Partner | KAENDRA Tour & MICE

Selasa, 28 Oktober 2014

KABINET ANTITESA



Sebegitu kabinet kerja diumumkan oleh presiden, banyak orang yang mencemooh, tersenyum sinis, bahkan ada yang menganggap bahwa presiden tidak memilih orang yang tepat dan mampu, apalagi ada seorang menteri yang hanya berpendidikan SMP.

Mereka para pengamat lupa, bahwa pemilihan susunan kabinet saat ini amat berbeda dengan yang sudah-sudah. Dan mereka tidak tahu bahwa presiden yang sekarang ini justru ingin mengubah pola pikir seluruh masyarakat yakni dengan revolusi mental. Selama ini seringkali kita terkagum-kagum pada orang yang punya titel banyak, yang pandai berbicara, dan pandai menjadi macan kertas. Tetapi didalam pelaksanaannya seringkali jauh panggang dari api.


Jadi, kalau kita ingin maju, sudah bukan waktunya lagi terlalu banyak berhipotesa dan beranalisa, sebab kita sudah ketinggalan jauh dengan negara-negara lain. Dan satu-satunya cara untuk mengejar ketertinggalan itu adalah lewat revolusi mental. Dan penunjukan susunan kabinet kerja tersebut, itu menggambarkan bahwa mereka bukan dilihat dari pendidikannya, cara berpikirnya dan lain-lain. Akan tetapi dilihat dari hasil akhir yang telah dicapainya selama ini. Itu jauh lebih baik, dibandingkan memilih orang-orang yang pandai bicara di media, pandai berteori, serta pandai menilai orang lain. Dan ironisnya yang dinilai dan dihina, jauh lebih berhasil dibanding dirinya sendiri. Bagaikan bumi dan langit. Mengapa?

Seseorang yang sudah terbiasa menggunakan hipotesa didalam berencana dan bekerja, sampai kiamat tidak akan pernah mampu membaca apalagi menilai orang yang menggunakan antitesa didalam menggapai apa yang menjadi tujuan. Sebaliknya, justru orang yang terbiasa menggunakan antitesa, akan sangat mudah untuk membaca hasil akhir dari apa yang dilakukan oleh orang yang menggunakan hipotesa

Logikanya, bagaimana mungkin seseorang yang selalu membaca dan menilai orang lain yang menggunakan antitesa akan mampu dan berhasil, sementara untuk dirinya sendiri tidak pernah dilakukan. Dan seorang antitesa, tidak melihat proses bagaimana sesuatu pekerjaan akan dihasilkan. Melainkan langsung menuju pada hasil akhir yang telah dan hendak dicapai. Jadi tidak akan perduli terhadap berlembar-lembar terhadap diploma yang telah disandangnya. 

Sedangkan seorang yang ahli hipotesa akan terlalu lama untuk mencapai tujuan akhir. Sebab semua apa yang dihasilkan hanya sebatas kertas hitungan, yang seringkali hasil akhirnya juga hanya didalam kertas seperti halnya multilevel marketing belaka. Dan seorang yang terbiasa berhipotesa ada kecenderungan untuk hipokrit

Terbukti pembangunan yang ada selama ini, masih jauh dari harapan. Dan inilah yang justru ingin dipotong kompas oleh presiden yang sekarang. Dengan terobosan yang dilakukan, memperbanyak unsur perempuan dijajaran kabinetnya. Berarti revolusi mental telah mulai dilakukan lewat kabinetnya, yakni Kabinet kerja yang bagi saya merupakan Kabinet antitesa.

Dan hal ini sudah ditunjukkan oleh alam semesta yakni dengan meninggalnya seorang anak perempuan yang bernama #Gayatri yang menguasai 14 bahasa asing. Dimana saat berumur 6 tahun sudah menguasai beberapa bahasa. 

Semoga negara kita makin jaya "yales viva jayamahe"Kinet

Tidak ada komentar:

Posting Komentar