Partner | KAENDRA Tour & MICE

Minggu, 08 Maret 2015

KETIKA BIDADARI KEHILANGAN SAYAPNYA



Dulu, ketika dunia masih sesuai dengan habitatnya, para perempuan adalah bidadari yang turun kemuka bumi. Sebegitu mereka dewasa akan tumbuh menjadi makhluk bercahaya, dan seolah bersayap untuk terbang menuju puncak dunia bernama surga.

Dan para laki-laki yang menjadi tumpuan hatinya akan diajaknya untuk terbang bersama, berwisata kealam surga, berlalu lalang sepanjang hidupnya. Semakin sering berwisata kealam surga, akan semakin banyak pula dunia yang dihasilkannya. Namun, itu adalah dulu, dan telah berlalu.


Saat ini, sudah hampir tidak ada lagi perempuan, ketika dewasa berubah menjadi bidadari. Andaikan masih ada, tetapi sudah tidak bisa lagi terbang, karena sayapnya patah, atau bahkan telah kehilangan sayapnya. Sehingga bagaimana mungkin bisa berwisata, kealam dimana bidadari itu berasal? Yang ada, justru semakin memenuhi dunia untuk mencari dan menciptakan surga sendiri.Jika demikian, bagaimana mungkin manusia akan bahagia, sedangkan dunia bukan merupakan alam manusia yang sesungguhnya. Dan bagaimana mungkin akan bahagia, jika dia sendiri yang menciptakan? Kebahagiaan itu akan didapatkan bukan lantaran diciptakan, melainkan karena tercipta dengan sendirinya, dan manusia hanyalah sekedar untuk menikmatinya.

Dunia bukanlah alamnya rasa, melainkan alamnya perasaan dan pikiran. Sehingga jiwa akan selalu tersiksa, dan berlomba untuk mencari jalan untuk pulang. Sedangkan satu-satunya jalan hanyalah bersama bidadari yang menjadi pasangannya. Sementara sang bidadari sudah tidak memiliki sayap untuk terbang, apalagi mengerti jalannya pulang.

Mengapa para bidadari kehilangan sayapnya? Karena para bidadari, seharusnya tidak boleh terbebani oleh urusan dunia yang memang bukan dunia manusia, tetapi merupakan dunia binatang, dan tumbuh-tumbuhan, serta dunia makhluk halus. Dan manusia berada didunia ini, lantaran untuk berwisata ditemani oleh bidadari yang bersayap. Tetapi kenyataannya ketika sampai didunia yang disebut alam rumah tangga, lembar-lembar sayapnya semakin lama semakin patah, karena tidak kuat menahan beban.

Para bidadari memang tidak dipersiapkan untuk dibebani mencari materi. Dia hanya disuruh mempersiapkan sayapnya untuk terbang ke angkasa, atau kelangit 7 yang merupakan puncak surga yang tertinggi.

Para bidadari hanyalah untuk mendesign mimpi-mimpinya bersama untuk menuju surga, dan laki-laki untuk mewujudkan pelaksanaan mimpi bersama, berupa beban itu menjadi kenyataan. Dan karena para bidadari mengerjakan yang bukan habitatnya, akhirnya banyak para bidadari yang stress, galau, putus asa, dan lain sebagainya, sayapnya telah patah tak pernah tumbuh kembali. Sehingga calon-calon bidadari yang terlahir kemudian, banyak yang tidak memiliki sayap. Disaat sudah dewasa mereka lemah tidak bisa terbang, dan menjadi permainan, pemerkosaan, pelecehan dan lainnya. Karena kekuatan untuk menghindar hanyalah disaat dia terbang. Bahkan antar bidadari saling berbenturan didalam mewujudkan mimpi-mimpinya yang tak pernah bisa menjadi kenyataan.

Dan, bagi bidadari yang sudah tidak bisa terbang untuk membawa keluarganya akan menjadikan beban bagi para laki-laki yang lain, untuk memaksakan dirinya didalam merasakan kenikmatan dunia yang bukan alamnya sendiri. Sehingga didalam mengarungi sepanjang kehidupannya, yang ditemui; hanyalah neraka penderitaan tanpa mengerti lagi jalan untuk pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar