Partner | KAENDRA Tour & MICE

Selasa, 22 September 2015

CARA MELATIH PIKIRAN



Pikiran itu harus dilatih terus menerus supaya bisa cerdas. Dan harus selalu mendapat bahan-bahan bacaan dari nafsu sebagai nara sumber, dibantu akal manusia sebagai pengarah bacaan. Sedang jiwa selaku pemberi keputusan akhir sekaligus sebagai pengendali seluruh pikiran.
Siapa yang berpikir??? Adalah otak kiri yang berfungsi sebagai program.


Jika pikiran hanya sekedar membaca, yang dihasilkan hanya sekedar bacaan belaka. Tetapi jika dipikirkan maka akan menghasilkan buah pikiran. Dan bisa atau tidaknya buah pikiran itu dilaksanakan menjadi kenyataan, tergantung dari masuk akal atau tidak bagi pemikirnya. Jika menimbulkan keraguan, maka buah pikiran tidak bisa dilaksanakan. Atau jika dilaksanakan, akan menimbulkan keterpaksaan, serta akan menimbulkan perubahan rasa.

Didalam kita melatih pikiran adalah dengan banyak membaca 
tulisan yang tersebar disemesta. Baik yang tersurat maupun yang tersirat. 

Jika membaca tulisan orang lain, diharapkan bisa menghasilkan substansi dan essensi buah pikiran dari dirinya sendiri. Yang hasilnya bisa berupa kesepakatan atau tidak sepakat. Kesepakatan terhadap hasil bacaan, bisa berarti dia pernah mengalami, atau memiliki pemikiran serupa untuk dilaksanakannya. Begitu pula ketika tidak sepakat.

Namun tidak jarang terjadi, hasil pikiran orang lain, pikiran dia tidak sampai lantas disampaikan lagi pada orang lain. Sedang dia tidak melakukan apa-apa. 
Jika dia tertarik untuk mengunggahnya menjadi sebuah tulisan, berarti telah sepakat dengan apa yang ada didalam pikirannya. Yang berarti dirinya bisa memiliki pikiran serupa. Atau telah melaksanakan sesuai dengan apa yang telah diunggahnya.

Jika dirinya sendiri tidak pernah mau berpikir dan hanya sekedar mengunggahnya untuk orang lain, maka hanya orang lain itu yang mendapatkan ilmunya. Sementara dirinya tidak akan pernah mendapatkan ilmu apapun. Sehingga dirinya tidak akan pernah mendapatkan suatu pengalaman guna mercerdaskan pikirannya sendiri. Kalau begitu, untuk apa kita membaca tetapi tidak mendapatkan apa-apa??? Seandainya mendapatkan hanya sekedar kecerdasan didalam menghafalkan sebuah tulisan. Tetapi bukan untuk dibuktikan oleh dirinya sendiri. Jika hal itu terus menerus dilakukan, akal dan pikirannya tidak akan pernah bertambah. Yang terjadi justru senantiasa menjadi biang keladi adu domba antara tulisan yang satu dengan tulisan yang lain.

Semestinya, jika dirinya membaca sebuah tulisan, pikirkanlah untuk mendapatkan pemahaman, kemudian mencobalah untuk membuktikan apa yang dipahami sampai dia menyaksikan sendiri tentang apa yang telah dilakukan berhasil atau tidaknya. Dan baru pengalaman dirinya itu yang disampaikan pada orang lain. Sehingga tidak hanya sekedar teori namun tidak pernah membuktikan sama sekali apa yang telah dibacanya. 

Dan itulah kenapa, sering terjadinya banyak silang pendapat antara pemahaman yang satu dengan yang lain karena lantaran sebuah bacaan sedang dirinya tidak memiliki pemahaman sama sekali. Bagaikan kita membawa air dengan ember yang bocor. 

Dan untuk supaya kita senantiasa terangsang untuk berpikir, maka pikirkan sesuai dengan kebutuhan hari ini yang sekiranya akan dilakukan. Dan jangan berpikir tentang sesuatu yang telah berlalu atau yang akan datang. Karena, baik masa alalu ata masa yang akan datang bukan tugas pikiran. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar