Jika dirimu berkata tapi tiada satupun yang dapat kau buktikan, berarti itu adalah kata tak bermakna. Jika dirimu berbuat tapi tidak sesuai dengan apa yang kau rencanakan berarti itu merupakan perbuatan yang tak bermakna.
Jika dirimu berjanji dan bersumpah untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, tapi dirimu mengingkari, maka janji dan sumpahmu adalah sumpah tak bermakna.
Jika dirimu berkata bahwa akan selalu berbuat kebenaran, tetapi selalu berbuat keonaran berarti kebenaran itu adalah kebenaran tak bermakna. Jika dirimu meminta maaf, serta menyesali apa yang telah kau perbuat, tetapi selalu berbuat kesalahan yang sama, lantas untuk apa meminta maaf yang tak bermakna, bahkan penyesalanpun juga tidak bermakna serta tidak berarti apa-apa. Kau bilang berbhakti kepada tuhan, dan beriman tapi selalu mengalami kesusahan dan penderitaan, berarti kebhaktian dan keimanan itu tetap tak bermakna.
Tahukah bahwa segala sesuatu agar bisa memenuhi kehidupan manusia seutuhnya yakni kehidupan lahir batin harus melewati 2 hal yakni:
1.Adanya dua kehendak, dari dalam diri dan kehendak diluar diri yang bisa disatukan. Sehingga yang semula hanya sekedar merupakan kehendak, bisa diwujudkan menjadi suatu kenyataan yang disebut suatu keberhasilan alam lahir/raga atau alam dunia;
2. Segala keberhasilan itu harus memiliki makna, untuk apa digapai. Jika hanya sekedar menggapai tetapi tidak memiliki kebermanfaatan, terutama untuk mewarnai dunia batinnya, tentu akan mengalami kehampaan dalam hidup.
Masing-masing itu tidak bisa dipisahkan, dimana satu sama lain saling keterkaitan, dan tidak bisa hanya 1 sisi saja yang berhasil. Sebab, jika hanya salah satu yang berhasil pasti akan mempengaruhi pada sisi lain yang tidak berhasil.
Seperti halnya bekerja yang hanya menuruti kepentingan batin, tapi tidak menghasilkan apa-apa, itu merupakan pekerjaan yang tidak bermakna. Bekerja menghasilkan banyak harta tetapi batinnya tetap menderita, itupun bisa disebut harta kekayaan yang tidak bermakna. Begitu pula seterusnya.
Dan jika hampir seluruhnya yang dilakukan sudah tidak lagi bermakna apapun bagi dirinya sendiri, lantas apalagi yang mau dicari? Semua yang dicari dan didapat, pasti akan menemui pencarian yang juga tidak bermakna.
Hal itu dikarenakan disaat kita mempelajari sesuatu, juga pelajaran yang tidak bermakna, jika tanpa adanya kesadaran, untuk selalu melakukan suatu tindakan terhadap apa yang dibaca, direnungkan, dan dihasilkan. Yakni harus memenuhi adanya 2 kehendak seperti diatas. Sekaligus harus pula mengandung unsur pemenuhan; antara dunia lahir dan dunia batinnya.
Intinya : kehidupan yang bermakna itu harus bisa memberikan kebahagiaan lahir dan batin yang kesemuanya harus diawali dengan kebhaktian yang bermakna pada tuhannya.
Dan bagaimana kebhaktian yang bermakna itu? Adalah dengan mempelajari jati dirinya dari mana dirinya berasal. Kemudian juga menelusuri berapa kali dirinya hidup dan mati kemudian kembali hidup lagi sebagai manusia. Jika tidak, lantas untuk apa kembali hidup jika akhirnya tetap berada dalam kehidupan yang tidak bermakna bagi jiwanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar