Sampai detik ini mungkin masih banyak sekali yang memiliki asumsi bahkan keyakinan yang mendalam bahwa apapun yang terjadi pada diri seseorang secara lahir maupun batin, fisik maupun non fisik ditentukan oleh Tuhan yang tidak dikenalnya.
Menurut hemat saya, pendapat tersebut tidak semuanya benar, dan tidak semuanya salah. Tergantung dari sifat, pemahaman dan kesadaran masing-masing orang.
Menurut saya, semua hal tentang awal kejadian masing-masing orang, ditentukan oleh tuhan yang dikenalnya yaitu kedua orang tuanya. Pada saat masih berupa bubur sel yang didalamnya mengandung spermatozoa ayah, maka saat itu sudah mulai tertanam jutaan warna sifat untuk dipilih salah satu sifat Ruh yang akan ditanam didalam ovarium calon ibu. Pemilihan sifat Ruh itu bersifat matic, sesuai dengan situasi dan kondisi serta kepribadian calon ayah ketika membuahi ovarium atau indung telurnya.
Jika didalam bubur sel itu banyak mengandung bibit-bibit anak yang rusak fisiknya atau cacat, maka kebanyakan saat jadi anak juga akan cacat pula fisiknya. Begitu pula tentang warna kulit, atau semua unsur dasar fisik calon bayi lebih ditentukan dari figur ayah. Sedang masalah jiwa lebih ditentukan oleh seorang calon ibu.
Lalu, apakah jika spermatozoa yang ada dalam bubur sel sehat dan sempurna juga akan sempurna pula ketika sudah jadi anak?
Jawabannya juga belum tentu. Sebab hal itu masih akan dipengaruhi oleh habitat dari calon ibu yang mengandungnya. Jika ibu yang mengandungnya gampang labil jiwanya, perasaan nya sering susah kemudian keadaan rumah tangga tidak kondusif bagi pertumbuhan bayi, khususnya saat pembentukan jiwa dan raga, maka akan terbentuk pula fisik dan non fisik bayi itu sendiri ketika lahir.
Bisakah bayi itu tampan atau cantik? Jawabanya bisa. Bagaimana caranya? Adalah kondisi kejiwaan ibu yang harus senantiasa terjaga. Jika jiwa ibu lebih banyak bahagianya serta selalu dimanjakan oleh suaminya, maka anak yang terlahir akan tampan dan cantik.
Jika ayah penuh bahagia serta penuh rasa syukur akan apa yang diterima, maka anak akan menjadi orang yang cerdas dan pandai.
Jika ibu hanya suka bermalas-malasan maka pembentukan raga janin akan terngaruh. Jadi untuk mengetahui apakah anaknya akan tampan atau cantik, bisa dilihat dari wajah calon ibu. Jika nampak bercahaya dan tidak murung, tentu akan menghasilkan anak-anak yang tampan atau cantik.
Tentang karakter.
Ada orang yang saat membuat adonan kue tidak telaten, maka kue yang dihasilkan juga tidak sedap dipandang mata. Tetapi didalam rasa bisa saja sama enaknya dengan yang bentuk kuenya cantik. Atau bahkan jauh lebih enak. Sebaliknya kue yang modelnya cantik belum tentu rasanya enak.
Begitu juga tentang karakter anak. Bisa saja wajahnya tampan dan cantik, tetapi karakternya tidak sesuai dengan wajah yang dimilikinya.
Jadi semua apapun penetapan tuhan tentang diri manusia itu ; sepenuhnya adalah diciptakan oleh kedua orang tua masing-masing, didalam memilih model calon bayi yang dikehendaki untuk terlahir kemuka bumi ini. Apakah ingin anak seperti bidadari kecantikannya, tapi sifatnya seperti mak lampir. Menghendaki anak seperti raksasa tetapi sifatnya seperti dewa dan dewi. Ataukah memilih anak yang jiwa dan raganya, luar dan dalam seperti seorang bidadari.
Semua terpulang pada masing-masing orang didalam menetapkan pilihannya. Dan bukan lantas menyalahkan tuhan lain yang dijadikan kambing hitam, jika anak yang terlahir tidak sesuai dengan yang diharapkan. Diri kita yang menanam maka diri kita pula yang akan menuai hasilnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar