Partner | KAENDRA Tour & MICE

Senin, 02 Februari 2015

SUSAH DAN BAHAGIA ITU PASTI SEIMBANG



Ada seseorang yang bertanya; kenapa lebih banyak susahnya dibanding bahagianya? Lalu saya balik bertanya; bahwa yang benar itu seperti apa? Dia menjawab; bahwa yang benar adalah yang seimbang. Saya kejar lagi dengan pertanyaan ukuran seimbang itu seperti apa, dan siapa yang menentukan seimbang dan tidaknya? Dia dengan tangkas menjawab; bahwa yang menentukan adalah dirinya sendiri. 


Saya tidak bertanya lagi tetapi dalam hati ketawa terpingkal-pingkal..Mengapa? Baiklah, untuk mengetahui jawabannya mari kita merenungkan bersama.

Apa mungkin seseorang bisa merasakan bahagia jika belum pernah susah, begitu pula sebaliknya. Dan benarkah tidak seimbang antara kesusahan yang dialami dengan kebahagiaan yang dirasakannya?

Menurut saya; Jika seseorang merasa bahagia disaat siang hari, tentu akan merasakan bahwa malam hari terasa begitu lama. Begitu pula jika seseorang habitatnya pada malam hari, maka malam hari itu begitu terasa singkat sekali dibandingkan siang.

 Mengapa demikian? Karena adanya unsur keterikatan dirinya terhadap apa yang disukai dan yang tidak disukai. Sama halnya ketika kita datang kerumah seseorang yang dicintai, waktu yang lama terasa begitu singkat. Begitu pula, jika kita kedatangan seseorang yang tidak kita sukai atau kita benci, terasa begitu lama perginya, walaupun waktu datang dan perginya begitu singkat. Bahkan rasanya kita ingin sekali untuk mengusirnya.

 Padahal jika kita berbicara waktu, semuanya akan sama, tidak ada perbedaan, sepanjang ukurannya adalah jam itu sendiri.

Begitu pula tentang kesusahan dan kebahagiaan yang dirasakan, juga akan sama, seperti halnya waktu malam dan siang yang berputar sesuai dengan garis edarnya.

Siapakah yang menentukan keseimbangan itu? 

Jika seseorang bilang bahwa yang menentukan keseimbangan antara susah dan bahagia itu adalah dirinya sendiri, lantas dari mana tahu tentang ukuran seimbang dan tidaknya? Karena yang menjadi dasar itu adalah masalah rasa, yang tidak mengenal ukuran waktu, dan merupakan unsur empirik. Sedangkan rasa adalah non empirik.

Kemudian, jika yang menentukan pilihan seimbang itu adalah diri kita sendiri, bisakah kita mengubah waktu malam atau waktu siang sesuai dengan kehendak sendiri? Bisakah kita menginginkan waktu malam hanya 3 atau 5 jam? Begitu pula sebaliknya.

Unsur keseimbangan itu bukan diri kita yang mengatur, tetapi keadaan dimana kita tinggal, seberapa besar volume rasa yang telah terkumpul didalam diri yang kemudian dialami. Sebegitu volume rasa yang dialami sudah sesuai dengan ukurannya pasti tanpa diminta akan berubah dengan sendirinya.

Oleh karena itu, tugas kita hanyalah sekedar mensyukuri belaka apapun yang dialami, tanpa harus mengadakan perlawanan atau menentang arus. Semakin besar arus itu dilawan, justru akan semakin besar pula energi rasa yang akan dialami. Jika kesusahan dilawan akan membuat stress dan putus asa. Sedangkan jika kebahagiaan yang dilawan serta merasa kurang, akan menimbulkan keserakahan dan kesombongan.

Oleh karena itu, jika dirimu mendapatkan kebahagiaan, perbanyak rasa syukur tidak lewat sebatas kata. Dengan begitu akan menjadikan filter bagimu didalam menjauhkan sifat serakah dan sombong. 

Sebaliknya, jika dirimu sedang ditimpa kemalangan atau kesusahan, perbanyak rasa prihatin. Sehingga dengan demikian, dirimu telah memiliki tabungan energi dari hasil kebahagiaan yang kamu saring. Serta anti energi yang juga kamu saring dari keprihatinanmu saat dirimu menderita.

Sehingga jika hal ini secara berkesinambungan dilakukan, akan banyak tertanam pasangan energi yang kamu dapatkan. Kemudian yang akan dapat terpakai untuk keseimbangan volume rasa yang dibutuhkan.

Intinya : susah dan senang itu pasti seimbang, bukan menurut dirimu sendiri. Melainkan menurut alam besar diluar ragamu, seperti halnya putaran bumi dan planet serta matahari didalam susunan tata surya yang akan memberikan manfaat bagi orang-orang yang berpikir. Jika tidak seimbang, hal itu lantaran perasaanmu saja yang terikat sehingga tidak tahu terhadap pergerakan atau perubahan, bahkan termasuk terhadap dirimu sendiri. Selain orang lain yang melihatmu, bahwa dirimu telah berubah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar