Selama ini, banyak orang yang salah tafsir tentang makna hakiki didalam pernikahan. Sehingga yang sering kita temukan, justru layu sebelum berkembang, dan banyak yang berantakan hubungan pernikahannya. Mengapa? Karena didalam pernikahannya, yang ditiru adalah pernikahan orang lain. Yang hanya nampak secara kulit lahiriah saja. Entah dari apa yang dilihat dan dibaca, atau yang didengar tentang orang lain yang bahagia, kemudian dijadikan cerita serta rujukan untuk diriru. Akibatnya seperti robot yang tidak sesuai dengan cita-cita awal kenapa dia harus menikah. Apalagi yang ditiru adalah pernikahan orang yang sudah meninggal dunia, dan kita malahan belum pernah kenal dengan orang itu. Yang diketahui, hanya seputar kisah tentang orang itu yang amat romantis dan melegenda.
Baru-baru ini, ada yang bertanya pada saya tentang; apa hakekat pernikahan? Saya balik bertanya, siapa yang akan menikah? Dia menjawab ; bahwa dirinya yang akan menikah. Saya menukasnya : lho kenapa koq tanya pada saya? Akhirnya saya jelaskan. Bahwa siapapun yang akan melaksanakan pernikahan itu, maka dia pula yang harus menjawab ; apa hakekat pernikahan bagi dirinya, juga bagi pasangannya. Kemudian melaksanakan sesuai dengan jawaban yang mereka berikan sendiri. Adakah ketarpaduan jawaban diantara keduanya itu.
Dan bukan bertanya pada orang lain, atau mencontoh orang lain, betapapun hebatnya orang tersebut. Sebab yang ditanyakan itu adalah masalah keterpaduan rasa diantara pasangan tersebut, dan bukan masalah ilmu atau masalah lahiriah.
Selama ini, yang terjadi tidak pernah dijadikan patron tentang apa hakekat pernikahannya, selain hanya lantaran hubungan cinta belaka. Semestinya, karena sudah bicara pernikahan, harus juga dibicarakan apa hakekat pernikahan itu bagi masing-masing. Kemudian nantinya untuk dijalani bersama-sama sesuai dengan hakekat yang telah dipadukan. Jangan sampai yang satu keutara, dan yang satunya keselatan. Akhirnya tidak bisa maching.
Perlu diketahui, bahwa pernikahan itu adalah untuk mempermudah didalam mencapai tujuan serta untuk bisa saling terlindungi. Yang semula jalan sendiri, akhirnya bisa bersama. Yang semula separuh hati, menjadi hati yang utuh. Yang disaat berjauhan bisa menimbulkan getaran, disaat menyatu akan memancarkan cahaya.
Tetapi jika yang dicontoh adalah orang lain, apakah mungkin? Sebab masing-masing rasa berbeda, sifat dan wataknyapun juga berbeda. Sehingga sikap dan perilaku akan berbeda, apalagi jaman dan peradabannyapun juga berbeda.
Jika yang dimindset copy paste seperti itu, tentu akan muncul pertentangan didalam diri, karena adanya pemaksaan kehendak antara yang satu dan yang lain. Akibatnya rumah tangganya akan hancur berantakan, atau bahkan sudah kandas sebelum duduk dipelamiman. Hal itu terjadi lantaran tiadanya kesadaran yang.muncul seperti halnya skripsi yang dibuatkan orang lain.
Dan perlu diingat, bahwa pernikahan bukanlah merupakan suatu tali ikatan lahir maupun batin. Yang kemudian diikat dengan selembar buku nikah. Melainkan, pernikahan adalah merupakan penyatuan diri yang saling isi mengisi bagaikan 2 benda yang memiliki elektro magnetik yang sama. Sehingga akan kokoh tanpa diikat, serta akan menjadi satu kesatuan menjadi 1 diri manusia seutuhnya, menjadi 1 nama dan 1 sifat baru; yakni sifat gabungan yang tercermin dalam sebuah nama #tuan_dan_nyonya. Khususnya, didalam mewakili Tuhan alam semesta untuk mewujudkan kebesaranNYA dari maya berupa rencana, menjadi nyata berupa karya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar