Seringkali orang mudah bersumpah, bahkan terhadap masalah-masalah kecil yang tidak ada pengaruhnya terhadap orang lain sudah bersumpah. Menceritakan suatu kejadian agar dipercaya orang lantas bersumpah. Sehingga sumpah yang terlontar lebih banyak bersifat sumpah serapah serta mengandung sampah didalam rasa jika sedikit-sedikit bersumpah.
Jika dirimu merasa tidak bersalah, untuk apa bersumpah? Sebab bersumpah atau tidak, kebenaran adalah kebenaran itu sendiri. Terkecuali jika karena peraturan mewajibkan dirimu untuk bersumpah. Disamping itu, sumpah yang penuh kebohongan dan tidaknya, tetap akan mengantarkan diri kita terhadap #kesejatian atau #kepalsuan sumpahnya.
Jika kita bersalah, untuk apa bersumpah agar dapat menutupi kesalahannya? Dengan begitu sama halnya kita bertuhan pada orang-orang yang menyaksikan sumpah kita.
Orang yang mudah bersumpah itu, sebenarnya karena tahu dan menyadari bahwa sumpah itu #gratis alias tidak membayar sama sekali. Tidak ada unsur materi yang dikeluarkan. Bahkan, bisa jadi akan semakin mengangkat derajad seseorang lebih tinggi dari sebelumnya karena berani bersumpah. Tetapi.. itu dulu, sekarang jaman telah berubah.
Jika dulu seseorang berani bersumpah, lantaran merasa tiada balasan terhadap pengingkaran sumpahnya, atau karena lama sekali terjadinya hukuman sampai semua orang lupa, atau masalahnya telah kadaluwarsa. Tetapi sekarang tidaklah demikian.
Ketika jaman telah berganti menjadi jamannya hati, baik seseorang itu bersumpah atau tidak, diminta bersumpah atau tidak, masalahnya diketahui orang lain atau tidak; Adalah suatu KEPASTIAN bahwa apapun yang dilakukan akan segera dituai dengan secepatnya. Seluruh tindakan atau perbuatan apapun, baik atau buruk, akan segera dituai sesuai dengan yang ditanam. Tanpa harus menunggu kehidupan setelah mati (bagi yang percaya).
Dan jika kita merasa telah berbuat suatu kesalahan, tidak perlu orang lain yang menegur. Tidak perlu menunggu dihujat baru meminta maaf. Tetapi meminta maaflah pada diri sendiri. Setelah itu pasrahkan semua yang terjadi sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan untuk dijalani. Setelah itu berbuatlah kebajikan menurutmu dan bukan menurut orang lain. Dan untuk mengetahui bahwa perbuatan itu bermanfaat atau tidak adalah ketika dirimu merasakan kebahagian ketika berbuat. Dan orang yang mendapatkan kebajikanmu juga merasa bahagia. Dan teruskanlah berbuat kebajikan itu secara berkelanjutan. Sehingga rasa bahagia akan terus menerus menjadikan gelombang rasa yang selalu bergetar didalam dirimu. Bahkan mungkin akan menyesakkan dadamu. Dengan begitu kesalahan demi kesalahan yang pernah kamu perbuat akan sirna.
Jika dirimu merasa berbuat kesalahan lewat kata, minimal selesaikan pula dengan kata. Dan jika dirimu merasa berbuat kesalahan lewat perbuatan, selesaikan pula dengan perbuatan yang sekiranya bisa mengubah orang-orang yang dahulunya tersakiti olehmu. Terkecuali karena memang tugas-tugas yang harus kamu emban memang harus menjadikan suatu kuwajiban untuk dilaksanakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar