Partner | KAENDRA Tour & MICE

Selasa, 21 April 2015

UJIAN DAN COBAAN ITU HANYA ISTILAH




Jauh sebelumnya saya pernah menulis tentang kriteria ujian dan cobaan. Yang antara lain bahwa ; Jika "ujian" terdiri dari 5 huruf yang semuanya merujuk pada otak kiri. Dan "cobaan" terdiri dari 6 huruf yang merujuk pada otak kanan. Ujian mengarah pada skill dari manusia lahir sedang kalau cobaan adalah mengarah pada rasa dan perasaan atau manusia batin.


Sejak kita sekolah dasar sampai perguruan tinggi, kita selalu dididik dengan pelajaran kognitif. Setiap hari selain hari libur selalu digembleng dengan pembelajaran, ulangan harian, triwulan, semester dan akhir tahun. Begitu seterusnya sampai kita berhenti sekolah. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang kita masuki semakin tinggi pula jenis ujian yang kita dapatkan. Dan bahkan diantara kita yang merasa malu jika nilai ulangan dan ujiannya mendapat nilai yang jelek. Dan merasa bangga dan bahagia jika mendapatkan nilai yang baik dan sempurna. Para orang tua dan keluarga juga merasakan kebanggaan yang sama jika mempunyai anak yang pandai, cerdas, serta berpendidikan tinggi. Sementara bagi mereka yang tidak bisa mengenyam pendidikan tinggi merasa minder jika bersanding dengan mereka. Merasakan sedih kenapa nasibnya tidak seperti mereka.

Sedih lantaran tidak bisa melanjutkan pendidikan karena ketiadaan beaya. Sedih lantaran merasa otaknya kurang mampu mengikuti pendidikan yang ada. Bahkan merasa malu jika dianggap bodoh. Dan sebaliknya merasa bangga jika selalu mendapat rangking disekolahnya.

Mengapa perasaan tersebut bisa terjadi pada sebagian besar orang?? Kenapa kita tidak menganggap hal itu merupakan pembodohan yang terstruktur, masif dan sistimatis yang telah di mindset diotak? Bahwa orang-orang yang cerdik dan pandai hanya sebatas pembelajaran otak kiri belaka. Padahal kita tahu berapa banyak ragam ujian yang kita hadapi dalam setiap tahun. Berapa banyak beaya yang harus dikeluarkan para orang tua dan 20 persen anggaran negara dihabiskan untuk sektor pendidikan ini. Semua orang tertumpu pada kita ketika bisa meraih penghargaan; bangga berpendidikan tinggi, menjadi juara dalam segala lomba mulai tingkat daerah dan nasional sampai tingkat internasional. Tetapi tahukah apakah sebenarnya yang dipertaruhkan?? Adalah sebuah "KELULUSAN" tang ditandai dengan selembar kertas diploma atau piagam perhargaan. Dalam hal apa?? Adalah dalam hal keberhasilan telah menghadapi serta menyelesaikan UJIAN itu sendiri. Dan apakah itu sudah merupakan kepastian bahwa diploma kelulusan itu bisa dipakai menjalani dan memenuhi kehidupannya? Jawabnya adalah belum tentu sebelum menghadapi ujian praktek sehari-hari yang disebut "COBAAN".

Anehnya; kenapa ketika kita mendapatkan "Cobaan" kita mengeluh, merasa menderita, serta merasakan bahwa cobaan yang diterima begitu berat dan selalu bertubi-tubi datangnya. Padahal saat menerima cobaan kita tidak pernah dipaksa untuk mengeluarkan beaya apapun, tidak ada disiplin terhadap peraturan seperti saat sekolah yang harus pakai seragam, mematuhi peraturan sekolah, dan harus patuh terhadap peraturan yang dibuat orang lain. Itupun mayoritas kita mematuhinya.

Padahal ketika kita menerima cobaan itu adalah lantaran kita sendiri yang menghendaki adanya cobaan yang tidak perlu membayar. Kita yang menghendaki suatu keinginan sehingga cobaan itu datang. Dan jika berhasil kita sendiri yang menikmati ijazah cobaan itu berupa pencapaian keinginan menjadi kenyataan. Kenapa kita tidak patuh terhadap peraturan yang diciptakan alam semesta. Kenapa kita tidak patuh terhadap suatu akibat lantaran sebab yang kita buat sendiri???

Intinya adalah : baik dalam hal " UJIAN " maupun "COBAAN" adalah semata-mata pads tingkat "KESADARAN" dari masing-masing orang didalam menyikapi tujuan serta makna dari apa yang diinginkan, direncanakan, dikerjakan, serta hasil akhir yang hendak dicapainya.

Dengan adanya ujian dan cobaan itu adalah untuk melatih tingkat kesadaran seseorang agar lebih peka serta lebih menyatu dengan masalah yang dihadapi pada setiap saatnya.
Untuk itu jadikan unsur kesadaran dalam diri itu termindset didalam jiwa, didalam otaknya, didalam pola pikir setiap saatnya, sehingga nantinya akan satu kesatuan antara jiwa, rasa dan ruh serta akalnya didalam mengendarai nafsunya menuju kehidupan yang selalu berkembang dan bergerak menuju keseimbangan alam mikro didalam diri dsn alam makro diluar dirinya.

Dengan telah munculnya "kesadaran diri" maka seluruh yang bernama "Ujian" ataupun "Cobaan" hanya sekadar istilah belaka. Dan sudah tidak ada lagi istilah "terbebani". Yang ada menjadi "KESADARAN" untuk "MEMBEBANI DIRI" secara terus menerus sampai kita berhenti untuk menciptakan tujuan menuju hasil akhir.


Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar