Ketika dirimu tersesat ditengah hutan belantara yang gelap dan pekat, Secara naluri tentu akan membuat api, ketika letih tidak menemukan jalan untuk pulang. Apa yang dibutuhkan? Adalah untuk mendapatkan cahaya agar meringankan kegelapan dan kesesatan tidak menemukan jalan.
Ketika dilihat orang lain yang juga sama-sama tersesat, akan merupakan kebahagiaan melihat ada cahaya dari kejauhan. Dan itu berarti, juga ada kehidupan sebagai teman didalam ketersesatan. Didalam kegelapan, tentu akan semakin membutuhkan banyak teman agar diri semakin tenang.
Semakin banyak orang yang tersesat jalan, akan semakin banyak membutuhkan cahaya. Dan akan semakin banyak pula membutuhkan bahan bakar, agar api yang diciptakan tidak padam. Mengapa? Karena didalam kegelapan orang itu akan membuat pandangan jadi buta, selain kepekatan itu sendiri yang nampak didepan sudut pandang.
Jika kegelapan didalam ketersesatan itu semakin lama, tentu akan semakin membuat pikiran menjadi semakin ketakutan, dan semakin banyak bahan bakar untuk menciptakan api. Yang kemudian, akan mengarah pada kegilaan untuk membakar hutan kegelapan, agar menjadi terang benderang untuk mencari jalan pulang. Akhirnya dirinya beserta kelompoknya ikut terbakar menjadi arang.
Begitu pula terhadap mereka yang berbuat keonaran didalam kehidupan ini. Sebenarnya juga tidak lepas dari ketersesatan didalam mencari jalan.
Mestinya disaat tersesat, janganlah diam, melainkan ciptakan dian sambil berjalan. Sebab dengan diam, cepat atau lambat akan didatangi orang-orang yang juga tersesat seperti dirimu. Sehingga, jika telah menjadi kumpulan orang yang sama-sama tersesat, akan lupa tujuan awal untuk mencari jalan pulang. Lantas akan menciptakan komunitas ditengah kesesatan itu sendiri. Sedang mereka yang berada diluar komunitas itu dianggapnya yang tersesat jalan.
Semua orang memang butuh cahaya, tetapi cahaya tidak akan mungkin ada tanpa adanya api. Dan api juga tidak mungkin bisa tercipta tanpa sumber api abadi.
Jadi, jika dirimu telah bisa menciptakan api, biarlah cahayanya akan menerangi jalan untukmu, dan segala apa yang ada disekitarmu. Serta janganlah berpikir, siapa yang pantas mendapatkan cahaya dari api yang kau miliki. Dan dirimu, tetaplah mencari sumber api abadi didalam diri. Sehingga akan tertemukan api yang memancarkan api, dan bukan memikirkan api yang memancarkan cahaya. Sebab, jika dirimu selalu berpikir untuk memancarkan cahaya, maka dirimu akan selalu menjadi api untuk membakar diri sendiri. Bahkan juga akan membakar orang-orang lain untuk dijadikan bahan pembakar yang sama.
Dan jika sudah demikian, bagaimana mungkin akan bertemu api yang memancarkan api, jika akhirnya dirimu yang menjadi sumber api, tetapi tidak mendapatkan manfaat apapun bagimu, selain orang lain yang memanfaatkan dirimu.
Itulah sesungguhnya gambaran bahwa dirimu telah menjadi setan, yang membangkang dari kodrat asalmu yang semula sebagai insan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar