Ketika kita melihat fenomena alam seperti gunung meletus, gempa bumi yang membuat bencana besar, serta mematikan ratusan ribu orang. Akankah kita mengatakan bahwa alam salah??
Ketika kita melihat seorang anak kecil yang tidak berdosa diperkosa, lantas dibunuh dengan keji, yang membuat semua orang yang melihat dan mendengar beritanya, ikut terhanyut miris. Adakah kita membenci pemerkosanya, serta menghujat habis-habisan? Ditambah dengan mencaci maki, mengatakan setan, iblis, tidak berperikemanusiaan dan lainnya. Bahkan, seluruh nama khewan di kebun binatang keluar semua ikut menghiasi kata yang keluar dari mulut penghujatnya.
Tahukah??? Bahwa dengan begitu; sesungguhnya kita telah terhanyut akan peristiwa yang ada. Sehingga sebutan apapun yang muncul dari mulutnya, akan tergambar juga kedalam diri serta wajah penghujatnya. Jika demikian, bagaimana mungkin kita dapat membaca semiotika.
Walau tanpa kita ucapkan, semua orang sudah tahu bahwa itu bejad dan dilaknat, perbuatan setan, iblis dan lainnya. Bahkan seseorang yang terbiasa melakukan pekerjaan sebagai pembunuh dan perampok sekalipun, juga akan mengatakan hal yang sama, serta akan merasakan kekejian itu, ketika ada orang lain yang berbuat suatu penyimpangan. Untuk apa dipertegas lagi??
Tujuan adanya fenomena seperti itu, negatif maupun positif adalah semata "untuk dibaca, bukan untuk dinilai".
Begitu pula halnya sebuah tulisan yang bersifat " ayat-ayat renungan". Yang selalu diunggah dari hal-hal yang nyata terjadi, yang kemudian dikemas menjadi suatu tulisan, maka itu yang harus dibaca apa adanya. Dan bertujuan untuk menyampaikan pesan tersirat dari apa yang dituliskan. Bukan lantas satu sama lain saling menghantam pakai ayat, untuk membenarkan atau menyalahkan sebuah tulisan "renungan". Jika berkesimpulan untuk mengubahnya, bukan lantas tulisannya yang harus diubah. Melainkan keadaanlah yang harus diubahnya, maka sudah pasti "semiotikanya" akan berubah.
Jika dalam membaca sebuah tulisan renungan saja tidak mampu untuk dibaca, bagaimana mungkin akan mampu membaca semiotika atau tanda-tanda alam yang sebenarnya???? Kenapa tidak mampu??? Karena didalam semiotika, hanya dikenal sebagai sebuah teka teki yang untuk dijawab. Dari mana bahan-bahan untuk menjawabnya?? Adalah dari buku panduan yang bernama kitab-kitab agama masing-masing orang yang dianutnya. Kemudian dicarikan pemahamannya, yang sekiranya bisa cocok dengan semiotika alam yang telah dibacanya.
Intinya adalah : semiotika itu hanya untuk dibaca; dan bukan untuk dinilai benar dan salah. Dan semiotika, tugasnya untuk membawa pesan tersirat. Agar diambil hikmah atau substansi, serta essensi yang ada didalam semiotika. Begitu pula halnya tulisan tentang sebuah renungan.
Ketidak mampuan membaca semiotika, lantaran kurangnya referensi yang jadi bahan bacaan sehingga akan mengurangi pula bahan-bahan yang jadi pemikiran, menyebabkan buah pikir tidak sempurna. Jika demikian, jangan membaca tulisan tentang renungan. Sebab dibaca atau tidak, tetap tidak akan mungkin bisa memberi tambahan pelajaran apapun selain hanya sia-sia.
Dan akan banyak waktu serta energi yang terbuang percuma, hanya karena ingin sebuah nama bahwa dirinya bisa membaca semiotika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar