Sengaja judul diatas ini saya angkat semata-mata adalah untuk menetralisir sudut pandang perbedaan antara pemeluk agama masehi dan agama yang lain, khususnya yang berasal dari agama samawi. Dengan maksud kedepannya tidak lagi muncul persilangan pendapat diantara mereka. Baik terhadap pemeluknya sendiri atau diluar pemeluknya.
Pada prinsipnya seluruh agama apapun didunia ini tidak ada satupun yang mengarah pada kerusakan, semua mengarah pada kebaikan. Akan tetapi sampai detik ini masih saja satu sama lain sering timbul persilangan pendapat. Khususnya sudut pandang terhadap frasa "atas nama Bapa di surga".
Disatu sisi penyebutan Bapa adalah merujuk pada Tuhan pencipta yang figurnya adalah seorang laki-laki yang mempunyai anak. Sedangkan disisi faham agama yang lain menyebutkan bahwa Tuhan tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.
Terlepas dari adanya perbedaan itu saya mencoba mengupas lewat sisi yang lain tentang apa yang dimaksud Bapa yang ada di surga.
Kita tahu bahwa bahasa agama merupakan bahasa filsafat tidak semata-mata merupakan bahasa hukum yang ansich harus dipatuhi apa adanya, atau adanya apa harus dipatuhi. Akan tetapi harus melalui proses berpikir dari masing-masing pemeluknya.
Menurut saya; penyebutan doa atas nama bapa yang ada di surga adalah merujuk pada seorang laki-laki sebagai ayah kandung dari pemohon doa itu sendiri. Mengapa?
Kita tahu bahwa anak tidak akan mungkin terlahir tanpa adanya figure ayah dan ibu. Kita juga tahu bahwa bibit anak itu adalah merupakan cairan semen laki-laki yang mengandung ratusan juta spermatozoa, yang hidup dan berenang menuju indung telur. Kemudian hanya satu sebagai pemenangnya, yang menempel pada dinding ovum disebut zygote membentuk 1 sel tunggal, kemudian memecah diri dan berkembang sehingga menjadi janin. Mulai dari tidak berbentuk menjadi berbentuk manusia seperti sekarang ini. Dari sini kita tahu bahwa sejak masih berbentuk stem sel bibit manusia itu adalah merupakan bawaan dari seorang ayah. Dan stem sel itu hidup yang digambarkan berupa Ruhnya kehidupan. Adapun ibu adalah yang melahirkan jiwa berasal dari indung telur. Jiwa akan hidup jika diberi ruh dari calon ayah. Menyatunya ruh yang dibawa ayah dengan jiwa yang berada didalam indung telur ibu disebut manusia.
Karena adanya hidup manusia itu adalah dari ayah yang menanamkan pada ibu sebagai ruh kehidupan secara otomatis bayi itu menyebut ayah atau bapa. Sedangkan penyebutan bapa berada di surga, lantaran alam dari bapa memang berbeda dengan alam dari calon anak sebelum dilahirkan, baik ditinjau dari 4 unsur yakni : ruang atau tempat; waktu ; energi maupun materi pada saat penciptaan. Bertempat di surga adalah karena merujuk pada tempat yang baik dan indah. Sebab tidak akan terjadi pembuahan indung telur jika keadaan ayah tidak berada pada situasi yang amat baik, bahagia atau indah. Karena hanya dalam posisi kebahagiaan dan keindahan rasa sajalah semen ayah bisa terpancar. Dan situasi itulah yang disebut surga.
Sehingga didalam berdoa maka yang disebutkan adalah situasi dan kondisi ayah yang berada didalam puncak kebahagiaan dan keindahan, ketika berhubungan jiwa dan raga dengan ibunya. Dengan harapan bahwa permohonan anak untuk mengisi dunia lahir batinnya akan terkabul. Karena didalam situasi dan kondisi kebahahiaan dan keindahan yang sampai puncak, maka energi dan anti energi yang terkandung didalamnya juga mencapai puncak atau maksimal, sebagaimana sifat dan habitat awal manusia seperti dirinya terlahir kemuka bumi ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar