Orang yang tersesat itu berawal dari adanya kekafiran terhadap rasa yang ada didalam dirinya sendiri. Yang selalu meniadakan unsur petunjuk yang ada lewat rasa yang menggetarkan jiwa. Dan kafir itu bukan terhadap suatu nama atau sebutan yang selama ini ada. Sebab, segala nama atau sebutan, hanya sebatas kata atau bahasa yang tercipta dari suatu kaum dimana kita berada.
Jika terhadap rasa didalam dirinya sudah kafir, bagaimana mungkin tidak kafir terhadap petunjuk yang datang dari luar raganya?? Dan bagaimana mungkin petunjuk dari luar bisa memberikan cahaya, sementara mereka telah menutup dirinya. Sehingga semakin lama akan semakin tersesat didalam menjalani kehidupannya.
Kesalahan didalam memaknai suatu kata, lantaran kesalahan didalam mengerti bahasa darimana kata itu terlahir. Sehingga akan semakin jauh memaknai rasa yang setiap kali muncul dalam dirimu. Apalagi, jika dirimu selalu memasukkan apa yang dikata orang lain kedalam pikiranmu. Akibatnya dirimu akan selalu menjadi robot berjalan bagi orang lain, padahal seringkali bertentangan dengan hatimu. Mengapa?
Hal itu terjadi karena tidak bisa merenung selain menerima apa yang #dikata dan bukan apa yang #dirasa.
Bagaimana mungkin dirimu bisa merenungkan dengan tepat dan benar, sedang artikulasi rasa yang terkandung dalam kata saja tidak tahu. Padahal, adanya rasa akan menciptakan kata. Dan dari kata akan menciptakan nada. Dan selanjutnya, dari nada itu pulalah yang akan mengarahkan dirimu untuk menciptakan lagu, yang bernada gita ataupun duka didalam mengisi kehidupanmu.
Dan, karena adanya kekafiran didalam rasa, dirimu tidak pernah bisa menciptakan lagu. Andaipun bisa tercipta, lebih banyak lagu yang bernada sumbang. Lebih banyak mengisahkan tentang elegi dari kehidupanmu dibandingkan rhapsodi yang penuh gita. Atau yang lebih ironi, dirimu senantiasa dijadikan lagu bagi orang lain.
Siapakah yang salah? Semua, adalah terpulang dari dirimu sendiri. Apakah masih tetap kafir terhadap rasamu sendiri, sehingga semakin jauh menuju ketersesatan. Ataukah segera kembali pada jati dirimu, sehingga dirimu akan selalu #syakir terhadap rasamu. Dengan begitu takdirmu juga akan berubah penuh cahaya kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar