Selama dirimu berusaha untuk memiliki rasa yang datang dari luar raga, maka selama itu pula dirimu tidak akan pernah mendapatkan apa-apa. Bahkan yang terjadi rasa yang datang akan terasa asing dalam dirimu. Karena sifat rasa bukan untuk dipikirkan apalagi untuk dimiliki. Rasa adalah rasa yang untuk dirasakan. Sebegitu menyatu kedalam dirimu dan ada kecocokan rasa yang sama, maka sepasang rasa itu akan bergelombang menggetarkan jiwa dan ragamu untuk menyatu.
Jika banyak orang yang datang berduyun-duyun kepadamu, bukan semata-mata untuk memberikan rasa atau memiliki rasa yang ada dalam dirimu. Akan tetapi untuk lebih mendekatkan diri terhadap pusat rasa yang yang terpancar darimu.Karena ketika semakin dekat pada pusat rasa akan semakin memunculkan kedamaian, ketentraman serta kebahagiaan. Ketika semakin jauh maka getaran rasa akan semakin menyesakkan dada karena gelombang sepasang rasa semakin kencang menembus masing-masing jiwa.
Hal itulah yang terjadi pada seseorang yang dianggap tepat menjadi pemimpin., Banyak sekali orang berdatangan tanpa memandang kasta dan tanpa memandang suku atau bahasa, agar orang itu tetap menjadi pemimpinnya. Dan itu bukan merupakan rekayasa rasa. Semua datang dengan sendirinya, bagaikan rama-rama mendatangi pusat cahaya. Serta bukan semata agar tetap menjadi pemimpinnya. Akan tetapi karena hakekatnya didalam diri orang itu ada pusat rasa yang bisa menerangi hati semua orang yang kehilangan cahaya. Yang mungkin, sudah cukup lama mereka ini berada didalam kegelapan. Yang rindu akan cahaya. Yang haus akan getar-getar rasa yang selalu menebar cahaya kasih.
Dan jangan menjadikan rasa heran bagimu. Dan jangan mencoba untuk mengkaitkan dengan logika. Karena semua yang bersifat logika bukan merupakan rasa. Dan karena selama ini dirimu selalu terpenuhi oleh akalmu sehingga ketika ada rasa yang datang, akalmu bebal jadi tidak berdaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar