Kemarin tanggal 16 April 2020 Patung Dewa Perang Kwan Sing Tee Koen yang merupakan monumen tertinggi di Asia tenggara yang berada di Klenteng Tuban telah runtuh . Patung tersebut setinggi sekitar 30 meter. Apa kira-kira semiotikanya?
Untuk membaca semiotikanya saya mencoba untuk mengulasnya sebagai berikut:
1. Patung dewa perang Kwan Sing Tee Koen itu runtuh ditengah pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia dimana dewa Perang tersebut berasal dari daratan Tiongkok;
2. Pandemi Covid-19 diawali propinsi Wuhan sedang keberadaan Patung dewa perang yang runtuh berada di Klenteng Tuban Jawa timur Indonesia. Padahal patung tersebut setinggi sekitar 30 meter serta tertinggi dikawasan Asia tenggara, dan anehnya tidak ada seorangpun yang menjadi korban;
3. Patung Dewa Perang tersebut melambangkan dewa keadilan, kejujuran serta kebijaksanaan;
4. Runtuhnya patung hanya tersisa kerangka besinya belaka.
Dari 4 hal diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa peperangan yang selama ini terjadi didunia hanyalah karena menginginkan pengakuan dan sekaligus untuk menebarkan kekuasaan belaka. Dan betapapun tingginya ilmu yang dimiliki dan menjadi negara yang Adi kuasa tidak akan mampu menghadapi kodrat alam semesta yang bisa menghancurkan segalanya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Serta tanpa adanya tanda-tanda sebelumnya. Bahkan dengan mewabahnya pandemi Covid-19 semua negara babak belur terkena seleksi alam. Mengapa??
Karena selama ini semua bangsa berlomba-lomba untuk menggapai kemajuan ragawi belaka dengan tanpa memperhatikan pada kedalaman diri untuk pembangunan jiwa. Sehingga pembangunan ragawi yang semula nampak kokoh dan megah hancur seketika.
Dengan robohnya patung tersebut menandakan bahwa keadilan, kejujuran, kebijaksanaan yang hanya sebatas kulit atau slogan, akan hancur menjadi puing-puing.
Dan dengan robohnya patung tersebut diharapkan nantinya tidak lagi ada peperangan yang mengorbankan banyak nyawa selain semuanya dapat berlomba-lomba untuk bersatu padu, membangun bangsa dan negaranya masing-masing dengan penuh rasa cinta kasih antar sesama. Serta tidak lagi memikirkan atribut apapun. Semuanya harus mengutamakan kebersihan dan kejernihan hati. Dan momentum Covid-19 yang menyerang seluruh dunia menjadi bukti bahwa sesungguhnya semua manusia itu memiliki kelemahan yang sama ketika menghadapi musuh yang tanpa kasat mata. Dan hanya orang-orang yang penuh cinta kasih sejati belaka yang mampu mengatasi segala persoalan dunia lahir maupun batin. Terbukti Pulau Bali sampai detik ini amat minim sekali terserang oleh covid-19. Kenapa?? Karena Pulau Bali disamping disebut juga dengan pulau dewata, juga terdapat pohon Cendana yang mempunyai keharuman yang khas serta masih pula melestarikan budaya aslinya dimana mereka tinggal.
Untuk itu lewat paparan semiotika diatas, akan semakin meyakinkan kita bahwa Covid-19 akan segera berakhir sepanjang didalam hati kita masing-masing penuh rasa cinta kasih antar sesama, serta mau menyadari bahwa seberapa tingginya kekuasaan, dan seberapa kuatnya ketokohan seseorang akan segera hancur tinggal rerangka, jika didalam diri kita masih tersimpan virus-virus rasa yang akan menyerang dan merobohkan diri kita sendiri. Terlebih lagi jika kita hanya sebagai patung belaka ketika melihat kemiskinan dan ketidak adilan disekitar kita.
Semoga bisa menjadi bahan renungan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar