Partner | KAENDRA Tour & MICE

Sabtu, 11 April 2015

ANTARA BERDOA DAN MENGHENINGKAN CIPTA



ketika kita berdoa meminta sesuatu untuk kepentingan kita, secara tidak sadar kepala sedikit didongakkan keatas atau menengadah, sambil menyebutkan apa yang menjadi permintaan.

Dengan harapan apa yang diminta dapat dikabulkan. Hampir tidak seorangpun yang berdoa permintaan menundukkan kepala. 


Sebaliknya saat mengheningkan cipta, ketika ada orang meninggal atau mendoakan orang-orang terdahulu yang meninggal, kita diminta untuk menundukkan kepala. Bahkan saat kita mendengarkan nasehat seseorang yang kedudukannya lebih tinggi dari kita, secara tidak sadar kepala menunduk. Apalagi disaat kita merasa bersalah justru kepala semakin ditekuk.

Dari kedua hal diatas tentunya dapat diambil pelajaran sebagai perenungan, tentang kedua sikap kita yang berbeda. Mengapa hal itu terjadi. Mengapa saat berdoa kita mendongakkan kepala? Kepada siapa kita mendongak? Sebaliknya, saat kita menghormati orang lain; mendengarkan nasehat orang yang predikatnya lebih tinggi, kenapa kita menundukkan kepala, dan bersikap seperti mengheningkan cipta? Dan bahkan, bisa membuat orang tersinggung jika kita mendengarkan nasehat tapi kepala tidak tunduk.

Kedua sikap itu sesungguhnya merupakan semiotika; bahwa memang ada sepasang kekuatan yang ada didalam diri manusia. Yaitu yang pertama adalah : saat manusia menundukkan kepala adalah untuk tunduk pada kekuatan hidup manusia yang berada dihati/jantung. Dan dari hati inilah manusia mendapatkan suatu bimbingan, nasehat, serta langkah-langkah yang harus dilakukan. Sehingga secara tidak sadar arah kepala saat menunduk tertuju pada hati/jantungnya sendiri. Dan kita tahu bahwa kerja hati tidak pernah terhenti untuk berdetak selama 24 jam seumur hidupnya. Seperti halnya bumi dan benda angkasa lainnya yang bergerak dan berputar selama hidupnya.

Sehingga saat orang memberi nasehat, dan kita mendengarkan dengan sikap menundukkan kepala, bermaksud untuk mencocokan; apakah nasehat yang dikeluarkan itu sesuai dengan suara hatinya. Sebab semua nasehat yang sesuai dengan hati tidak akan mungkin bertentangan. Karena hati semua orang pasti sama, kendatipun hati binatang, maupun makhluk lain sekalipun. Disamping itu ketika orang memberi nasehat maka kedudukan orang tersebut tidak ada bedanya bahwa dia #sebagai_tuhan itu sendiri. Dan kita yang mendengarkan nasehat bersikap sebagai hamba. 

Lalu, bagaimana dengan saat kita mengheningkan cipta terhadap orang yang meninggal, apa nasehat yang kita dapatkan? Saat kita mengheningkan cipta juga demikian. Secara tidak sadar kita melihat kedalam hati/jantung kita, agar bisa menengok kedalam sikap prilaku sendiri apakah selalu menuruti perintah hati atau tidak. Dengan menundukkan kepala akan tertuntun untuk merenung kedalam diri.

Kedua; saat kita berdoa dengan sikap menengadah, adalah bertujuan bahwa kekuatan jiwa yang ada dikepala sudah bersiap melangkah, untuk melaksanakan apa yang menjadi materi doa itu. Oleh karena itu kita harus benar-benar memahami apa yang terkandung didalam doa. Kemudian melaksanakannya sendiri. Jika tidak, untuk apa kita berdoa jika tidak melaksanakan, itulah yang disebut doa tidak bermakna. Bagaikan kita menggarami lautan.

Intinya : saat kita mengawali dengan menundukkan kepala adalah untuk mendapatkan beberapa nasehat dari hati, untuk direnungkan. Setelah itu kita naikkan keotak dikepala untuk dipikirkan. Dan agar bisa fokus didalam memikirkan, maka diwujudkan pakai kata doa. Dan dengan adanya dua energi menyatu antara suara hati dan pikiran(energi cahaya) dengan kata doa, yang berwujud energi suara, akan menyatu menjadi suatu kekuatan dahsyat, lantaran menyatunya energi longitudinal dan transversal. 

Dan jika kedua kekuatan itu sudah menyatu maka kita harus segera melangkah dan bukan menunggu secara pasif. Sebab saat doa telah terucap, maka siapa yang berdoa, maka dia itu yang harus menjalankan sendiri, dan bukan pasif stelsel menunggu tuhan yang memberi. Karena kata "memberi" itu sebenarnya berwujud energi dari hati, dan disatukan dengan jiwa, untuk melaksanakan sendiri. Dan jiwa, merupakan penguasa didunia lahir atau dunia raga, sedang hati adalah penguasa manusia batin.

Itulah sebenarnya hakekat menengadah dan mengheningkan cipta, adalah semata-mata untuk mempersatukan antara manusia lahir dan batin, guna memenuhi kebutuhan jiwa dan raga itu sendiri.

2 komentar:

  1. trimakasih infonya sangat menarik,,
    bermanfaat sekali,,
    mantap,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. T.kasih atas apresiasinya. Dan semoga bisa menjadikan bahan renungan bersama. Serta akan lebih tertarik lagi membaca status yang lain. Khususnya didalam penambahan wawasan didalam renungan.

      Hapus