Partner | KAENDRA Tour & MICE

Selasa, 06 Mei 2014

SEMIOTIKA : DIBALIK KASUS IQBAL DIBELANTARA JAKARTA.



Hampir semua diantara kita telah mendengar sibocah balita umur 3, 5 tahun diculik, dan dipaksa untuk mengamen. Serta disiksa oleh pacar ibu kandungnya, yang sekarang menghilang. Tangannya patah, banyak luka, termasuk alat vitalnya, disundut rokok, dan lainnya. Banyak perasaan berkecamuk diantara kita. Dan mungkin banyak pula yang menjadi pahlawan, termasuk yang menjadi pahlawan kesiangan.

Mengapa ini baru mencuat setelah kasus ini bergulir? Dimana para tetangga yang selama ini rumahnya berdekatan? Sebab tidak mungkin Iqbal jatuh dari langit langsung disiksa.
Sementara orang-orang yang katanya dewasa, pintar, cerdas, dan para agamawan yang katanya beriman pada Tuhan, para wakil rakyat, seolah tak perduli. Semua itu adalah merupakan  semiotika dari alam semesta.


Apa maksud semiotika diatas? Bagi saya ini menunjukkan bahwa: 1.Sebagian masyarakat telah tidak lagi perduli terhadap apa yang namanya hidup bermasyarakat, saling tenggang rasa, kesantunan. Semua telah sirna. Semua hanya berpikir untuk dirinya sendiri, termasuk orang tua dari anak. Manusia adalah serigala bagi yang lainnya. Mereka lebih banyak bertuhan kepada materi. 2. Yang dimaksud kebaikan, adalah jika hal itu ada keuntungan pada dirinya sendiri, siapa yang kuasa itulah yang menang. Tidak perduli apakah hal itu harus mengorbankan orang lain, termasuk anak kecil yang tidak tahu apa-apa. 3. Semua orang yang melihat dan mendengar kisah Iqbal, apakah itu seorang perampok, koruptor, penjahat, semuanya ikut merasa terharu. Terlebih lagi bagi yang memang sudah baik, ikut menangis. Bahkan mencaci maki pada pelakunya agar dihukum berat. Padahal intinya bukan disitu. Melainkan hikmah apa yang dapat kita ambil dari kasus itu?

Jawabnya adalah cuma satu, yakni  sebuah hati yang masih tersisa.  Dengan dimunculkan kasus tersebut, sesungguhnya Tuhan ingin menunjukkan bahwa kita sebagai bangsa masih memiliki "hati". Dan ini sekaligus juga merupakan petunjuj bagi para laki-laki dan perempuan yang hendak menikah, jangan berpikir hanya untuk kebahagiaan kita saja. Tetapi, pikirkanlah anak-anak yang akan dilahirkan. Sanggup apa tidak untuk menerima amanat membesarkan mereka. Jangan hanya karena menuruti cinta, tetapi anak yang tidak tahu apa-apa lantas dikorbankan. Dan jangan pula  berlindung dibalik agama apapun bahwa perkawinan itu adalah sunnah dan lainnya.
Sebab bagi saya, perkawinan juga bisa merupakan sebuah petaka yang amat sangat besar, serta akan menyusahkan orang lain jika tidak didasari dengan cinta kasih. Disamping itu jika perkawinan tanpa didasari cinta kasih, akan percuma saja walaupun memiliki kekayaan yang tak terhingga. Namun jika dilambari dengan cinta kasih, walaupun semula tidak memiliki harta, maka mereka juga akan tercukupi harta dengan sendirinya. Mengapa? Karena  cinta kasih adalah satu-satunya getaran perekat, untuk mempersatukan kedua belah hati yang tersisa.

Semiotika selanjutnya: adalah untuk seluruh calon pemimpin, bahwa siapapun yang akan memimpin negri ini, pimpinlah dengan hati nurani. Rakyat tidak butuh kata, tetapi fakta. Dan dalam memimpin memakai hati, tidak membutuhkan cara. Sebab jika masih memakai cara, itu bukan "hati" tetapi adalah pencitraan untuk mendapatkan pengakuan. Yang akhirnya untuk kekuasaan, dan keleluasaan, bagi dirinya sendiri, bersama seluruh kerabatnya, untuk membentuk dinasti keluarga baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar