Partner | KAENDRA Tour & MICE

Rabu, 15 Juli 2015

MEMBACA HIKMAH DARI YANG TERSURAT




Segala sesuatu yang tersurat pasti berasal dari yang tersirat. Segala yang tersirat pasti datangnya dari luar raga.

Jika dirimu ingin memudahkan mengetahui terhadap sesuatu yang tersurat, bukan lantas untuk mengetahui apa yang menjadi kehendak yang tersirat didalam diri sifat orang atau entitas, sehingga menjadi tersurat.

Akan tetapi apa yang menjadi kehendak yang tersirat didalam dirimu untuk membaca yang tersurat.  


Jika dirimu membaca apa yang menjadi kehendak dari orang yang menyuratkan segala yang tersirat, maka dirimu hanya akan mendapatkan kehendak yang tersirat dari orang tersebut. Sehingga akan banyak membuang-buang waktumu hanya sekadar untuk mengetahui kehendak orang lain. 

Terlebih lagi jika didalam kehendak orang itu adalah untuk menjual dirinya didalam suatu pencitraan belaka. Berarti cepat atau lambat dirimu juga bisa terhanyut terhadap apa yang menjadi pemahaman orang lain. Jika hal itu kamu ketahui bahwa orang itu ingin mencitrakan dirinya, dan hatimu tidak menghendaki, maka segeralah tinggalkan, dan tidak perlu meneruskan bacaan yang tidak bermakna bagimu selain hanya makna pencitraan bagi dirinya sendiri.

Sebaliknya, jika dirimu memang berkehendak untuk mendapatkan hikmah dari segala apa yang tersurat, bukan lantas kamu membaca dan berpikir terhadap segala yang tersirat dari yang disuratkan. Karena jika itu kamu lakukan, maka dirimu akan terhanyut untuk mempelajari entitasnya, sejarahnya, sifat dan sikap serta prilakunya, sehingga akhirnya dirimu hanya akan mendapatkan sejarah dari penyampai berita yang tersirat menjadi tersurat. Dan yang didapat pasti tekstual dan kontekstual antara sifat dan kehendak yang tersirat menjadi tersurat.

Semestinya, ketika dirimu membaca yang tersurat, carilah apa yang tersirat didalam dirimu lewat hatimu sendiri. Sehingga dengan demikian dirimu tertuntun untuk membaca dirimu sendiri, yang terfokus pada panduan terhadap apa yang menjadi bacaan bagimu. 
Maka dengan demikian dirimu akan menemukan pasangan bacaan dari dalam dirimu sendiri untuk kamu sandingkan dengan apa yang tersurat .

Dan bacaan yang kamu dapatkan dalam dirimu itulah yang disebut substansi dan essensi. Tidak lagi kamu merenungi dengan sepenuhnya terhadap apa yang disuratkan semula. Melainkan dengan sepenuh hati merenungi segala substansi dan essensi dari dalam dirimu sendiri. Setelah dirimu memahami serta menyadari substansi dan essensinya , maka dirimulah yang berganti untuk menyuratkan apa yang tersirat dari dalam hatimu untuk diwujudkan menjadi suatu sikap, perilaku sekaligus menjadikannya sebagai suatu tindakan yang bermakna bagimu, dan atau bagi kebutuhanmu sendiri.

Dan itulah seharusnya yang selalu kamu terapkan didalam memaknai suatu suratan. Bukan terpancang atau bahkan terhanyut dari apa maksud tulisan didalam perenungan. Melainkan semata-mata adalah untuk menggali segala apa yang tersirat didalam dirimu sendiri. Dan bukan apa yang tersirat didalam diri entitas yang menyuratkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar