Partner | KAENDRA Tour & MICE

Jumat, 19 Juni 2015

AGAMA ITU KEBUTUHAN MANUSIA BATIN



Semua makhluk apapun yang ada didunia pasti memiliki kebutuhan untuk menopang hidup serta kehidupannya. Kebutuhan itu ada 2 yakni kebutuhan lahir atau raga dan kebutuhan batin. Untuk menunjang kebutuhan tersebut tentu disesuaikan dengan habitat pada masing-masing makhluk. Yang semuanya diawali dengan ketersediaan kebutuhan itu oleh induknya (untuk binatang dan khewan). 


Dan oleh orang tua masing-masing (untuk manusia). Dalam hal kebutuhan lahir ini akan disesuaikan pula dengan habitat orang tua serta kebiasaan komunitas yang ada disekelilingnya. Sehingga lantaran keterbiasaan yang dilakukan sejak masih bayi, maka semua itu merupakan kebutuhan yang dilaksanakan secara turun temurun, terhadap segala hal yang bersifat lahir atau raga. Dengan begitu ketika anak-anak sudah dewasa mereka pasti secara naluri akan mencukupi kebutuhannya sendiri tanpa lagi ada bantuan orang tua.

Karena kita berada didalam suatu komunitas sesuai dengan entitasnya, maka orang tua secara naluri juga harus mengisi pula apa yang menjadi #kebutuhan_batin, khususnya didalam berinteraksi dengan komunitas sosialnya. Apa yang diisikan?? Adalah arahan tentang sikap prilaku, dan budi pekerti, sesuai dengan kearifan lokal. Apa tujuannya?? Adalah supaya tidak terjadi benturan serta perselisihan antar individu didalam lingkungan dimaksud. Sehingga jika sikap prilaku serta budi pekerti itu sudah mendarah daging, maka hal itu akan menjadi kebutuhan naluri atau batin. Dalam artian, sudah tidak bisa lagi dikurangi. Sebab sebegitu dikurangi unsur-unsur kebutuhan itu akan mengakibatkan kesusahan dan penderitaan dalam kehidupannya sehari-hari. Sama halnya bernafas, jika seseorang tidak bisa bernafas tentu akan mengalami ketersiksaan, yang akan pula menyebabkan kematian. Dan itulah sejatinya fungsi agama itu sendiri.

Dimana agama; adalah merupakan suatu pendulum, atau suatu neraca dari masing-masing individu untuk mengetahui apakah kebutuhan manusia lahir dan batinnya sudah terpenuhi atau tidak. Sebab seberapa besar pemenuhan lahir dan batinnya, akan menunjukkan sebesar itu pula agama akan merasuk kedalam jiwa raganya.

Tetapi didalam kenyataan yang ada, agama yang dianut oleh masing-masing individu, sudah tidak lagi bisa menjadi penyeimbang, selain hanya sebatas ritual belaka. Serta sudah tidak bisa lagi memperbesar suatu komunitas, selain malah membuat perpecahan antara kelompok yang satu dan yang lainnya. Mengapa??? 
Karena selama ini bukan #arti_agama itu sendiri yang diterapkan atau disampaikan. Melainkan adalah #cara_beragama, cara didalam berbudi pekerti, cara didalam tersenyum, menghormat, pengucapan salam, bersikap, serta berperilaku. Dan hal ini dibakukan dalam suatu kodifikasi yang menjadi suatu keharusan atau wajib dilakukan. Hal Inilah menurut saya merupakan suatu keanehan. 

Masing-masing orang #bukan_dituntut_berperilaku dan #berbudi_pekerti yang baik. Tetapi dituntut untuk melaksanakan #cara_berperilaku_baik. Dan lebih celakanya lagi; didalam melaksanakan cara tersebut adalah menggunakan produk-produk import. yang tentu saja akan merusak produk budaya, serta kearifan lokal dimana kita tinggal. Jika #budaya_cara ini semakin dikembangkan, maka masing-masing orang akan semakin terpuruk kedalam dekadensi moral. Karena memang habitatnya tidak sama. Seperti halnya seseorang itu butuh untuk bernafas, kemudian diwajibkan untuk melaksanakan #cara_bernafas. Demikian juga cara untuk makan dan minum, cara berpakaian, dan lain-lain. Dan ini harus diseragamkan.

Oleh karena itu, saya mencoba untuk memaparkannya dalam tulisan ini agar menjadi renungan bersama. Bahwa jika agama itu hanya bersifat kewajiban, dan bukan kebutuhan, maka cepat atau lambat kehidupan masing-masing orang akan semakin menuju pada kehancuran lahir dan batinnya.

#Edisi_puasa_02

Tidak ada komentar:

Posting Komentar