Hampir semua pemeluk agama senantiasa berdoa agar diberikan jalan yang lurus atau jalan yang benar. Tetapi anehnya tidak sedikit pula yang senantiasa salah jalan. Padahal maksud ungkapan jalan yang lurus atau benar itu adalah didalam bersikap, berperilaku dan bertindak selalu memakai jalan yang benar. Cara-cara yang benar, bekerja yang benar sehingga akan mendapatkan hasil akhir yang benar pula.
Namun kenyataannya banyak yang masih korupsi, mencuri, merampok dan lainnya. Bahkan masih banyak orang-orang yang kehidupannya dibawah keberhasilan. Dibawah garis kemiskinan.
Dan keanehan yang lainnya adalah; masih banyak pula para pemeluk agama tersebut memandang dirinya benar. Memandang dirinya lebih tercerahkan dengan mencaci maki penganut agama lain yang disebutnya sesat, kafir, dan sebagainya. Apakah kita tidak sadar?? Bahwa sesungguhnya kitapun juga masih berada didalam kesesatan yang nyata. Kitapun masih berada didalam salah jalan. Terbukti kita masih senantiasa memohon petunjuk pada tuhan agar diberikan jalan yang lurus atau jalan yang benar.
Jika diri kita arahnya sudah benar, kenapa masih meminta petunjuk agar diberi jalan yang lurus. Padahal diri kita masih berada didalam hutan belantara kehidupan yang penuh kegelapan. Penuh kesesatan, penuh kebingungan menentukan arah.
Menurut saya; ungkapan petunjuk seperti itu sudah sering diberikan oleh tuhan agar kita mudah menemukan jalan yang lurus, tetapi kita masih tetap tidak pernah mau mengikuti petunjuk jalan yang lurus. Selain hanya berdoa secara terus menerus minta jalan yang lurus. Kalau begitu apa yang harus dilakukan oleh tuhan, koq meminta terus menerus????
Tahukah bahwa petunjuk dari tuhan sebagai jalan yang lurus itu adalah kitabnya masing-masing para penganutnya. Diberinya kitab supaya dibaca dan dipelajari, dipikirkan dan kemudian dilaksanakan. Tetapi didalam kenyataannya banyak yang tidak mau membaca apalagi berpikir, dan hanya bicara terus menerus agar diberikan jalan yang lurus. Jadi bagaimana mungkin akan mendapat jalan yang lurus???
Jika kita menjadi tuhan, lantas apa yang harus dilakukan menghadapi orang-orang yang selalu meminta petunjuk tapi tidak pernah melaksanakan apa yang menjadi petunjuknya. Sehingga saya jadi teringat ketika jaman orde baru dimana ada seorang menteri ketika pidato selalu berkata " atas dasar petunjuk dari bapak presiden....".
Atau apakah dengan mengucapkan doa meminta petunjuk itu adalah agar kita tidak disalahkan ketika salah jalan? Atau apakah jika disalahkan, lantas tuhannya sendiri yang akan disalahkan karena diberi petunjuk atau tidak diberi petunjuk adalah hak prerogatif tuhan. Namun yang ironis kenapa masih mudah menyatakan bahwa penganut agama lain sesat, sedangkan dirinya sendiri berada didalam kesesatan.
#Edisi_peleburan_diri_02
Tidak ada komentar:
Posting Komentar