Arah timur, selatan, barat, dan utara sering kita sebut #MATA_ANGIN. Dan kita tahu bahwa angin adalah udara yang #bergerak dari suatu tempat yang suhunya tinggi menuju suhu yang rendah. Kata bergerak berarti menuju pada suatu titik, dari dan ke titik yang lain.
Dan didalam gerakan itu pasti atas dasar dorongan energi dari belakang kedepan, dari kiri kekanan, atau berputar tidak tentu arah.
Sesungguhnya semua arah mata angin itu ada didalam diri kita sendiri yang tempat kedudukannya ada didalam liver(hepar). Sedangkan yang ada diluar raga sifatnya hanya sebatas titik linier saja untuk lebih memudahkan kita didalam bergerak untuk menuju suatu titik. Didalam liver ada 4 folder nafsu sebagai tempat dari energi yang masing-masing folder memiliki sifat sesuai dengan jenis energinya. Dan untuk lebih memudahkan didalam perenungan, saya istilahkan; bahwa unsur air berada ditimur, warna putih. Unsur api berada diselatan, warna merah. Unsur udara atau angin ada dibarat, berwarna kuning. Dan unsur tanah diutara, berwarna hitam.
Sedang warna rasa atau berbagai jenis rasa tempatnya ada permukaan lidah. Adanya rasa pahit, manis, getir, kecut, asin dan sebagainya, semua ada dititik-titik tertentu dipermukaan lidah.
Jadi ; semua makanan, tanaman atau bahan-bahan yang masuk kedalam mulut, akan terasa seperti rasa tersebut diatas, bukan berarti bahan-bahan tersebut yang terasa manis, asin dan lain-lain. Semuanya tidak memiliki rasa apapun, sebelum dirasakan oleh lidah. Sedangkan munculnya rasa itu semata-mata adalah untuk memudahkan kita didalam membedakan jenis zat-zat yang ada dari luar yang dibutuhkan oleh tubuh kita. Baik secara mentah maupun setelah diolah. Dan adanya warna rasa yang ditangkap oleh lidah tersebut disamping untuk memenuhi kebutuhan raga, juga diperuntukan bagi manusia batin.
Adapun untuk pengolahan dari energi yang masuk kedalam lidah akan disesuaikan dengan apa yang ada diliver, sesuai dengan kebutuhan manusia secara terukur dan seimbang. Dan karena seluruh pusat pemerintahan manusia ada dikepala atau ada diotak, maka seluruh rasa itu tidak akan bisa dirasakan tanpa adanya kehendak dari dalam jiwa yang juga ada dikepala. Kehendak tidak akan bisa bergerak atau berkembang menjadi buah pikiran, tanpa adanya energi dari nafsu sebagai pendorongnya. Dan pemilihan energi nafsu akan memunculkan jenis energi yang dibutuhkan, serta akan menunjukkan tempat kedudukan difolder liver, sekaligus akan menunjukkan arah mata angin dimana energi tersebut berada.
Setelah itu barulah disalurkan kekepala untuk diolah dan dipikirkan. Didalam pemikiran itu, akan dipilah mana yang menjadi tugas otak kiri, dan mana yang menjadi tugas otak kanan. Dari hasil pemikiran akan menimbulkan warna rasa, sebagai #akibat pengolahan antara kehendak jiwa, serta adanya kecukupan serta jenis kebutuhan energinya.
Setelah selesai menjadi buah pikiran yang #bersifat_tunggal, akan memunculkan suatu tindakan untuk keluar dari raga mencari pasangannya.
Jika sifat tunggal ini sudah sesuai dengan energinya, maka akan secepat kilat akan keluar raga, dan akan secepat kilat pula untuk kembali kedalam raga menjadi sepasang. Jika belum mencukupi energinya, atau ada kesalahan didalam meramu antara kehendak dan volume serta warna energinya, maka sebuah kehendak itu tidak akan pernah bisa keluar dari raga. Melainkan tetap berputar-putar dipikiran. Atau bahkan bisa menjadi bumerang, serta akan terbebani pikiran dengan kehendak yang rusak sebelum menjadi sifat tunggal. Semakin lama akan semakin bertumpuk sampah-sampah energi. Semakin mengotori pikiran, semakin banyak pula sampah perasaan yang tidak pernah bisa terselesaikan.
Jika hal ini terus menerus terjadi, maka ekosistem didalam otak akan rusak, dan akan mempengaruhi pula terhadap ekosistem didalam raga yang bisa menimbulkan penyakit, serta menimbulkan kelainan. Bahkan seluruh perangkat manusia didalam diri juga ikut rusak.
Oleh karena itu manusia harus selalu menyadari apa yang dijadikan kehendak; dengan selalu berpikir aktif sejak dari awal memiliki kehendak, lalu memilih jenis dan warna energi yang tepat sampai menuju hasil akhir ; yakni buah pikiran yang bersifat tunggal. Dengan begitu akan segera keluar dari raga mencari pasangannya, kemudian segera pula kembali kedalam raganya membawa pasangannya yang disebut keberhasilan.
#Edisi_penciptaan_03
Tidak ada komentar:
Posting Komentar