Sayang....., seandainya jejak langkahku tak pernah berbekas,
Dan seandainya saja, cakar-cakarku tak pernah menghunjam ditanah,
Serta tak nampak ada sisa langkah yang terbaca, seperti katamu.
Juga, aku susah diterka dan dipercaya, itu juga katamu.
Disaat aku bilang, aku adalah seekor burung, sebagaimana mereka.
Burung-burung yang berterbangan dilangit sana.
Lagi-lagi kau bertanya, kenapa burung tak pernah mencakar?
Bahkan tak pernah bisa memberikan tapak kenangan?
Juga rona dan warna diatas tanah membuat kebahagiaan?
Sayang... sekali lagi aku katakan padamu.
Aku bukan burung pelatuk, yang hanya pandai mengetuk.
Pada tiap-tiap hati yang gersang dan kerontang.
Dan aku bukan pula burung pemakan bangkai.
Bahkan, aku hampir menjadi bangkai, disaat hinggap dikelopaknya
Yang ternyata adalah bunga bangkai, itupun menurutmu.
Karena tak pernah hendak mencakar, bahkan tak pandai merangkai,
Bunga-bunga cinta, dipintu goa hati. Diatas tubuh-tubuh lunglai tak berdaya.
Sayang, aku juga bukan burung sikatan,
Yang akan lari duluan, sehabis menyikat buruan.
Juga bukan burung hantu, yang berani makan disaat kelam.
Tetapi... , aku adalah burung Rajawali yang terbuang
Diantara sekumpulan ayam piaraan.
Tiada teman, tiada sanak dan saudara yang tahu, bahwa aku terluka.
Dan mungkin, tiada satupun Rajawali lain dijaman ini.
Selain burung sikatan, burung pipit, dan burung-burung pemakan cinta.
Sebagaimana yang terbiasa nampak dimatamu, dan itupun, juga katamu.
Padahal, aku adalah seekor Rajawali, walau bagimu, mungkin tak lagi berarti.
Sayang......,
Haruskah aku mati, setelah masuk goa maharani?
Ataukah, menyendiri dikebun kopi menunggu renjanamu seperti dulu?
Ataukah berada dikebun karet, membawa luka yang berderet-deret?
Ataukah dikebun tebu, merasakan rindumu yang telah membatu.
Mungkin...., aku telah tak berarti bagimu,
Walau tetes-tetes air mata darah telah mengucur tak terasa
Mengenang bibir rindumu seperti dulu.
Yang merindukan untuk mengajakmu terbang tinggi.
Namun....., kau masih tetap membisu, dan berlari dari indahnya kenangan
Sayang,.....
Aku adalah burung kerajaan, yang tak pernah kau dukung.
Agar bisa menjadi kaisar, walaupun dialam maya.
Bagimu, lagi-lagi kau bilang” apa arti seekor rajawali”?
Yang hidup didalam sunyi,tiada lagi kepak kehidupan
Diantara hingar bingar sekumpulan ayam piaraan, atau burung-burung kecil.
Tetapi engkau lupa, bahwa dirimu, bahkan didalam jiwamu.
Ada api dan nyala rajawali sebagaimana diriku.
Dan mungkinkah Rajawali tidak tahu bangsanya sendiri?
Apalagi kini, telah muncul rajawali lain, yang menjadi anak kita bersama.
Yang juga butuh dekapan kasihmu tuk merajut kehangatan asa.
Agar terbimbing terbang diawang-awang.
Sayang, akankah kau biarkan mereka terbang sendirian?
Sayang, aku adalah Rajawali yang mencoba meniti langit.
Mencoba menjaring matahari, melukis awan, dan meraih buih.
Bersama anak kita, merajut mimpi-mimpi yang hilang
Dan merajut kenangan, agar terukir pada Zaman
Tentang seekor Rajawali, yang mungkin terbuang dari hidupmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar