Partner | KAENDRA Tour & MICE

Kamis, 20 Agustus 2015

TIDAK KENAL MAKA TAK SAYANG

Renungan dasar:

Sifat dan dzat tuhan itu #pasif_dinamis serta ada dimana-dimana, tetapi tidak kemana-mana. Entitas apapun tersinari sifat dan dzat, maka akan berubah dari yang semula tidak ada menjadi ada. Serta akan menjadi hidup yang penuh kehidupan. Seberapa besar warna kehidupan yang ada, tergantung sepenuhnya dari seberapa besar sifat dan dzat yang merasuk kedalamnya, untuk menjadi kodrat masing-masing.

Semua entitas makhluk selain manusia, akan mendapat sifat dan dzat secara pasif dinamis sehingga membentuk berbagai macam entitas tergantung dari habitat yang menyatu kedalamnya.


Tentang manusia, sifat dan dzat tuhan merasuk kedalam diri orang tua secara #aktif_dinamis. Dalam artian, masing-masing calon manusia, tergantung sepenuhnya dari para orang tua. Seberapa besar dan seberapa ragam orang tua memasukkan sifat dan dzat tuhan, maka sebesar itu pula warna rasa tentang tuhan, akan tertanam kedalam calon manusia yang akan dilahirkan oleh ibunya kemuka bumi ini.

Jika orang tua khususnya ibu calon manusia melengkapi dengan beberapa sifat tuhan yang pemurah dan penyayang, maka kelak anak manusia itu akan terisi pula karakter yang juga pemurah dan penyayang. Dan sifat dan dzat itu akan tersimpan kokoh didalam jantung dan otak anak manusia tersebut.

Kemudian, setelah anak manusia terlahir orang tua, khususnya ibu harus mengisi pengenalan sifat tuhan secara dini, bukan hanya dengan kata-kata. Namun melatihnya dengan suatu tindakan yang nyata sebagaimana warna sifat yang ada didalamnya. Sehingga anak akan mengenal sifat tuhan juga secara nyata. Bagaikan kita mencoba mengenalkan berbagai macam buah kepada anak, tidak hanya mengenalkan nama buah itu. Akan tetapi sekaligus agar anak dilatih untuk merasakan buah dengan menyuruh untuk memakannya. Dan biasanya jika ibu suka untuk memakannya, maka anakpun akan suka pula merasakannya. Karena anak akan selalu meniru apa yang diperbuat oleh ibunya atau ayahnya.

Dengan begitu maka anak juga akan mengenal tidak hanya nama tetapi juga dalam hal rasa. Begitu juga tentang tuhan juga harus dikenalkan sifatnya, serta warna sifat tuhan dengan sebuah tindakan. Semakin akrab anak didalam melakukan tindakan sifat, maka akan semakin akrab sifat tersebut mewarnai jiwanya. Sehingga anak akan semakin akrab untuk melakukan sifat tuhan yang dilihat, didengar ataupun yang diajarkan oleh orang tuanya. Jika orang tua ingin melihat anaknya mudah mendapatkan rejeki, maka orang tua harus menunjukkan pula kemudahan rejeki yang didapatkannya. Jika orang tua bekerja keras berarti sifat tuhan yang maha sibuk yang akan dimasukkan pada anaknya. Maka kelak anakpun tidak akan bermalas-malasan didalam mencari rejeki.

Jika orang tua sombong, malas, suka marah-marah, suka mengeluh dan lainnya, maka karakter tersebut akan dominan pula merasuk pada diri anak.

Intinya : Apapun yang dilakukan sebagai tindakan orang tua, maka sesungguhnya sifat dzat itu pula yang akan tertanam pada anaknya.

Jika didalam kenyataan anak-anaknya penuh kesulitan dan kesusahan didalam mengarungi kehidupannya, berarti hal itu karena warna sifat dan dzat tuhan yang diunduh juga seperti itu. Lantas siapa yang akan disalahkan???? Jika yang diunduh juga sifat yang penuh kemudahan serta penuh kasih, maka nasib anak akan pula bertaburan kemudahan dan penuh kasih. Sedangkan besar kemudahan dan kasih itu akan semakin beranak pinak didalam diri anak ketika anak juga melaksanakan dengan penuh kesadaran untuk melanjutkan pula pada keluarga dikelak kemudian hari ketika dia telah berubah menjadi seorang manusia. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar