Partner | KAENDRA Tour & MICE

Sabtu, 26 November 2016

MAAFKAN AKU GUS MUS



Bukankah wajar jika aku marah ketika aku dihina dan dicaci, terutama ketika  agamaku dinista?  Bukankah  wajar ketika kyai yang aku hormati aku bela ketika orang lain merendahkan derajadnya??


Dengan begitu  aku benar-benar menjaga bahwa agamaku punya wibawa dan benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Ternyata pikiranku selama ini salah. Dan aku merasa malu pada Gus Mus. Sungguh aku benar-benar malu. Ketika beliau dinistakan oleh seorang pemuda.. beliau tidak marah, padahal bagiku itu merupakan hinaan yang amat besar, yang mungkin bisa aku bunuh ketika aku dihina seperti itu.

 Bahkan beliau dengan penuh kelembutan berkata bahwa tidak ada yang perlu dimaafkan.  Dan beliau juga mau menerima pemuda itu datang kerumah beliau bersama ibunya.

Oh.. aku benar-benar malu pada Gus Mus. Aku yang merasa  ilmuku sudah banyak..ternyata tidak ada artinya.. dan ternyata hanya bagaikan kapas yang tertiup angin dihadapan beliau. 

Aku yang selama ini merasa paling benar,  merasa mewakili Tuhan untuk menjaga agamaku ternyata salah besar didalam menerapkan rasa pembelaan terhadap tuhan. Ternyata.. oh ternyata. .aku hanya membela nafsuku sendiri.

Dan Gus Mus ternyata memberikan contoh bahwa membela itu bukan dengan kata, melainkan lewat sikap dan prilaku serta tindakan yang penuh kemulyaan ketika dirinya dihina. 

Dan itulah salah satu contoh  sebenarnya hakekat membela agama yang rahmatan lil alamin menurut beliau ketika beliau menolong orang yang menghina agar tidak dipecat dari pekerjaannya.

Maafkan saya Gus.. Maafkan  saya Tuhan.. maafkan saya yang selama ini merasa sombong. . Merasa orang lain selalu salah..merasa  aku yang terpilih mewakili.  Ternyata.. aku memang terpilih olehmu sebagai setan atau iblis. Serasa tidak pantas diriku menyandang nama muhammad didepan namaku. Tetapi perbuatan yang selama ini kulakukan bagaikan bumi dan langit. 

Terima kasih Gus Mus.. terima kasih  telah menyadarkan aku untuk kembali mencoba menjadi manusia. Baru aku menyadari bahwa selama ini hanya nama dan ragaku saja sebagai manusia ternyata aku adalah binatang jalang yang pura-pura sebagai manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar