Sesungguhnya, seseorang tidak akan bisa mengubah keadaan apabila dia terhanyut akan keadaan itu sendiri. Sebab keadaan yang terjadi kepada dirimu adalah semata-mata untuk disikapi terhadap apapun rasa yang dialami. Jika diri kita salah mensikapinya, maka semuanya akan salah.
Mari kita renungkan bersama. Jika kita sombong, tuhan akan sombong, jika kita susah, tuhan akan susah. Jika kita stress, tuhan juga akan stress. Jika diri kita suka menolong, tuhan akan menolong. Jika kita memberi, maka tuhanpun juga akan memberi. Jika kita berpikir, tuhan juga akan berpikir. Dan segala apa yang menjadi sikap kita, maka begitu pula sifat tuhan maka merasuk kedalam sikap kita didalam menghadapi suatu masalah apapun. Mengapa?
Karena kita merupakan satu kesatuan dengan dzat tuhan yang ada didalam diri kita masing-masing. Dan agar tidak salah tafsir ; maka sebutan dzat disini sengaja saya tulis tidak dengan huruf kapital TUHAN, tetapi dengan huruf kecil yakni tuhan.
Dengan adanya kita merupakan satu kesatuan, tidak salah kiranya jika dikatakan bahwa "aku adalah apa kata hambaku". Dalam artian apa yang terjadi, tidak terlepas dari apa yang kita sikapi sendiri didalam menghadapi suatu keadaan. Jadi semestinya jika kita memang menghendaki suatu perubahan terhadap suatu keadaan yang tidak dikehendaki, maka jangan sampai salah didalam mensikapi rasa tersebut. Jika kita dihadapkan pada suatu kesulitan, berpikirlah untuk mengatasi kesulitan agar tuhanpun berpikir. Jika kita ingin dipermudah dalam suatu tindakan. Berbuatlah kemudahan untuk orang lain agar tuhanpun juga akan mempermudah diri kita. Begitu seterusnya.
Intinya : suatu rasa yang datang pada diri kita dari luar raga, adalah untuk disikapi dengan keadaan seperti apa yang harus kita imbangi. Sebab, rasa yang kita munculkan dari dalam diri itulah yang akan memberikan dorongan energi tuhan untuk mengatasi keadaan awal yang sedang kita alami.
Sehingga amat logis sekali bahwa segala kesusahan dan penderitaan itu datangnya dari sendiri. Dalam hal apa? Adalah dalam hal memilih keadaan sikap diri yang salah untuk diterapkan. Bagaimana mungkin tuhan yang maha susah akan menolong orang yang susah? Mengapa koq tuhan maha susah? Karena kita memang memunculkan rasa susah.
Oleh karena itu agar didalam memilih keadaan untuk disikapi hendaknya jangan sekali-kali terhanyut akan keadaan rasa, sehingga kita akan selalu sadar. Khususnya didalam berpikir memilih sikap untuk dirasakan, kemudian dijalankan sesuai dengan apa yang diharapkan, sehingga masalah itupun akan teratasi dengan sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar