Edelweiss......,
Petang ini, disaat derasnya hujan telah berhenti tercurah.
Dan pekatnya megaranta yang berarak telah sirna.
Mestinya, petirpun ikut tergelincir dalam kekelaman.
Mestinya, langitpun kembali benderang.
Kendati tiada mentari dan rembulan....
Namun jutaan gemintang, nun jauh disana
Mestinya akan menjadi pertanda bagimu, juga bagiku.
Akan kembalinya tembang renjana, yang pernah dan selalu tertorehkan
Namun, telah pula aku torehkan dalam pena nuansa.
Bahkan telah aku goreskan pula pada langit-langit cita dan cinta.
Tentang kuncup bungaku dan bungamu, anyelir putih yang hampir mekar
Dan kuncup alamanda, serta bougenvil merah,
Akan kurajut menjadi mahkotamu, disaat kau jadi suri jiwaku.
Kini, kembali tersaput badai dukana yang terus kau ciptakan.
Dan bukan tercipta karena wacana,
Melainkan karena didalam dirimu, tetap terpatri sebuah dilemma.
“ Bahwa aku, tetap sebagai narapidana,
Yang selalu punya renjana dalam menggapai cinta
Dan, selalu menghantui dirimu setiap masa, itupun menurutmu.
Tak selintaspun terbersit kata.
Bahwa, narapidana juga bisa menjadi pendeta.
Tetapi, kau tetap mendakwa dalam stigma buta.
Yang tak pantas lagi merajut cinta bersama,
Selain hanya untuk merana dalam dukana, bukan gitana.
Apalagi mendamba seonggok cinta edelweiss, seperti dulu
Yang pernah kita goreskan lewat sekapur sirih doa, dan air mata.
Kini,.... aku selalu menyendiri dikebun asaku, walau penuh duka
Menunggu, hanya segores makna darimu
Untuk menghapus gerhana cinta dengan keharuman maknamu
Didalam tembang kenangan, edelweiss bunga abadi.
Edelweiss....., aku lelah dan rindu .
Pro : seseorang di pondok Asa, teriring dengan doa, agar mendapat sejuta
makna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar