Partner | KAENDRA Tour & MICE

Minggu, 10 April 2011

SAKRALISASI dan SPIRITUALISASI PEMAHAMAN BERAGAMA

 Jaman  sekarang ini, hampir tidak ada orang yang tidak beragama, didalam kartu penduduk, semuanya tercantum, agama apa yang dianutnya. Semua para anggota masyarakat, mulai dari strata yang terbawah sampai yang tertinggi, akan tersinggung bila dikatakan tidak beragama. Dari pengemis, tukang becak, tukang sapu, pencopet, perampok, menteri, Dewan Pimpinan Rakyat, bahkan presiden sendiri, pasti akan menganut agama tertentu. Disamping itu, apabila ada acara peribadatan, baik pada hari-hari  tertentu secara rutin, rumah peribadatan masing-masing penganut agama, selalu dipenuhi oleh para jemaatnya.  Namun, apakah diantara kita semuanya ini menyadari, bahwa didalam kita beragama ini, sudah benar-benar hidup sebagai orang yang beragama. Ataukah hanya sebatas kulit, dan disaat melaksanakannya, hanyalah sebatas pula pada acara-acara seremonial belaka? Disaat kita menghadapi ujian, dan cobaan yang kebetulan menerpa , entah itu musibah, entah itu barokah. Sepertinya, semua ajaran yang kita anut, dan kita pahami, hilang begitu saja. Walaupun secara tektual kita tahu, bahwa agama itu adalah merupakan satu-satunya jalan, untuk meniti kehidupan didunia, yang serba komplek ini, agar mendapatkan suatu kebahagiaan. Minimal untuk dirinya sendiri, dan keluarganya. Sehingga nantinya, bila masing-masing orang, yang melaksanakan makna dari agama, diharapkan, bisa pula menjadikan satu kesatuan yang kokoh, antara ummat agama yang satu, dengan ummat agama yang lainnya. Disamping itu, dengan adanya berbagai  ajaran yang berbeda, sesuai dengan  budaya dimana ajaran agama terlahir, bisa menimbulkan suatu harmoni lagu indah, yang akan menghiasi kehidupan kita didalam bermasyarakat. Bukan malahan sebaliknya, menimbulkan disharmoni, antar masing-2 penganutnya. Tidak saja dengan penganut-penganut yang berbeda, bahkan justru didalam kalangannya sendiri. Keberadaan agama, seolah bagaikan fatamorgana, yang tidak bisa dipeluk, dan diraih. Atau, bagaikan sesuatu  yang berada didalam keranda kaca. Bahkan fatalnya, beragama seolah  ada rasa ketakutan, bagaikan akan membuka kotak Pandora.

Menurut saya, ini terjadi, karena bagi masing -masing kaum beragama, tidaklah pernah menghayati  secara benar, makna yang terkandung didalamnya. Selain  Karena memang kebetulan saja orang tuanya beragama A, sehingga anak-anaknyapun agama A. Terlepas, apakah kita mengerti atau tidak, serta tidak adanya tolok ukur, sampai sejauh manakah, kita dikatakan beragama dengan benar dan baik, selain dari penilaian umum, anggota masyarakat sendiri, dimana kita tinggal. Jangankan kita, sedangkan mereka yang memberikan penilaianpun, suatu ketika bisa pula terjebak, oleh penilaiannya sendiri, serta menjadikan boomerang bagi dirinya, dan keluarganya. Masih ingat kisah Aa’ Gym, serta kisah-kisah yang lain, termasuk yang baru saja terjadi, pada salah satu anggota DPR kita Roy suryo? Ini adalah suatu gambaran, bukan merupakan suatu judgment, bahwa mereka salah. Namun setidaknya, dihati mereka tentu akan muncul pergolakan, rasa malu, rasa sedih, rasa marah dsb. Walaupun dipermukaan memang tidak ketara, selain mereka sendiri yang mengalami. Nah, disinilah sebenarnya, peran agama yang mereka anut, akan bisa memberikan suatu jawaban. Agar dikelak kemudian hari, kita-kita semua ini, tidak akan mengalami seperti yang mereka alami. Satu-satunya jalan keluar adalah, dengan  memahami agama itu dengan sebenar-benarnya. Serta, bisa terterapkannya dalam kehidupan sehari-harinya, dan bukan hanya secara ikut-ikutan belaka. Lantas, bagaimana hal itu bisa terwujud? Yang muncul dibenak saya, adalah dengan lewat “sakralisasi”dan spritualisasi” didalam pemahaman beragama, bagi diri kita masing-masing.  Apa sih yang dimaksud sakralisasi dan spiritualisasi beragama? Untuk mendapatkan persepsi yang sama, perlu saya sampaikan disini, bahwa ada empat kriteria yang merujuk pada masing-masing orang, didalam menjalankan agama masing-masing. Sebagai berikut :
Pertama : Pemahaman secara Cerimonial; Mereka yang berada di kalangan ini, adalah mereka yang menjalankan ajaran agamanya, hanyalah sebatas ceremonial, atau disaat ada upacara-upacara keagamaan belaka. Setelah upacaranya selesai, mereka akan kembali pada watak, sikap prilaku, dan habitatnya masing-masing.  Dan, hanya sekedar ikut-ikutan menyemarakkan suasana belaka, sekedar mengamini. Inilah yang dikatakan taqlid. Yang pada jaman Usman bin Affan  banyak diperangi, dan diberangus. Sebab hal ini bisa membahayakan, tidak hanya bagi ummat beragama yang lain, tetapi juga bagi kalangan dimana mereka berada. Diantara merekapun, tidak hanya orang yang buta  saja terhadap ayat-ayat tertulis atau tekstual. Melainkan banyak juga yang hafal ayat-ayat sucinya, namun hambar. Bagaikan kita bernyanyi, mengerti arti lagu yang dinyanyikan, sampai hafal notasinya, namun belum bisa menjiwai. Bahkan disaat ada lagu sedih, tetapi menyanyinya sambil tersenyum. Sama halnya orang bersumpah, dan berjanji, tetapi tidak pernah menepati apa yang dijanjikan. Yang apabila didalam QS. As Shoff ayat 2 dan 3 dikatakan : “Wahai orang yang beriman, kenapa  engkau mengatakan segala sesuatu, yang engkau sendiri tidak mengerjakannya; Sesungguhnya merupakan kemurkaan besar disisi Allah, bagi mereka yang tidak melaksanakan, apa yang dikatakan.” Pemahaman ini adalah pemahaman Tekstual belaka ;
Kedua  : Pemahaman secara Ritual ; Mereka yang berada di kalangan ini, sudah memahami ajaran agamanya secara benar, serta sudah menjalaninya bagi dirinya, dan keluarganya dengan baik. Tidak hanya aktif didalam upacara-upacara keagamaan saja. Tetapi, juga aktif didalam sosialisasi ajaran itu, namun masih secara tektual. Dan, didalamnya masih ada pesan-pesan tersembunyi, untuk mengikuti golongannya. Agar massanya semakin banyak. Bahkan tidak segan-segan memberikan schok terhapy, bagi mereka yang tidak sealiran. Namun masih belum secara universal, serta masih bersifat individual. Atau, yang saya istilahkan masih secara rahim. Mereka masih ada batasan, bahwa agamanya sendirilah yang benar, sementara  yang lainnya salah. Mereka kurang begitu menghargai adanya perbedaan. Dan belum menyadari, bahwa perbedaan itu adalah indah. Perbedaan itu bisa menimbulkan harmoni kehidupan. Sehingga pada kalangan ini, masih sering timbul benturan-benturan. Khususnya, apabila ada kaitan dengan perbedaan yang mereka anut. Tidak hanya  pada golongan yang lain agama. Bahkan, didalam kalangannya sendiripun, sepanjang tidak sealiran bisa dimusuhi. Serta, bisa menimbulkan pertikaian-pertikaian yang mengorbankan nyawa, keluarga, juga, bisa pula membuatnya miris, bagi siapa yang melihatnya. Sepertinya, mereka sendirilah yang mendapatkan firman. Tanpa perduli, apakah yang diajak bertikai, sikap dan perilakunya sudah baik, atau tidak, pada lingkungannya. Dan diantara mereka masih ada kekhawatiran, bila ajarannya malah merebak, dan merusak tatanan yang sudah ada. Padahal, sebenarnya fungsi agama yang benar, tak akan pernah ada istilah merusak, dan sebagainya. Dan pemahaman ini, saya golongkan pula sebagai pemahaman secara kontekstual. Karena, mereka rasanya kurang begitu afdol, bila didalam memahami agamanya, tidak menggunakan bahasa aslinya, dimana agama itu diturunkan. Sehingga tidak salahlah bagi saya sebagai ummat Islam, untuk merenungi kembali apa yang dipesankan oleh Rasul kita selesai haji wada’(perpisahan). Bahwa ummat Islam, akan terpecah menjadi 73 golongan. Yang kemudian, pesan ini banyak disalah artikan, oleh masing-masing penganutnya.  Sehingga berlomba-lomba, untuk menarik massa sebanyak-banyaknya, hanya dalam segi kwantitas, tanpa memperhatikan entitas maupun kwalitas, bahwa golongannyalah yang benar dari 73 golongan yang dimaksudkan Rasul.Dan bukan berlomba-lomba berbuat kebenaran dan kebajikan bagi diri mereka sendiri.
Ketiga : Pemahaman secara sakral  ; Mereka yang berada pada golongan ini, pemahamannya sudah menukik pada pemahaman dalam  melihat ajaran, tidak hanya dari segi tekstual belaka. Namun, sudah melihat dari sisi kontekstual, dan substansinya, apa dan kenapa, agama itu diturunkan kepada kita semua. Mereka, tidak ada kesempatan lagi untuk memperhatikan ajaran-ajaran disekelilingnya, ada perbedaan apa tidak. Yang penting, mereka tidak menyalah artikan terhadap agama apa yang dianutnya. Melainkan, cukup dilihat dari sikap, dan perilakunya, pada tatanan kehidupan sehari-harinya. Dan mereka meyakini, bahwa agama yang dianut oleh masing-masing agama, tidak ada yang mengajarkan kejelekan, dan kejahatan, kebatilan dsb. Namun, semua akan ditinjau dari segi kwalitas perilakunya. Menimbulkan kemirisan, ketakutan, dan ketentraman apa tidak. Serta, sudah mengarah pada pemahaman secara universal. Atau pemahaman secara rahman, dan memandang semuanya sama-sama untuk mencari ketentraman, dan kedamaian, bagi keberlangsungan hidup dan kehidupannya.
Keempat : Pemahaman secara spiritual ; Mereka yang berada pada golongan ini, sudah tidak lagi  memikirkan, apakah orang lain itu beragama atau tidak, sesuai atau tidak. Yang penting, dia akan selalu mencari dan mencari, hikmah apa yang tersembunyi dibalik kejadian-kejadian. Baik itu merupakan peristiwa yang sudah berlalu, yang sedang terjadi, ataupun yang akan terjadi. Semuanya, tidak akan lepas dari pemikirannya. Bukan pada kejadiannya. Melainkan terhadap sebab akibat,(kausa prima) sampai hal itu terjadi. Dan, semiotika apa yang dialami, dirasakan, serta akibatnya bagaimana, tidak akan luput dari perhatiannya. Mereka, pada umumnya sudah tidak lagi merasakan kesusahan, kesenangan, kebahagiaan. Yang ada, hanyalah makna yang terkandung didalamnya. Sebab, bagaimana bisa merasakan kebahagiaan, sedangkan penderitaan itu, sudah dianggapnya sebagai variable yang memang harus dijalani. Disamping itu, yang ada hanyalah tingkat kesadaran, bahwa setiap berpikir, bersikap, dan bertindak, sama halnya dengan melepaskan energy. Jadi, energy yang dikeluarkan akan diperhitungkan, adakah manfaat yang dihasilkan, minimal bagi dirinya sendiri. Dan, bukan pula materi yang menjadi acuannya. Melainkan 5 hal, yakni; tentang energy, materi, ruang, waktu, serta informasi(semiotika). Dan bagi golongan ini, akan bisa memghablur pada seluruh pemahaman, baik yang se aliran, seagama, maupun dari kalangan-kalangan agama lain. Dan bagi mereka, tujuan tunggalnya, adalah kembali kepada Dzat Mutlaknya. Serta, sudah tidak lagi berpikir tentang surga, maupun neraka, semua terserah, kemana akan dikembalikan.  Tidak butuh pujian, setitik noktahpun, serta juga tidak akan goyang, disaat ada cacian sehina apapun, apalagi yang hanya lewat panca indra. Semuanya, bagi mereka pada golongan ini, tentu akan menganggap “ Semua adalah Semiotika “ sambil menunggu kapan akan pulang keharibaan Nya. Semoga bermanfaat untuk dijadikan bahan renungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar