Partner | KAENDRA Tour & MICE

Jumat, 30 Januari 2015

JANGAN BERLINDUNG DIBALIK AYAT



Sering kita melihat dan mendengar bahwa ketika seseorang melakukan suatu perbuatan baik negatif maupun positif selalu dikaitkan dengan ayat. Terutama jika telah berbuat kesalahan, selalu saja ayat yang dijadikan senjata didalam memback up perbuatannya itu. Baik yang memberi nasehat maupun yang menerima nasehat sama-sama saling melepaskan ayat, bahwa dirinya yang benar.


Ironisnya lagi; ayat-ayat yang disampaikan bukanlah produk dari dirinya sendiri, melainkan dari hasil kesepakatan bersama terhadap produk orang lain yang dijadikan rujukan. Baik ayat yang telah dikodifikasikan maupun yang tidak. Akibatnya masing-masing orang akan membuat kelompok-kelompok sendiri, didalam menafsirkan ayat-ayat yang telah dibacanya. Dengan adanya beberapa kelompok itu tentu akan saling bersilang pendapat untuk mempertahankan bahwa pendapatnya yang benar sehingga tidak jarang menimbulkan multi tafsir serta mengakibatkan pula pertikaian, perselisihan, dan bahkan mungkin akan menimbulkan hujatan dan kebencian. Khususnya terhadap seluruh ayat yang telah dikodifikasikan menjadi suatu hukum tersurat. Sementara yang masih tersirat dan belum dikodifikasikan lebih dominan untuk dipatuhi. Yakni berupa moral atau etika, serta masih bersifat pada rasa. Mengapa?

Karena apa yang menjadi bahan perdebatan itu bukanlah ayatnya sendiri, atau hasil ciptaannya sendiri, sehingga tidak tahu persis apa maksud dan tujuan dari orang yang menciptakan ayat itu. Padahal sejatinya, diciptakan ayat tersebut adalah semata-mata agar bisa menjadikan pedoman hidupnya, sikap dan prilakunya, bagi siapapun yang membacanya. 

Namun bukan berarti apa yang dibaca lantas disampaikan kembali pada orang lain, lewat kata, lewat tulisan dan lewat suara. Melainkan, seharusnya ayat itu tidak hanya sekedar dibaca dan dihafal belaka, tetapi untuk didalami, dan difahami, kemudian ditemukan tujuan makna yang terkandung didalam ayat. Setelah itu baru disikapi menjadi perilaku serta tindakan pada masing-masing orang yang mendalami. Dengan demikian lambat laun akan tercipta ayat dalam dirinya. Selanjutnya, akan menjadikan ayat-ayat baru yang telah dihasilkan dari pemahamannya sendiri.

Apakah ayat-ayat baru itu? Adalah warna sikap dan prilaku serta tindakan kita, yang kemudian diketahui orang lain, diperhatikan, serta dibacanya, serta akan menjadikan pendorong bagi orang lain untuk melakukan hal yang serupa. Atau yang sering disebut suri tauladan.

Jadi menurut hemat saya, apapun sikap dan prilaku, serta tindakan seseorang, adalah merupakan ayat-ayat nyata, yang dapat dibaca dengan jelas, dan bukan ayat-ayat hasil ciptaan orang lain, yang hanya sebatas kata atau tulisan. Betapapun ayat-ayat itu ciptaan orang lain yang termasyhur, tidak akan ada artinya, selain yang dibaca adalah ayat-ayat yang keluar tanpa kamu sadari dari dirimu, yaitu yangbberupa sikap, prilaku, dan tindakan.

Adapun jika kita senantiasa berlindung dibalik ayat orang lain, justru akan membuat semakin terikat akan sikap dan prilaku orang yang membuat ayat, serta akan menimbulkan pertikaian, perselisihan dan mungkin peperangan. Karena sesungguhnya masing-masing orang tercipta tidak secara bersama-sama, dalam alam yang berbeda, serta peradaban yang juga berbeda, termasuk faktor pendidikan serta budaya dimana dirimu berada.

Oleh karena itu carilah sumber ayat yang bertebaran dialam semesta ini, kemudian pelajari dan dalami. Setelah itu pilihlah mana yang terbaik bagimu, serta yang sekiranya bermanfaat bagi orang lain. Dan ingat ! Bukan yang bersifat kata, atau nasehat, melainkan yang bersikap perilaku dan tindakan bagimu. Serta bagi mereka, yang mendapatkan hasil renungan, dari apa yang kamu katakan, atau kamu tuliskan.

Jika dirimu masih tetap berlindung dibalik ayat orang lain, dirimu tidak akan pernah mendapatkan apa-apa. Selain hanya mendapatkan kisah atau sejarah tentang orang lain. Dan kisah atau sejarah orang lain itulah yang nantinya akan kau tafsirkan kemudian kau jual menjadi sebuah cerita.

Padahal, jika dirimu mencari kemudian dapat menciptakan ayat, serta seberapa banyak ayat yang kau temukan, maka sebanyak itu pula yang kau renungkan. Dan nantinya akan menghasilkan buah renungan. Sehingga ayat yang kau ciptakan, akan menjadi sebuah karya hasil ciptaanmu sendiri. Dan juga akan menjadikan sejarah baru. Serta menjadikan pedoman bagi generasi-generasi berikutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar