Partner | KAENDRA Tour & MICE

Selasa, 12 April 2011

QUO VADIS NILAI-NILAI AGAMA?

Pernahkah kita berpikir saat orang-orang lain begitu mudahnya mencari kekayaan, namun tidak sedikit pula orang-orang yang rasanya begitu sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bahkan disaat penderitaan yang satu belum selesai sudah didera lagi dengan penderitaan lain secara beruntun. Juga tidak jarang pula hal ini terjadi pada orang-orang yang secara lahirnya jujur, tekun bekerja dan tidak mau berbuat segala hal yang dilarang oleh agama namun hidupnya selalu ditimpa kemalangan. Segolongan Orang-orang yang dikenal banyak bergelimang dosa, ketidak jujuran, korupsi serta kikir, malah hidupnya dipenuhi dengan kemudahan. Memang amat ironis sekali, bukankah agama itu adalah untuk memudahkan kita didalam mengarungi dunia ini? Ataukah memang orang-orang yang beragama dengan tekun itu hanya mendapat imbalan sorga setelah kematian, sedang dunia ini hanya tempat bagi mereka para pendosa tapi penuh kemudahan dalam hidupnya? Ini salah kaprah didalam memahami adanya adagium yang menyatakan bahwa agama itu untuk untuk bekal  diakherat, sedang untuk di dunia tidak dibutuhkan. 
Saya berpendapat, bahwa agama untuk orang yang hidup, bukan untuk orang yang mati.  Agama, adalah untuk memberi ajaran, serta mengingatkan kembali, bagi orang-orang hidup, bahwa kita dulunya siapa, asalnya darimana. Dan kenapa kita terlempar kemuka bumi. Juga diberitahukan, bahwa kita- kita manusia ini, dahulunya pernah hidup di sorga, sebelum diturunkan  kemuka bumi. Didunia, hanya sekedar bermain-main, atau berdharma wisata, dialam makhluk lain. Dan supaya kita bisa kembali ke surga seperti asalnya, maka munculllah agama itu.  agar mendapat  kemudahan, serta kebahagiaan di dunia ini, sebagaimana saat kita berada di surga.  Bila kita runut, ajaran agama tidak lain hanyalah berisi pokok-pokok ajaran baku meliputi : perintah, larangan, kisah dan sejarah, serta habitat keberadaan kita saat di surga, untuk bisanya kita terapkan dimuka bumi ini. Yang otomatis juga dilengkapai syarat-syarat utama seperti peta perjalanannya. Ringkasnya, bagaikan kita akan menyelam kedalam laut, tentunya perlengkapan untuk menyelam, haruslah tersedia secara sempurna. Harus pakai aqualung, harus bisa berenang, harus membawa senjata, dan pakaian khusus menyelam. Serta, harus sekian jam, disesuaikan dengan oksigen yang kita miliki, tidak boleh pada kedalaman sekian, dsb. Hal itu, adalah semata-mata untuk keselamatan kita sendiri. Mau tidak mau, kita yah harus menuruti, bukan karena terpaksa. Melainkan karena dunia laut yang akan kita masuki, bukanlah alam kita sendiri. Kalau kita tidak mengikuti aturan-aturan itu, tentu kita tidak akan bisa kembali kepantai. Apalagi disaat kita  terlalu menikmati keindahan dalam laut, sedang oksigen yang ada mau habis, apakah, kita masih tetap berada didalam laut? Dan, disitulah akhirnya kita akan mengalami bahaya yang besar, bisa mati didalam laut, atau bisa juga dimakan ikan paus, tanpa lagi bisa kembali kepantai, sementara memory keindahan, akan hilang musnah, tanpa bekas. Bila terjadi demikian, kita akan menyalahkan siapa? Jadi kita masing-masing, harus bertanggung jawab sendiri-sendiri. Tidak bisa menyalahkan perusahaan jasa penyedia peralatan selam, dan yang lainnya. Walaupun mereka merupakan pakarnya sekalipun, apa bisa mereka bertanggung jawab saat kita mati kehabisan oksigen, atau ada kerusakan pada salah satu alat selam yang kita miliki. Sebegitu, kita menyelam, tanggung jawab sepenuhnya ada didiri kita sendiri, termasuk didalam mengambil keputusan untuk terus menyelam atau kembali kepantai. Dan didalam mengambil keputusan inilah kita membutuhkan akal dan pikiran yang waras. Serta, tidak bisa begitu saja percaya akan alat-alat selam dan pelajaran selam yang kita dapatkan. Karena mereka juga manusia biasa seperti kita sendiri. Jadi butuh kejelian, pengalaman, dan insting. Karena saat menyelam, bisa saja ada perubahan arus, ada keadaan mendadak, tahu- tahu ada ikan hiu yang sedang menghampiri kita. Apa kita tetap melanjutkan penyelaman, walaupun semula dikatakan oleh ahlinya, bahwa ditempat kita menyelam tidak ada ikan buas. Mana yang akan kita percaya? Penglihatan kita dilapangan, ataukah pakar penyelam yang sudah mendapat brevet internasional itu sendiri? Begitu pula dalam hal Agama. Jadi, apapun yang telah disampaikan oleh pakar-pakarnya, itu hanyalah merupakan pedoman dasar, dan bukan merupakan adagium yang harus selalu dianut. Kita haruslah berakal sehat, seperti yang sering ditulis didalam kitab-kitab suci, agar kita menggunakan akal, didalam pemahaman agama itu sendiri. Kenyataannya, Agama sering dipersiapkan untuk bekal dihari kemudian, setelah kematian. Itu kan sama halnya, bahwa kita-kita disuruh memakai peralatan selam, bukan diperuntukkan saat kita dilaut, tetapi didaratan. Padahal kita memakai peralatan selam, supaya kita bisa kembali kepantai. Bukan malah sebaliknya. Bahwa disaat dilaut kita tidak memakai peralatan selam, tetapi saat didarat kita memakai peralatan selam. Aneh bukan? tidak sadar, bahwa hidup didunia ini bukanlah merupakan hidup yang sebenarnya. Melainkan, seperti halnya kita berada didalam laut yang merupakan dunia ikan. Sehingga tidak mengherankan, bila akhirnya kita hidupnya penuh kesulitan. Apa sesungguhnya yang terjadi? Hal itu disebabkan, agama yang seharusnya diterapkan untuk hidup didunia, namun tidak pernah dipakai untuk menerangi kegelapan, didalam menyusuri alam semesta ini. Dan kita-kita ini telah berubah bertuhan pada sejarah, atau bertuhan pada agama itu sendiri, bukan kepada pencipta Agamanya. Jadi tidak salahlah bila oleh  Ebiet G.ad.  menuliskan dalam syair lagunya” Apakah Tuhan sudah mulai bosan, melihat tingkah kita, yang terlalu banyak berbuat dosa. Benarkah Tuhan bisa bosan? Dan bukankah kata bosan, merupakan sifat nafsu dari manusia sebagai makhluk ciptaan Nya?
Dari pokok-pokok pemikiran, dan perenungan diatas, yang senantiasa berkecamuk inilah,  akhirnya hati saya tergelitik untuk menulis perjalanan spiritual saya. Yang kalau boleh saya katakan, adalah merupakan sebagai wisata bathin. Bagi siapapun yang telah pernah mengalami perjalanan sipiritual ini, tentu juga berpendapat sama. Yakni, disamping penuh dengan keindahan, juga ternyata dapat diterapkan untuk membantu kita, didalam menghadapi permasalahan-permasalahan. Baik yang menyangkut masalah duniawi, yang makin hari makin terasa semakin sulit, juga untuk memberikan ketenangan dan kedamaian. Juga, sudah tidak ingin untuk berbuat hal-hal negatif,  yang mengarah pada dekadensi moral. Dan, tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan, selama kita masih berada didunia ini. Tuhan, hanya akan memberikan apa yang diminta, baik permintaan itu disadari atau tidak. Sesungguhnya pula, Tuhan itu maha adil dan bijaksana. Apapun yang diminta oleh ummatnya, selalu dikabulkan, tidak perduli apakah orang itu beriman, atau tidak. Dan perlu pula saya sampaikan disini, bahwa Tuhan tidak akan pernah marah, senang, murka, mengamuk, sedih, dan hal-lain, yang sering kita dengar selama ini. Sebab, Tuhan bukanlah sekumpulan nafsu. Adanya keberadaan emosi, bukanlah merupakan sifat Tuhan. Dan Tuhan, tidak bisa diambilkan contoh-contoh, dari sifat-sifat segala  yang menjadi ciptaannya. Namun, sampai detik ini, rasanya masih sulit saya menerima segala watak itu adalah merupakan existensi Tuhan, walau ditambahi dengan kata-kata “Maha”. Menurut hemat saya, segala hal yang kita dengar itu, hanyalah merupakan kiasan tentang sifat Tuhan. Serta, semata-mata hanya karena ingin menunjukkan pada kita, bahwa kita ini sebenarnya tidak mempunyai sifat apapun. Juga diharapkan, kita tidak terlalu berlebihan dalam bersikap, dan berbuat sesuatu. Khususnya didalam berinteraksi sosial, sehingga dikiaskan, bahwa segala sifat itu, adalah melakukan sifat Tuhan itu sendiri. Janganlah engkau sombong, karena Tuhan Maha sombong. Janganlah engkau merasa kaya, karena Tuhan Maha kaya dsb.dsb. Dengan kata-kata demikian, agar kita berpikir, bahwa  maksud kata-kata itu, supaya kita sadar, bila semua yang ada didunia, dan alam semesta ini, hanya Tuhanlah yang menguasai, bukan karena marah, kasihan,  atau apapun. Sebab bila kata-kata itu diteruskan, suatu saat, Tuhanpun bisa dendam, cemburu, menangis, dan sakit hati, dimana kata yang saya sebutkan ini, adalah tetap saja merupakan refleksi dari nafsu itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar