Ketika kita membaca berita tentang kegagalan pengumuman menteri di tanjung periuk pada 2 hari yang lalu, banyak orang yang menghujat, dan menyalahkan presiden kita. Atau bahkan satu sama lain saling menyalahkan.
Hal itu terjadi karena hampir mayoritas orang memang senantiasa untuk menilai. Padahal jika dicermati itu merupakan semiotika dari alam semesta yang tidak kita sadari. Semua tidak akan terjadi jika tidak ada kehendak Tuhan yang sering disebut takdir. Namun demikian, dibalik takdir itu sendiri sebenarnya ada petunjuk bagi kita bangsa indonesia. Khususnya bagi saya sendiri. Apa semiotika yang saya dapatkan?
Kita selama ini sering membuat suatu perencanaan yang belum matang, sudah memutuskan untuk dilaksanakan, hanya karena ingin mendapatkan suatu pengakuan dari orang lain. Akhirnya banyak sekali perbuatan kita yang sia-sia serta tidak menghasilkan apa-apa. Alih-alih ingin mendapatkan pengakuan, yang terjadi justru kita mendapat celaan, cacian, serta yang bisa berimbas pada kerugian terhadap orang lain. Belum lagi ongkos untuk mendapat pengakuan itu, makanan yang telah dipersiapkan terpaksa harus dibuang. Padahal disekeliling kita masih banyak orang-orang yang membutuhkan.
Dengan adanya peristiwa diatas, semakin membuka mata batin, bahwa kita sendiri selama ini banyak melakukan hal yang serupa. Disaat pesan makanan direstourant ternyata tidak bisa habis dimakan yang akhirnya harus dibuang ke keranjang sampah. Disaat kita mengadakan pesta, banyak sekali orang yang diundang, dan banyak sekali persiapan yang dilakukan, termasuk makanan yang disediakan. Ujung-ujungnya masih banyak yang tersisa. Sedangkan beaya yang dikeluarkan bisa mencapai ratusan juta bahkan milyard hanya dihabiskan dalam waktu tidak sampai sehari.
Kembali pada peristiwa di tanjung periuk, seandainya tidak gagal tentu tidak akan mendapat celaan dan membuat banyak orang kecewa. Namun bagi saya, apa bedanya gagal atau tidak? Sebab semuanya sama-sama mengeluarkan beaya yang tidak sedikit, terlepas ada atau tidaknya orang yang bertanggung jawab.
Oleh karena itu, dengan adanya peristiwa tanjung periuk, kita bisa menjadikan pelajaran agar kedepannya, kita jangan sekali-kali merencanakan sesuatu jika tidak dapat dilaksanakan. Apalagi jika harus melibatkan orang lain, yang sedikit banyak, tentu akan merugikan dan menyusahkan.
Jika didalam menuruti apa yang kita inginkan harus menyusahkan atau merugikan orang lain, lambat laun kitapun juga akan mengalami hal yang sama. Jika kita mendapatkan suatu kebahagiaan, mestinya kita harus membahagiakan orang lain. Bukan malah sebaliknya, orang lain disuruh ikut-ikutan membuat kita semakin bahagia.
Dan jika itu dilakukan, cepat atau lambat akan menjadi bumerang pada diri sendiri. Yang semula bahagia akan berubah menjadi nestapa. Yang semula berniat mencukupi apa yang menjadi keinginan, malah kebutuhan yang sudah kita dapatkan, akan ikut hilang lantaran apa yang dikata tidak sesuai dengan apa yang dilaksanakan. Yang semula mengharapkan rhapsody, yang terjadi justru elegi.
Semoga menjadikan bahan renungan bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar