Partner | KAENDRA Tour & MICE

Senin, 23 April 2018

BENARKAH KITAB SUCI ADALAH FIKSI

Renungan sederhana: 

Semua orang tentu tahu bahwa kitab suci tidak dapat dipisahkan dengan para penganut agama,  sebab kitab suci merupakan tuntunan bagi para pemeluk agama. Dan kita juga tahu bahwa Agama secara etimologi berasal dari bahasa sansekerta yang berarti "tidak kacau atau damai. 


Jika kitab suci disebut fiksi maka istilah tersebut tidak cocok dan tidak koheren dengan makna yang terkandung didalamnya.  Mengapa? 

Sebagaimana arti dari fiksi adalah hasil dari buah pikiran.  Sedangkan tentram dan damai serta bahagia bukan merupakan hasil dari pikiran,  tetapi merupakan keadaan yang dihasilkan oleh #rasa.  Fungsi rasa itu sendiri bukan untuk dipikirkan,  melainkan untuk dinikmati,  dan untuk dirasakan segala perubahan warna rasa ketika akan melakukan suatu perbuatan,    serta akibat yang dihasilkan setelah melakukan perbuatan.  Kemudian untuk diingat dan dijadikan pedoman jiwa terhadap warna rasa yang suatu ketika kembali muncul ketika akan melakukan suatu pekerjaan. 

Semakin banyak memori warna rasa yang menjadi pedoman,  akan semakin mudah seseorang untuk menuju pada puncak rasa  yakni kedamaian itu sendiri. 

Sehingga mengapa dalam hal menganut agama disebut dengan istilah #memeluk_agama.  Dalam artian agar kita bisa merasakan segala kejadian terhadap perubahan warna rasa yang dialami. 

Dan mengapa pula disebut kitab suci?  Istilah suci itu adalah diperuntukkan bagi akal dan pikiran seperti halnya anak balita.  Dengan begitu,  warna rasa yang merasuk kedalam akal pikiran tidak terkontaminasi oleh sampah pikiran sebelumnya.  

Dan jika kemurnian rasa terkontaminasi didalam pikiran yang muncul adalah ilusi bahkan delusi bagi para pemeluk agama.  Sehingga yang semula adalah untuk mendapatkan kedamaian malahan akan membuat kehidupan semakin kacau balau. Serta tidak akan terjadi keselarasan dan keseimbangan antara pemenuhan kecerdasan akal dan pikiran yang merupakan pemenuhan manusia lahir dengan manusia batinnya. 

Intinya adalah kitab suci tidak bisa disebut "fiksi" karena bukan merupakan habitat otak kiri (IQ),  Melainkan merupakan bidangnya rasa atau habits otak kanan(EQ). 

Dan jika kitab suci dipaksakan untuk dipikir maka yang timbul bisa menuju ilusi dan delusi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar