Kala itu, disaat kau terlihat mekar semerbak.
Diantara kelopak dedaunan, terselip bunga kuning keemasan
Bunga Maharani, diantara ribuan bunga-bunga yang lain.
Kelihatan begitu indah merona, terlumuri warna mu
Walau kelihatan begitu nampak terasing,
Serta tiada duri yang menopang kelopak bungamu
Namun, duri yang berada didalam jiwa bungamu,
Melebihi duri sekelopak mawar rimba.
Yang bisanya hanya melukai jari jemari belaka.
Tidak demikian dengan bungamu.
Kau bisa hidup tegar, kendati tiada duri yang menopang
Tak gampang untuk gugur, atau layu seperti mawar, dan sedap malam.
Dan, disitulah aku mencoba hinggap di awang-awang
Sembari mengecup putik bungamu
Kendati tanpa hinggap diraga batangmu.
Yang memang gampang patah dan lunglai.
Lalu apa arti sekuntum maharani?
Bila tiada dahan dan batang.
Walaupun katamu demi kehidupan dinasti rajawali
Bukan pula aku tak hendak hinggap
Tetapi, aku justru telah menyatu kedalam sari-sari putikmu
Kendati tapak kakiku sekedar diawang-awang tangkaimu.
Bahkan pula sering menjadi penopang batin pada dahanmu
Agar tidak lunglai dihempas badai kehidupan
Karena aku adalah rajawali yang mampu berbuat apapun
Dan sesungguhnya pula,
Rajawali dan maharani adalah satu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar