Partner | KAENDRA Tour & MICE

Rabu, 18 Maret 2015

KETIKA TELINGA DAN HIDUNG BERALIH FUNGSI



Biasanya, fungsi hidung adalah untuk menangkap aroma sekaligus merasakannya. Begitu pula telinga adalah untuk menangkap suara, sekaligus untuk merasakan jenis suara yang masuk kedalamnya. Padahal, keadaan seperti itu hanyalah diperuntukkan bagi bayi yang masih berada didalam kandungan ibu kemudian terlahir, sampai menjelang akil balik. Yakni, diawali ketika bayi berumur 7 bulan didalam rahim. Semestinya, ketika seorang anak sudah mulai akil balik, haruslah sedikit demi sedikit mengalihkan fungsi tugas diantara kedua indra tersebut. 

Jika yang semula telinga untuk mendengar, berganti untuk melihat. Hidung yang semula untuk mencium atau menangkap aroma, berganti untuk mendengar suara. Jika tidak dialih fungsikan, lantas untuk apa rambut bayi dipotong ketika umur sekitar 35 sampai 38 hari sejak kelahirannya? Hal itu semata-mata agar manusia tahu bahwa rambut yang ada pada bayi itu hanya untuk kebidupan didalam kandungan dan bukan untuk dipakai didunia luar rahim. Juga, agar manusia sedikit demi sedikit mengembalikan fungsi indra seperti sedia kala ketika belum terlahir.


 Dengan begitu diharapkan agar manusia bisa kembali menggunakan rasanya lebih berlipat-lipat, khususnya didalam menangkap gelombang ultra, maupun gelombang infra. Perlu diketahui, bahwa fungsi telinga yang dipakai untuk mendengar, hanyalah bersifat sementara saja, guna penyesuaian anak manusia, dari kepindahan alam rahim menuju alam dunia. Begitu pula halnya hidung. Bahkan seluruh raga, serta seluruh indra yang kita miliki, sifatnya hanyalah merupakan kebutuhan sesaat. Dan bukan kebutuhan yang dipakai terus menerus sampai mati.

Akibatnya apa? Kita seringkali terkecoh dengan beberapa suara yang membuat manusia sakit hati, kecewa, hinaan, caci maki, ucapan mengandung pujian, rayuan, tipu daya, dan lainnya. Bahkan kita tidak bisa mendengar suara-suara yang bersifat ultra(diatas 20.000 Hz) seperti suara lumba-lumba. Atau sub sonic/infra sonic(dibawah 20 Hz), seperti cengkerik, gelombang gempa dan makhluk-makhluk lainnya.

Jadi sesungguhnya; sejak manusia sudah mencapai akil balik kembalilah berlatih mengembalikan fungsi asli dari kedua indra telinga dan hidung seperti halnya didalam kandungan saat-saat pembentukan janin sampai 7 bulan hidup didalam rahim.

Bagaimana cara mengembalikan kepekaan itu? Adalah dengan menggunakan anak telinga yang keberadaannya persis berhadapan dengan telinga. Dan itu merupakan pintu utama masuknya gelombang bunyi baik yang sifatnya infra maupun ultra. Terbukti sudah begitu lama diketemukan kacamata ultra sonic untuk para tuna netra agar dapat melihat cara menangkap gelombang warna atau benda. Bahkan para tuna netra bisa juga membaca tulisan lewat sentuhan jari-jari pada huruf-huruf braille.

Begitu pula halnya hidung. Diantara kedua lubang hidung ada yang menonjol yang disebut cuping hidung. Yang hal ini sering dipakai oleh para pelaku kebatinan untuk melihat, merasakan bahkan untuk melakukan jalan #ngraga_suksma. Atau hanya sekedar #ngraga_rasa. Cuping hidung ini atau #Pucuking_grana (ujung hidung), juga merupakan pintu dari laku manusia untuk berhubungan dengan dunia astral atau paralel. Baik kepindahan secara rasa maupun secara #raga dan #jiwa, sering disebut #ngraga_cahya. 

Bicara tentang ngraga cahya; adalah merupakan satu-satunya jalan pula untuk mokhsa(hilang bersama raganya)menuju kealam keabadian. Hal ini tidak bisa saya ajarkan. Karena masing-masing punya laku sendiri-sendiri, serta pemahaman sendiri, serta tidak bisa dijadikan rujukan didalam perenungan. 

Kesimpulannya : sejak manusia lahir hingga kematian tiba tetap saja menggunakan fungsi indra tanpa adanya kehendak untuk mengubahnya. Padahal fungsi indra yang kita pakai sekarang ini hanya bersifat sementara atau bersifat cadangan untuk menyesuaikan diri dari kehidupan dalam kandungan menuju dunia, agar tidak kaget. Agar bisa sedikit demi sedikit dihilangkan didalam hukum keterikatan antara manusia dengan dunia.
Sehingga wajar saja manusia gampang merasa bahagia, susah, kecewa, bahkan sakit hati, dan merangsang indra manusia menerima apa adanya. Dan dari apa yang ditangkap oleh kelima indranya kemudian dijadikan mind set memory diotak kepalanya, terhadap segala hal yang ditemui didalam perjalanan kehidupannya didunia.

Padahal sebenarnya apa yang ditangkap itu adalah karena adanya memory itu yang kembali muncul supaya orang sakit hati, orang gembira, orang merasa terpuji, orang bisa marah dan lainnya. 

Pertanyaannya adalah ; apa yang membuat orang bisa terusik saat memory gelombang suara atau warna dan benda, serta gerak sikap prilaku orang lain pada kita? Jawabannya adalah karena terpengaruh oleh situasi kondisi, dan keadaan pribadi dengan alam sekitar pada saat itu. Yakni ketika memory itu terbentuk dan tercipta, kemudian tersimpan didalam pikiran.

 Hal ini dapat dibuktikan saat kita melihat orang gila. Bisakah dia marah walau dibentak dan dimarahi. Bisakah orang gila itu ketawa saat orang lain ketawa. Bisakah susah sekalipun menurut kita dia menderita, telanjang bahkan saat dipukuli sekalipun mungkin bisa ketawa. Mengapa??? Karena orang gila itulah yang sebenarnya telah kembali pada kelima bahkan keenam indranya sesuai dengan saat awal manusia diciptakan lewat kandungan ibunya. Kendati gila yang tidak disadari. 

Dan untuk bisa seperti orang gila dibutuhkan suatu #kesadaran_diri bahwa indra yang kita pakai selama ini bukanlah yang sesungguhnya. Dan dengan mengembalikan fungsi asalnya, maka diharapkan manusia akan dapat mendengar #suara_hati orang lain. Apalagi suara hatinya sendiri. Dengan begitu, manusia akan lebih peka didalam menangkap mana suara hati, dan mana suara dari nafsunya.

Semoga bermanfaat. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar