TENTANG KEIMANAN
Manusia, pada dasarnya mempunyai 2(dua) karakter yang saling berlawanan, namun saling melengkapi( komprehensip), khususnya bila berkaitan dengan rasa ego yang tertanam didalam dirinya. Hal itu dikarenakan, didalam diri manusia, mempunyai bentuk Lahir (manusia lahir), dan bentuk halus (manusia batin). Hubungan antara kedua bentuk ini, harus serasi, seimbang, satu kehendak dan satu tindakan. Serta, satu kata dan satu perbuatan, bagaikan seorang manusia kembar siam, satu raga dua kepala, adapun yang menjadi masalah adalah; bagaimana bila seandainya si kembar siam ini, yang satu berkehendak ingin keutara, sedang kembar yang satunya, berkehendak kearah yang berbeda misalnya kearah selatan. Tentunya, setiap saat akan selalu bertengkar lebih dahulu, untuk memenuhi siapa yang harus dituruti kehendaknya. Cepat atau lambat, mereka akan bisa sama-sama mati, sebab mereka berdua hanya mempunyai 1( satu raga) yang dipakai berdua, dan menjadi 1(satu) yang tidak dapat dipisah.
Begitu pula halnya tentang keberadaan manusia itu sendiri. Sesungguhnya pula, hubungan antara manusia lahir, dan manusia bathin, juga tidak terlepas seperti orang yang kembar siam. Mereka harus saling koordinasi, untuk menuju keselarasan dan keseimbangan, dalam pencapaian, dan pemenuhan kehendaknya. Namun, kenyataan yang ada selama ini, masih banyak yang tidak bisa menyatukan kehendak, antara manusia lahir dan manusia batinnya. Dan yang extreem lagi, sering terjadi benturan antara keduanya. Contoh: ragu-ragu dalam mengambil keputusan, dan mengambil sikap terhadap suatu masalah yang timbul, dan tidak bisa segera diatasi. Ini menunjukkan, bahwa antara manusia lahir, dan manusia batin, tidak sinkron didalam mengambil keputusan, apa yang hendak dilakukan. Adanya benturan-benturan, atau penyimpangan inilah, akhirnya lama-kelamaan muncul stress, depresi, gila, susah dsb. Semua itu, semata-mata karena ketidak seimbangan, dalam satu tindakan, dan satu perbuatan.
Dari perubahan karakter dasar manusia inilah, akhirnya muncul 2 karakter manusia, yakni: Pertama : Manusia itu “homo homini lupus”, dimana manusia, adalah merupakan serigala bagi manusia yang lainnya. Dengan begini, berarti manusia masih tetap saja wataknya seperti binatang, didalam pemenuhan segala kehendaknya. Padahal, manusia dilengkapi dengan hati, nafsu, akal, dan penalaran. Hal ini bertujuan supaya ada perbedaan, dari segala makhluk yang lainnya, yang tidak memiliki “Lobus frontalis”, yang mengarah pada budi luhur. Juga yang memunculkan penalaran, dari akar kata bahasa jawa “ Nalar” singkatan dari “nala kang melar” yang kurang lebih berarti “hati yang mengembang/memuai”. Namun, secara bio molekuler, manusia dengan binatang sama, seperti yang telah saya tulis di ENERGI HIKMAH. Karena, tidak adanya keseimbangan, dan kesamaan, didalam berkehendak, antara manusia lahir, dan manusia batinnya. Maka terjadilah watak serigala pada orang tersebut.
Kedua : Manusia itu adalah “Zoon Politicon” , dimana manusia, adalah sebagai makhluk sosial, atau binatang yang berpolitik, bersosialisasi, serta berinteraksi dengan manusia yang lainnya. Dan yang kedua inilah nantinya yang saya bahas. Serta, yang ada hubungannya terhadap kebaktian seseorang pada TUHAN. Dan, yang akan menentukan segala-galanya. Termasuk kaitannya, didalam pencarian karakter dan dzat Tuhan, didalam diri manusia. Dan ini, saya istilahkan dengan “Peta perjalanan Tuhan.” Peta ini merupakan pedoman manusia, terhadap hidup, dan kehidupan, diri manusia itu sendiri. Sebab, perjalanan Tuhan itu, yang akan menentukan kharakteristik manusia, didalam memilih karakter atau memasukkan karakter Tuhan. Dan disamping itu, hanya manusia yang berkarakter zoon politicon ini sajalah, yang bisa saling berinteraksi, antara yang satu, dengan yang lainnya. Didalam interaksi sosial ini, diperlukan suatu aturan, atau tatanan, serta norma-norma. Yang kesemuanya itu, adalah untuk membuat manusia bisa hidup tentram, dan damai, dalam komunitasnya. Selanjutnya, dengan tatanan yang baik untuk mengatur komunitasnya, akan membuat masing-masing orang yang ada didalamnya, akan senantiasa mengikutinya pula dengan baik.
Selanjutnya, berbicara tentang kebaktian secara umum adalah, bagaimana kita menjabarkan, dan sekaligus mengamalkan, apa yang menjadi norma-norma kehidupan, yang ada ditengah-tengah masyarakat. Dengan tanpa meninggalkan kepentingan-kepentingan pribadi secara baik, serta mengikuti apa yang menjadi aturan, bukan yang tekstual. Akan tetapi, apa yang terkandung secara kontekstual, yang ada didalam tata aturan tersebut. Sehingga dengan demikian, kita akan mengerti substansinya, dan selalu diterima, tidak hanya didalam komunitasnya sendiri, melainkan juga secara universal dimana masyarakat itu berada. Untuk itu, kita harus memberikan garis merah, antara kebaktian secara umum, dan kebaktian secara khusus ini dengan apa yang dikatakan ”keimanan”.
Dan keimanan, akan mengantarkan seseorang, untuk dijadikan sebagai pedoman didalam meniti hidupnya. Apakah dia akan berhasil dengan baik, ataukah gagal dengan penuh kesusahan, dan penderitaan. Apalagi, bila seseorang tersebut sama sekali tidak punya sedikitpun keimanan didalam dirinya. Antara yang beriman, dan yang tidak, tergantung sepenuhnya, dari seberapa besar dia mempunyai keinginan, ataupun impian hidupnya. Antara lain, dari seberapa besar permintaan, secara umum, maupun yang secara khusus. Untuk lebih jelasnya, kami gambarkan tata urutannya sebagai berikut: Kebaktian secara umum, akan melahirkan “keinginan” secara umum, kebaktian secara khusus, menghasilkan keinginan secara khusus pula. Kalau permintaan itu secara umum, maka yang diberikan, juga secara umum. Ini bila kebaktian juga secara umum. Bila kita dekat dengan Tuhan secara khusus, maka kita juga akan mendapatkan perlakuan secara khusus pula.
Dari keinginan secara umum, akan melahirkan “keimanan” secara umum. Begitu pula keinginan secara khusus, juga akan melahirkan keimanan secara khusus. Dan perlu diketahui, bahwa hal-hal yang secara umum, hanya diperuntukkan pada segala hal, bagi kebutuhan tubuh lahiriah. Sedangkan yang khusus, adalah untuk kepentingan, disamping lahiriah, juga untuk kebutuhan batiniah.
Dari keimanan secara umum, akan melahirkan Keyakinan ( Kepercayaan) secara umum, begitupun yang khusus, akan melahirkan yang khusus.
Dari keyakinan secara umum, melahirkan ketaqwaan, (kepatutan/kepatuhan) secara umum. Sedangkan keyakinan yang khusus, akan menjadikan ketaqwaan yang khusus, menuju pemenuhan, antara lahir dan batin. Dan terakhir, dari ketaqwaan (kepatuhan/kepatutan) inilah, nanti yang akan mengantarkan hidup manusia, pada tingkat keberhasilan, dari apa yang menjadi hak, dan kewajiban manusia, didalam memenuhi harkat hidup, dan kehidupannya, didunia ini, sampai meninggalnya lahir dan batin. Termasuk didalam melahirkan keabadian hidupnya, lewat generasi-generasi penerus yang terlahirkan setelahnya.
Bila kita perhatikan kriteria diatas, maka sesungguhnya, sudah dapat ditarik kesimpulan. Bahwa, kebaktian itu adalah merupakan hal yang dominan terhadap seseorang, didalam menentukan, sampai sejauh mana mereka punya keinginan, untuk memenuhi kebutuhannya. Untuk lebih jelasnya, saya berikan contoh, mungkinkah anak kecil, akan makan melebihi kapasitas perutnya. Dan mungkinkah seorang Tukang becak, akan menginginkan kekayaan, seperti yang dikehendaki oleh para konglomerat? Semuanya terukur, dari tingkat kebaktian ini. Sehingga, tidak memungkinkan seseorang akan bermimpi, menjadi orang yang super kaya raya. Yang diidamkan, tentu akan hanya menghendaki kehidupan yang layak. Sesuai dengan alam kebaktian yang dijalani selama ini.
Jadi, bila ingin mempunyai impian, atau keinginan yang besar, menjadi orang yang kaya raya, maka langkah pertama yang harus dijalankan, adalah tingkatkan lebih dahulu kebaktian pada Tuhan, dari secara umum, menuju secara khusus. Sebegitu tingkat kebaktian itu berobah, maka secara otomatis, impian kita akan berubah dengan sendirinya, tanpa harus disuruh untuk bermimpi. Bagaikan seseorang, yang semula kecil, begitu bertambahnya umur yang dijalani, tentu akan semakin besar. Mengikuti perkembangan umurnya, mulai dari makanannya yang bertambah banyak, juga keiginannya yang semakin banyak pula. Dari gambaran-gambaran yang ada, tentang kebaktian secara umum ini, saya kira kita semua telah merasakan, bahwa semua orang, tentu akan mengklaim dirinya telah melakukan kebaktian secara umum, secara benar. Bahkan, tidak sedikit mereka yang merasa dirinya telah berbakti, seperti apa yang diperintahkan Tuhan. Namun, tidak sedikit pula didalam hatinya akan bertanya, kenapa hidupnya senantiasa menderita? Begitu pula mereka yang kaya raya, akan mempunyai perasaan, bahwa dirinyalah yang berbakti secara benar pada Tuhan. Terbukti dirinya sudah berhasil mengumpulkan kekayaan. Serta, selalu berhasil, dan mencapai, apa yang menjadi cita-citanya. Sementara mereka yang gagal, berarti kebaktian yang dilakukan juga salah. Benarkah begitu? Untuk menjawabnya, seharusnya masing-masing orang, harus bertanya pada dirinya sendiri. Benarkah aku berhasil, dan berbakti pada Tuhan secara menyeluruh, lahir dan batin? Sudahkah tidak ada kesusahan didalam dirinya? Dan sudah seringkah mereka yang berhasil itu, melakukan sifat-sifat Tuhan, serta menjalaninya pada setiap mereka membutuhkan? Kalau menjawab sudah, tetapi kenapa masih banyak pula kehidupan diantara mereka, yang belum mencapai sasaran. Kegagalan demi kegagalan, kesusahan demi kesusahan, selalu dialaminya. Bahkan, disaat terjadi bencana yang menimpa kampungnya, lantas berlarian kesana kemari, sambil melolong-lolong. Dan tidak ada perbedaan, antara yang kaya, dan yang miskin. Antara mereka yang merasa telah berbakti, dan yang tidak berbakti. Bahkan pula, kendatipun ada musibah kecil saja, seperti disaat ada anak istri, sanak saudara yang meninggal, lantas berduka begitu dalam sekali. Inikah yang dikatakan kebaktian?
Lantas, kalau sudah begitu kenyataannya, dimana permasalahannya? Adakah kesalahan-kesalahan yang dilakukan? Sehingga, ada orang yang begitu kaya raya, sementara yang lain begitu miskinnya? Pernahkah kita merenungkan, dengan pembuktian terbalik? Menurut hemat saya, semua itu adalah dikarenakan, mereka-mereka ini tidak mengerti secara benar, pengetahuan tentang Tuhan secara maknawi. Sehingga, bila tidak mengerti, maka akan selalu berada didalam kesesatan. Khususnya, saat mengarungi hidup di dunia ini. Jadi, dengan demikian, makin jelaslah bagi kita, bahwa kebaktian itu, adalah merupakan peranan penting. Sehingga, definisi kebaktian, adalah memasukkan karakter Tuhan itu, kedalam karakter kita sehari-harinya. Khususnya, karakter Tuhan mana yang kita butuhkan. Dan karakter tersebut agar menyatu, adalah dengan melatihnya, menjadi suatu tindakan yang nyata lewat perbuatan. Kenapa harus demikian, dan bagaimana pula melatih, menjadi suatu tindakan yang nyata, adalah lewat tahapan-tahapan sebagai berikut :
Sejak manusia terlahir kemuka bumi ini sesungguhnya mereka diajak tour of duty oleh Tuhan. Dan alam dunia ini, bukanlah merupakan alam manusia, tetapi adalah alam makhluk-makhluk selain manusia. Didalam tour of duty tersebut, jalannya adalah melewati kelahiran dari rahim ibu, yang dikatakan dilahirkan. Makanya, begitu kita mati, dikatakan “ Pulang ke Rahmatullah. ” Yang berarti, kita telah selesai tour of duty, dan pulang kerumah kita sendiri, yakni Rahmatullah. Kenapa kita diajak tugas wisata? Jawabnya adalah, karena kita ini, merupakan wakil dari Allah, sebagai khalifah Tuhan. Dan, supaya kita tidak tersesat didalam tugas wisata, manusia diberi bekal berupa badan kasar, atau raga, beserta segala komponen-komponen penting. Maksudnya, supaya manusia bisa menyesuaikan diri ke lokus dunia, yang memang bukan alam kita sendiri. Untuk penyesuaian itu, manusia haruslah terlebih dahulu menginstal, antara perangkat asli kita, yakni manusia batin. Yang merupakan lokus asal, sewaktu disisi Tuhan, dengan perangkat lahir, saat dipergunakan hidup didunia dalam tugas wisata. Persis, seperti kita menginstal perangkat komputer, dengan printernya. Jadi, dimana kita lahir, dan dihidupkan, berarti ditempat tersebut, merupakan tempat awal darma wisata kita. Dengan begitu cara kita menginstalnya, adalah dengan budaya dan adat setempat. Sedang yang bertugas menginstal, adalah kedua orang tua kita, khususnya ibu. Karena masing-masing manusia dilahirkan pada tempat, situasi, dan keadaan yang berbeda satu sama lain, maka didalam menginstalnya juga berlainan. Tergantung niat, maksud, dan tujuan kita, didalam tugas wisata bersama Tuhan tersebut. Bukankah hal ini juga sama, dengan komputer dengan printer, yang masing-masing merk, pasti mempunyai ciri khas tersendiri. Sehingga dengan begitu, setelah terinstal, maka printer tadi dapat dipergunakan untuk mencetak, segala apa yang dihasilkan dari komputer tersebut. Lalu, komponen apa yang akan diinstal didalam diri kita? Yakni komponen-komponen yang ada, didalam manusia batin, yang merupakan perangkat komputer. Sedangkan untuk printernya, adalah komponen-komponen yang terkandung didalam manusia lahir.
Bersambung.........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar