Partner | KAENDRA Tour & MICE

Selasa, 29 Maret 2016

MENGAPA KITAB AGAMA DISEBUT KITAB SUCI?



Kitab agama apapun disebut kitab suci oleh pemeluknya. Sehingga jika ada orang yang mencela atau menghujadnya akan menimbulkan kemarahan besar bagi para pemeluknya. Mengapa? 


Sesuai dengan sifat dan hakekat suci adalah tidak terlepas dari sumber kehidupan yang dominan bagi manusia itu sendiri. Yaitu sifat air yang masih murni yang belum memiliki warna; tidak beraroma dan tidak berasa selain rasa air itu sendiri, yang melambangkan #Rasa_dasar dan #Nada_dasar_kehidupan.



Rasa Dasar : Sebagaimana sifat air adalah berfungsi untuk berbagai kebutuhan manusia. Untuk minum, untuk mencuci untuk masak, mandi, penetralisir panas dan lain sebagainya. Jadi arti suci disini fungsinya adalah netral. Dalam artian siapapun yang akan menggunakan air itu, sepenuhnya tergantung dari kegunaan orang yang memakai air ini untuk dijadikan apa dan bersifat umum. 

Begitu pula halnya kitab agama. Siapapun yang ingin membaca dan mempelajarinya, semata-mata adalah untuk kepentingan orang itu sendiri didalam mengolah rasa dan pikiran serta jiwa, yang bermanfaat bagi dirinya. Bagaikan diri kita memasak makanan dan minuman yang bisa dinikmati bagi dirinya. Dalam arti kata lain; bahwa membaca dan mempelajari kitab agama adalah sama halnya dengan menjadi koki bagi dirinya sendiri. Sehingga nantinya diharapkan bahwa apa yang dimasak kemudian dimakan, akan bisa melanjutkan keberlangsungan hidupnya. Dan agar tidak membuat kejenuhan terhadap jenis makanan yang di buat maka harus berlatih terus menerus mencari resep-resep baru didalam kitab agama itu. Semakin sering berlatih lewat berpikir, merasakan kemudian menciptakan jenis-jenis masakan baru, akan semakin kaya warna rasa yangada didalam dirinya. Sehingga dalam keadaan apapun, dan dimanapun dia berada tidak akan pernah kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan karena kepandaiannya tersebut dia yang semula hanya sekedar menjadi koki bagi dirinya sendiri, bisa juga dinikmati oleh orang banyak. 

 Nada dasar kehidupan: bahwa kitab suci merupakan nada yang menimbulkan gelombang suara alam, baik alam mikro maupun makro, yang dilambangkan lewat notasi angka dan tangga nada untuk diciptakan menjadi sebuah lagu.

Namun didalam kenyataannya, banyak yang terjadi bahwa; menjadi koki bagi dirinya sendiri saja tidak mampu, dimana makanan yang dimasaknya tidak enak dan tidak karuan rasanya, lantas dipaksakan untuk dimakan orang lain. Bahkan sering kali makanan yang beracun pun juga dihidangkan pada orang lain untuk dimakan. Sedang dirinya tidak pernah memakan, tidak pernah memasak, bahkan untuk kebutuhannya sendiri dia membeli pada orang lain. 

Hal inilah yang sering terjadi selama ini. Dan ketika ditanyakan kenapa tidak enak makanannya? Jawabannya selalu sama ; yaitu berlindung dibalik resep yang masih mentah. Dan masih belum diolahnya. Padahal kita tahu bahwa lain koki lain masakannya walaupun resepnya sama.

Oleh karena itu, jika kita ingin memahami kitab suci atau yang disucikan oleh masing-masing pemeluknya adalah konsistensi terhadap apa yan diucapkan. Sebegitu kita meyakini bahwa kitab itu merupakan kitab suci, maka mau tidak mau, suka ataupunn tidak, kita harus bisa menjadi koki untuk mengolah seluruh permasalahan yang ada menjadi makanan yang siap saji walaupun sebatas hanya untuk dirinya sendiri. Jangan sampai makanan yang dimasak sudah tidak bisa dinikmati oleh dirinya lantas orang lain yang disuruh menikmati. Bahkan walaupun bagi dirinya terasa enak, belum tentu orang lain bisa terasa enak. Bagaikan dirinya sedang bernyanyi bernada sumbang, maka orang lain yang mendengarnya pasti juga akan terasa sumbang. Dan jika memang ingin bernyanyi bersuaralah yang merdu, agar semua orang akan merasakan makna lagu yang kamu nyanyikan. Semakin merdu suaramu akan semakin banyak yang merasakan kemerduan itu menembus sanubarinya. Jika suaramu sumbang, bernyanyilah sendiri jangan didepan orang banyak. Agar orang lain yang semula hidup dalam kedamaian berubah menjadi kacau dan sumbang. Bahkan yang semula dirimu ingin menghibur orang yang lagi kacau, justru akan semakin kacau dan galau.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar