Partner | KAENDRA Tour & MICE

Selasa, 10 Februari 2015

SEMIOTIKA SETITIK API


Jika ada setitik api dari luar ragamu, bisa kau pergunakan untuk membakar hutan, seharusnya setetes embun yang kamu temui bisa kau pakai untuk menciptakan air bah.

Begitu pula semilirnya pawana, semestinya bisa kau ciptakan menjadi badai. Dan sejumput tanah tentunya juga bisa menimbun sejumlah bangunan yang megah.


Tetapi didalam kenyataan nya, mengapa hanya setitik api saja yang bisa kau pakai untuk membakar segalanya? Sementara ketiga unsur lainnya tidak mampu kau ciptakan menjadi badai dan air bah, ataupun menimbun bangunan yang ada. Melainkan hanya hilang begitu saja.

Sesungguhnya, segala hal yang ada didalam dirimu dan senantiasa mengalir sepanjang hidupmu, hanya diperuntukkan bagimu. Dan dirimu lebih membutuhkan ketiga unsur itu agar tetap bersemayam didalam dirimu secara langsung dan berkesinambungan.

 Dan disamping itu adalah untuk keseimbangan bagimu, dimana unsur api adalah untuk menunjang #hidupmu. Sedangkan 3 unsur yang lain adalah untuk menunjang #kehidupanmu. Sementara #jiwamu adalah sebagai #pengendali antara apa yang ada diluar, dengan apa yang ada didalam. Antara kebutuhan batini, dan kebutuhan ragawi.

Jika hanya dengan ketiga unsur itu saja dirimu sering tidak mampu untuk mengatasi masalahmu didunia, apalagi jika setitik api itu juga bersemayam dalam dirimu. Sudah barang tentu kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa. Tanpa api itu dirimu sudah sering terbakar karena amarah dan membinasakan antar sesama. Apalagi jika dirimu dilengkapi dengan api itu sendiri. Yang tentu dunia inipun tidak akan pernah ada. 

Oleh karena itu dengan adanya 3 unsur yang ada di dua tempat yakni didalam dan diluar ragamu, semestinya akan bisa membuatmu untuk menciptakan segalanya sesuai apa yang kamu butuhkan. Namun ternyata tidak banyak yang bisa menguak rahasia tentang semiotikanya. Selain hanya setitik api yang selalu menimbulkan petaka tanpa makna.

Masihkah semiotika tentang setitik api ini tidak bisa membuka penalaranmu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar