Frasa " meminta dan memberi" kelihatannya amat sepele. Tetapi hasil akhir yang didapatkan diantara keduanya tidak sepele. Bahkan bisa menimbulkan berbagai macam perasaan, baik terhadap orang yang meminta maupun pada orang yang memberi. Bisa juga menimbulkan perubahan sikap yang mendasar dari orang tersebut. Perbedaan yang jelas adalah didalam bersikap yakni meminta adalah menjadi tangan dibawah. Memberi adalah tangan diatas. Untuk lebih jelasnya akan saya uraikan sebagai berikut:
Meminta ; tidak selalu dalam hal materi, tetapi bisa juga terhadap non materi. Dan tidak hanya terbatas pada hubungan pertemanan atau persahabatan dilingkungan kita. Tetapi yang paling dominan adalah didalam hubungan keluarga, suami istri, sanak saudara dan lainnya. Khusus membahas masalah didalam rumah tangga; adanya perselisihan semuanya disebabkan lantaran adanya unsur #meminta.
Antara lain: meminta pengertian, meminta agar nasehatnya dituruti, meminta belanja, meminta diantar kesuatu tempat dan lainnya.
Dalam hal meminta; disamping menjadi tangan yang dibawah, seyogyanya harus benar-benar bisa membuktikan bahwa dirinya butuh. Dirinya lebih rendah dengan dibarengi sikap, sebagaimana sikap seorang peminta bahwa dirinya membutuhkan. Sehingga dengan demikian orang yang dimintai akan didudukkan pada derajat yang lebih tinggi darinya. Disamping itu bagi seseorang yang meminta harus penuh kejujuran. Dan dalam meminta harus melihat situasi dan kondisi, sikap prilaku, serta sifat dari orang yang akan dimintai pertolongan. Termasuk apakah orang yang dimintai itu mampu apa tidak untuk memberi. Sebab ada kalanya yang diminta juga dibutuhkan pula, sehingga akan membuat tidak enak hati.
Yang sering terjadi bukan meminta, tapi memerintah dan mengindoktrinasi.
Jika hal itu terjadi, justru bukan keinginan yang didapat, tetapi bisa membuat sakit hati, kecewa serta hal-hal lain diantara keduanya. Bahkan, bisa juga menimbulkan perselisihan yang menyebabkan putusnya sebuah hubungan.
Memberi ; disamping menjadi tangan diatas yang kedudukannya lebih mulya dibanding tangan yang dibawah, bukan lantas kita sembarangan untuk memberi. Akan tetapi, juga melihat keadaan orang yang akan diberi. Baik pemberian karena adanya suatu permintaan, maupun tanpa adanya permintaan. Namun tujuannya adalah; bahwa apa yang diberikan itu merupakan wujud tali asih. Dengan demikian akan menghindarkan diri dari rasa kesombongan, serta tepat sasaran. Dan jangan sampai lantaran pemberian, akan membuat kehancuran bagi penerima pemberian. Dan ini dibutuhkan suatu ketulusan hati, bahwa dirinya berkehendak untuk memberi, serta dengan memberi ada suatu getaran keterharuan, kebahagiaan, serta keindahan dalam dirinya. Sehingga getaran itu akan terpancar pula bagi yang menerima, dan akan senantiasa bergaung terus menerus bagi keduanya.
Dan dengan memberi, hakekatnya adalah menjalankan sifat Tuhan yang maha memberi. Sedang meminta, adalah menjalani sifat sebagai hamba. Dan jangan sekali-kali meminta pada orang yang juga akan meminta, agar tidak terjadi pertikaian antara keduanya. Terkecuali jika bisa saling memberi terhadap permintaan yang berbeda. Yakni kau memberi apa yang diminta dan dia dapat memberi apa yang kamu minta.
Selanjutnya, jika diri kita selalu menjalankan sifat untuk memberi, maka kita akan selalu mendapatkan sifat Tuhan yang maha pemurah dan penyayang. Sehingga, jika suatu ketika kita bertemu dengan mereka yang juga suka memberi, akan menjadikan suatu ikatan kasih yang erat satu sama lain. Semakin banyak orang yang bersifat memberi, yang terakumulasi menjadi satu sifat kasih yang dominant, tentu akan saling memancarkan cahaya yang amat dahsyat antara yang satu dan yang lainnya.
Bahkan akan menjadi matahari kehidupan, khususnya didalam menerangi kegelapan. Semakin sedikit orang orang yang memberi, akan semakin sedikit pula cahaya yang menyinari, dan semakin banyak pula kegelapan yang akan menghantui. Jika kegelapan semakin banyak, akan membuat masing-masing orang akan bertikai, untuk memperebutkan cahaya yang sedikit.
Tetapi jika didalam kegelapan itu ada unsur kayu atau bahan bakar, dan kamu membawa setitik api, maka kegelapan itu juga akan sirna. Tahukah apa bahan bakar dari api dalam kegelapan? Adalah mereka yang papa dan nista, mereka yang miskin, serta mereka yang teraniaya, kemudian kamu membawa apinya. Dan jangan biarkan terlambat, sampai mereka saling bergesekan satu sama lain, untuk menciptakan api sendiri, lantas membakar lingkungan termasuk dirimu. Lalu untuk apa bisa tercipta api, jika menimbulkan kebakaran? Dan siapa yang dapat memberikan cahaya, maka kesitu pula mereka akan berlabuh didalam cahayamu.
Intinya : banyaklah memberi dengan ketulusan hati, agar dirimu bisa menjadi api, serta memberikan cahaya bagi lingkunganmu. Dan ajaklah mereka untuk memperbanyak cahaya, agar mereka yang berada didalam kegelapan, tidak mencari cahaya sendiri, dengan saling menggesekan satu sama lain lewat nafsunya, hingga akhirnya mereka akan saling membakar, dan dirimu akan dijadikan bahan pembakar untuk mati bersama-sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar