita kecewa, marah, susah dll.

Semoga bermanfaat, khususnya bagi seseorang yang kendaraan nafsunya sedang berada di bengkel.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar