Partner | KAENDRA Tour & MICE

Selasa, 25 November 2014

ANTARA ILMU DAN AGAMA



Janganlah sekali-kali kau ajarkan agama itu kepada orang lain. Terlebih lagi, jika dirimu belum mengerti makna dari agama itu sendiri. Sebab, agama itu untuk dipeluk dan bukan untuk diajarkan. Orang lain akan tahu apakah dirimu telah memeluk agama atau tidak, bukan lewat ucapan ataupun ungkapan bahasa. Melainkan, dari makna  apa yang kau perbuat, dan kau rasakan, minimal untuk dan bagi dirimu sendiri. 


Semakin dalam dirimu memeluk agama, maka akan semakin dalam pula agama yang merasuk kedalam dirimu. Yang nantinya, lambat laun akan pula dirasakan oleh orang lain, bahwa dirimu telah memeluk agama. Sehingga orang-orang yang berdekatan denganmu akan merasakan pula keindahan dan kedamaian yang kau pancarkan, lewat penyatuan antara agama dan dirimu.


Dan ketidak berhasilan dirimu didalam memeluk agama, lantaran kau ubah agama itu menjadi suatu ajaran. Padahal segala sesuatu yang diajarkan akan menghasilkan pengetahuan. Dan dari pengetahuan akan menghasilkan ilmu, yang semakin lama akan semakin berkembang untuk mempengaruhi otak dan pikiranmu. Sehingga akhirnya, yang kau dapatkan adalah ilmu itu sendiri, yang berasal dari orang lain, dan bukan berasal dari dirimu sendiri. Dan sebagaimana watak ilmu, engkau hanya semakin mahir didalam berpikir dan berkata, tanpa bisa merasakan apa yang kau pikirkan. Mengapa? 

Karena, agama itu bisanya berkembang, hanyalah lewat rasa untuk kau rasakan. Semakin dalam rasa itu menyelimuti dirimu, maka akan semakin dalam pula agama itu memeluk dirimu. Sehingga suatu saat, dirimu tak akan pernah bisa lagi membedakan; mana yang agama, dan yang mana dirimu. Sebab, semua telah bersiluluh, serta menyatu didalam kekosongan, antara zat dan Dzat. Antara yang mencipta dan yang dicipta. Antara kosong dan isi. Yang nampak, hanyalah cahaya kebenaran mengikuti garis edar mentari, atau bahkan bersama dengan sumber cahaya itu sendiri menuju keabadian yang hakiki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar