Adalah suatu keanehan yang nyata jika kita hendak berbuat suatu kebajikan masih ditanyakan ayatnya serta dasar hukumnya dalam agama. Sehingga agama yang semula diharapkan bisa mempermudah jalan kehidupannya justru semakin menyulitkan dirinya. Serta tidak terasa, malah menjadi benalu yang menempel diotak kepalanya. Dan yang paling parah masih saja terus mencari-cari ayat pendukung, agar kebajikannya bisa diterima disisi tuhannya.
Semestinya kita mau berpikir bahwa ; apakah kita mau berbuat kebajikan, ataukah mencari ayat?? Lantas jika ayat-ayatnya tidak ditemukan, tidakkah kita mau berbuat kebajikan? Atau, akankah mencari ayat yang sekiranya bisa terhindar dari perbuatan kebajikan, selain hanya lewat kata-kata belaka. Tetapi suatu ketika ditimpa kemalangan dan penderitaan, barulah mereka akan terasa. Yakni ketika akal dan pikirannya penuh kegelapan, pada umumnya mereka lantas terjebak oleh orang-orang yang pekerjaannya menjual belikan ayat. Sehingga akan berakibat penderitaan yang dialami semakin dalam, karena kesana kemari kebingungan membeli ayat-ayat yang tidak bermakna dari para makelar ayat yang tidak bertanggung jawab.
Dan mereka amat pandai mengadakan tipu daya bahwa ayat-ayat itu haruslah berasal dari mereka. Sedangkan yang bukan dari mereka dikatakan ayat-ayat setan.
Semestinya, tidak perlu mempergunakan ayat dalam hal kebajikan. Cukup akal dan pikiran, serta suara hatimu belaka; apakah perbuatan kebajikan yang hendak kamu lakukan itu lebih masuk diakalmu, dibandingkan apa yang selama ini telah umum dilakukan oleh orang lain. Adakah kerugian atau dosa bagi orang-orang yang berbuat kebajikan????
Karena sesungguhnya diciptakannya ayat itu agar dirimu mau berpikir. Bahwa dasar hukum ayat, adalah yang berkaitan didalam suatu tindakan, yang akan merugikan dirimu maupun orang lain. Terutama, yang menyebabkan diantara kalian celaka terhadap perbuatan yang akan kamu lakukan.
Bagi orang-orang yang tetap mencari dasar hukum sebagai rujukan didalam perbuatan kebajikan; sesungguhnya memang tidak berniat untuk berbuat kebajikan. Dan sengaja untuk mencari alasan yang berdasar hukum, guna menghindari perbuatan kebajikan pada orang lain. Bahkan, sekalipun telah ditemukan ayatnya, kemungkinan masih saja tetap diperdebatkan.
Tetapi kenapa ketika berbuat kezaliman, serta yang jelas-jelas merugikan orang lain dan didukung dengan ayat, tetap saja melakukan perbuatan itu???? Kenapa tidak diperdebatkan dahulu sebelum bertindak?? Yang ada, mereka akan sembunyi-sembunyi didalam berbuat tipu daya, dengan berlindung dibalik ayat. Bahwa dirinya; hanyalah manusia biasa, yang tidak lepas dari kesalahan dan kekhilafan, yang menuruti tipu daya setan.
Adakah diantara kita yang berani secara konsekwen mengatakan; bahwa dirinya salah tanpa membawa-bawa nama setan??? Padahal dirinya sendiri itulah yang setan berwujud manusia. Dimana ciri-ciri setan adalah; jika dirinya jatuh tertimpa musibah, serta kehidupan yang terpuruk, tentu akan mengatakan; bahwa dirinya benar, tetapi orang lain yang dijadikan kambing hitam untuk memikul kesalahannya, dan yang telah membuat dirinya terpuruk.
Semua itu terjadi, karena akibat dari kebiasaannya mencari ayat ketika mau berbuat kebajikan. Sehingga tiada satupun kebajikan yang dapat dilakukannya. Andaikan ada, bukan dari akal serta pemahamannya sendiri, melainkan dari para kelompok makelar ayat-ayat tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar