Partner | KAENDRA Tour & MICE

Senin, 28 Maret 2016

KISAH ELEGI DAN RHAPSODI



Dikompasiana ramai sekali perbincangan tentang pertemuan antara marshanda dan ayahnya. Namun yang disorot adalah seputar ayahnya. Dan ada yang menulis kenapa jadi pengemis padahal tubuhnya masih sehat dan kuat. Juga disebutkan bahwa ayahnya itu durhaka. Dan disebutkan bahwa dia telah mempermalukan anaknya serta malas untuk bekerja. Bahkan kata malas disebut sampai 9 kali. 

Kalau saya membaca peristiwa itu sederhana saja. 


1. Jika ayahnya tidak menjadi pengemis apa mungkin bisa diciduk oleh pemerintah DKI, dan dipertemukan kembali dengan anaknya yang telah merindukan kehadiran ayahnya? ;

2. Juga ingin menunjukkan apakah Marshanda yang artist dan juga motivator itu sesuai antara ucapan dan perbuatannya? Ternyata dengan pertemuan itu masyarakat tahu bahwa Marshanda orang yang sesuai antara ucapan dan tindakan.

Adapun durhaka dan tidaknya untuk apa kita menilai orang lain? Tugas kita adalah untuk membaca dan mengambil hikmahnya untuk kita terapkan pada kehidupan kita sendiri. Dan bukan malah untuk menghujat apa yang dilihat dan didengar. Sebab jika untuk menghujat adakah keuntungan bagi kita, sekalipun kita mengenal orang yang dihujatnya. Itulah sebenarnya maksud adanya bacaan yang tersirat dari kisah pertemuan antara ayah dan anak.

Sementara pada sisi yang lain ada beberapa orang yang ditangkap sebelumnya lantaran maraknya kasus persewaan anak-anak untuk diajak mengemis. Dan kedua fenomena itu merupakan SEMIOTIKA untuk menjadi bahan renungan. Khususnya untuk membedakan mana yang kognitif dan mana yang non koqnitif. Yang satu sisi menggunakan hati sedang pada sisi yang lain menggunakan akalnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar