Jika dirimu ingin melangkah kemudian memikirkan apa yang ingin dilakukan, jangan keburu untuk melangkah. Tetapi hendaklah dirimu juga melibatkan rasa, untuk merasakan apa yang akan kau perbuat. Baik hal itu menyangkut segala hal yang ada kaitannya dengan empiris maupun non empiris. Sebab dengan melibatkan rasa, dirimu akan merasakan bahwa apa yang akan kau lakukan itu menuju pada sasaran ataukah tidak. Apalagi, jika apa yang kau pikirkan itu berawal dari luar ragamu.
Dengan begitu, segala sesuatu yang dari luar dan bersifat materi, tidak hanya sekedar untuk panca indramu belaka, lantas kau putuskan sendiri dengan hanya melibatkan akalmu belaka. Sebab belum tentu apa yang pernah kau alami sebelumnya, juga akan sama hasil akhir yang akan kau dapatkan. Namun jika dirimu melibatkan perasaanmu, tentu akan muncul gelombang getaran dari apa yang sedang kau pikirkan. Sebegitu ada keterpaduan antara perasaan dan pikiran, akan memunculkan suatu keyakinan agar dirimu segera melangkah untuk mengambil suatu tindakan. Serta jangan menunda-nunda waktu, sebab keterpaduan yang muncul akan kembali hilang saat momentumnya telah kau langgar. Dan tanda-tanda munculnya momentum itu jika telah muncul detak untuk segera melangkah. Seperti halnya disaat dirimu menembak burung, bukankah disaat membidik kemudian ada detak untuk melesat kan peluru? Jika detak itu terlewati, maka tembakanmu tidak akan mengenai sasaran.
Oleh karena itu, jika yang muncul adalah keraguan, antara perasaan dan pikiran, hentikanlah untuk sementara waktu. Sebab hal itu menunjukkan belum ada keseimbangan guna menghasilkan sepasang kekuatan, yang menyatu menjadi suatu tindakan untuk menggapai hasil akhir.
Kegagalan dan keberhasilan seseorang tidak akan terlepas dari keterpaduan antara pikiran dan perasaan. Dan jika keberhasilan itu didominasi oleh pikiran, hanya akan menghasilkan kenyataan yang hanya "bermakna tetapi tidak berjiwa".
Jika keberhasilan hanya didominasi oleh perasaan, akan menghasilkan kenyataan yang "berjiwa tapi tidak bermakna".
Dan jika memadukan antara keduanya, yakni pikiran dan perasaan, maka itulah yang sempurna, dan itulah yang disebut telah mencapai kesetaraan dan keseimbangan, antara : jiwa, dan roh; serta akal, dan nafsumu. Lantaran yang kau dapatkan adalah; hasil akhir "yang berjiwa dan bermakna", menuju hikmah yang terdalam. Yakni; kesadaran tentang menyatunya sifat dan dzat kedalam dirimu, untuk menjadi manusia seutuhnya, yang senantiasa terkembang, sesuai perkembangan alam itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar