Partner | KAENDRA Tour & MICE

Sabtu, 28 Mei 2011

“BERDOA” ATAU "MEMBACA MANTRA" ?

 Sebagian orang, disaat kesusahan disuruh membaca doa kepada Tuhan, namun ternyata doanya tidak pernah berhasil. Bahkan banyak  pula yang dibaca berulang kali setiap saat. Juga ada yang berkata bosan berdoa, karena sudah berulang kali, tetapi tidak berhasil. Baik dalam keadaan susah maupun tidak, sampai akhirnya doanya hafal diluar kepala. Karena hafal, sudah tidak pernah memperhatikan  makna yang terkandung dari doa yang diucapkan itu.

Ada lagi  orang yang berdoa, pahalanya diberikan kepada orang lain, atau dihadiahkan kepada seseorang. Saya jadi berpikir, apa bisa disaat kita berdoa kemudian pahala atau hadiahnya diberikan kepada orang lain? Pahala doa itu dari mana? Kalau menjawab dari Allah, apa sudah yakin bila doanya akan berhasil dan dapat pahala? Lalu pahala itu diberikan kepada orang lain? Padahal untuk dirinya sendiri saja belum tentu diberi, jangan-jangan bukan pahala yang diberikan, tetapi malah celaka yang didapatkan. Menurut saya, bila ada kejadian seperti ini, menunjukkan adanya salah kaprah terhadap arti doa.


Berdoa, adalah suatu permohonan atau pengharapan agar apa yang diinginkan bisa terkabul, disaat mempunyai “kebutuhan atau keinginan”. Berarti ada pihak, yaitu pihak yang meminta dan pihak yang dituju untuk memberi. Bagi pihak yang meminta dan membutuhkan pasti tahu akan tahu maknanya dan harus bagaimana memintanya supaya diberi. Yang jelas, hati akan memunculkan getaran, pikiran memunculkan getaran, dan semua anggota tubuh lahir dan batin akan mengeluarkan getaran yang sama. Sehingga, kata-kata doa, benar-benar akan keluar dengan penuh rasa harap dan pasrah. Tetapi, jika doa itu diajari orang lain, dan disuruh melakukan berulang-ulang, ditambah lagi tidak mengerti makna permintaannya. Apa bisa menimbulkan getaran? Justru berhasil atau tidak permohonan itu apabila benar-benar menimbulkan kontak getaran antara yang meminta dengan yang diharap untuk memberi. Jika tidak, sampai kiamat tidak akan pernah berhasil. Karena tidak bisa menimbulkan gelombang getaran yang sama, seperti gelombang penerima dan pemancarnya tidak sesuai.



Berdoa yang tidak keluar dari sanubari, serta diajari kata-katanya, dihafal, dari bahasa yang berbeda, tidak mengerti maknanya, dan dilakukan berkali-kali, itu bukan “ doa”, tetapi “mantra” (memanggil makhluk halus), yang memang dibaca berulang-ulang, atau terus menerus dan simultan. Tanpa harus mengerti maknanya. Karena, mantra adalah mediasi untuk alam halus selain Tuhan. Apa tidak celaka namanya.  Sebab, dengan demikian kita sama halnya dengan telah menduakan Tuhan, tidak focus didalam berdoa.  Walaupun, didalam berdoa nama Tuhan disebut. Apa artinya sebuah nama, jika gelombang esensinya tidak sama, walaupun Allah berfirman “ Aku, terserah apa yang dikatakan  oleh kamu, serta Maha tahu apa yang dibisikkan didalam hati manusia. Dan apa artinya Maha Tahu kalau tidak meminta kepada Tuhan. Doa yang diminta bukan kepada Allah, berarti meminta pada berhala, yang hukumnya syirik, yang tidak akan diampuni oleh Allah. Seperti bunyi Q.S. (4): 48 “ Sesungguhnya Allah Tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari itu, bagi siapa yang dikehendaki Nya. Barang siapa yang mempersekutukan allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” Jo. QS.(35): 2-3 ; QS.(13) : 14 ; QS.(46): 5.

Menurut saya, ada 5 tingkatan didalam berdoa,sesuai dengan QS.(3) : 163. “(kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah, dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan”. Dengan berpedoman pada ayat ini dan yang lain, saya berkesimpulan ada 5 kwalitas doa  sebagai berikut :

1. BERDAGANG DENGAN TUHAN

 Artinya, dilihat dari cara meminta kepada Allah, yang memang diperbolehkan, walaupun tingkatan doa ini paling rendah. Seperti bunyi QS(61) : 10-12. (10)Hai orang-orang yang beriman, maukah kamu aku tunjukkan suatu Perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?

 (11) (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan melakukan "jihad" di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.


( 12). Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam "jannah"( kebun anggur, surga) yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar.

            Berpedoman kepada  ayat-ayat tersebut, berarti kita bisa mengadakan perdagangan dengan Allah. Yang ditawarkan kepada kita berupa ampunan dosa dan surga, serta Allah akan menjanjikan keselamatan kita dari siksa. Sedang manusia, membelinya bukan dengan uang, melainkan dengan “ keimanan kepada Allah dan Rasul”, serta berjuang dan bekerja keras di jalan Allah. Jadi, siapapun yang menjalankan nya, maka Allah akan memberikan apa yang dijanjikan.


 Sesuai dengan QS.(18) :31 : Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga 'Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang mas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah; jo. QS.(13): 23. QS.(34): 37 ; QS.(9):

2. BERDAGANG SECARA HALUS.

            Hampir sama dengan system nomor 1 namun sudah agak halus, dan tidak kelihatan, yakni sudah memahami bahwa Allah pasti Maha tahu, apa yang dikehendaki, karena Maha kaya dan Maha Pemurah. Dan pasti Allah akan memberi apa yang menjadi kebutuhannya. Yang penting melaksanakan apa yang diajarkan oleh Allah, tentu akan mendapatkan, bahkan mungkin melebihi dari apa yang diminta. Seperti bunyi QS.19: (36) Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka, sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus. Jo. QS.(19):47-48.

Jadi golongan orang yang masuk pada sistem doa yang nomor 2 sudah halus, redaksi doanya padahal sama-sama masih berdagang. Sudah lebih pandai dibanding yang nomor 1 seperti bunyi QS.(20) :114
........” Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”

3. DOA AGAR DIPILIHKAN YANG TERBAIK.

            Golongan ini, seakan-akan mendikte Tuhan. Walaupun memang kita akui, bahwa kita hanya tergantung pada Tuhan. Tetapi jangan karena kita memiliki tempat pelindung yang sangat hebat dan sangat segalanya, permintaannya malah seenaknya. Tuhan disuruh menuruti segala keinginannya bukan yang menjadi kebutuhan. Sepertinya, Tuhan adalah pembantu kita, yang selalu disuruh apa yang menjadi kemauan kita. Sehingga konotasi doa yang semula memohon, jadi terjebak menyuruh Tuhan. Haaa..haaa. jadinya saya ingin ketawa sendiri, disaat hal ini saya sampaikan pada orang-orang yang berkunjung kerumah.

Mari kita renungi QS.(77):55.  Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Jo.QS.(9):114 ; QS.(24); 20. QS.(9): 113-114 ; QS.(23) :109 ; QS.(29):30. Dan lain-lain ayat-ayat pendukungnya.

Jadi jelasnya, masak disaat kita berdoa menyuruh Tuhan, walaupun tanpa disuruh bukankah Allah Maha Tahu? Sedangkan orang tua kita mengerti, bahkan mau memberi apa yang kita minta. Bahkan seorang sahabat akrab juga tidak segan-segan membantu kita, dan dengan tulus ikhlas memberi, sepanjang apa yang diminta masuk akal dan dengan cara yang santun. Apalagi Tuhan yang Maha segalanya.

4. DOA SYUKUR ATAS NIKMAT.

            Hal ini tidak perlu saya jelaskan panjang lebar, karena sudah amat jelas. Yakni, segala apa yang diterima dan diberikan Allah kepada kita, selalu disyukuri. Entah berupa musibah maupun berupa anugerah, hatinya tidak akan goyang, bahkan akan menambah keyakinan. Terutama disaat menerima musibah, justru akan menambah kebahagiaan, bahwa apa yang diminta tidak akan lama lagi akan terkabul. Jadi siapa yang pandai bersyukur, maka Allah akan melimpahkan segala karunia. Seperti bunyi QS.(14) : 7 : “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." Jo.QS.(14) : 8 ; QS.(2) : 186 ; QS.(50) : 16 ; QS.(4) :147 ; QS.(3) : 145 ; QS. (39) : 7 ; QS.(31) : 12 ; QS.(39) :66 ; QS.(34) :13.

            Ringkasnya adalah, siapa yang pandai bersyukur, maka dialah yang mendapatkan.

5. SEBAGAI TUHAN

            Hal inilah yang sering saya sampaikan kepada setiap orang, namun masih ada yang salah terima dan kurang mengerti. Dianggap kontroversial. Bahkan sampai ada yang salah tafsir, dan menganggap bahwa saya sombong, saya sesat, dan lain-lain. Terutama disaat saya berkata, bahwa manusia itu adalah wakil presiden semesta alam(khalifah). Yang tentu juga memiliki anggaran sendiri, kenapa malah masih meminta kepada Allah. Dan kenapa tidak mengambil anggaran yang telah disediakan oleh presiden semesta alam yakni Tuhan?

             Kata ” Sebagai” berbeda dengan “ menjadi”. Yang tidak boleh, adalah “ menjadi Tuhan. Banyak orang yang secara tidak sadar, sering menjadi Tuhan, bukan sebagai Tuhan. Contoh : aku yang kuasa memecat kamu, mengangkat kamu, jadi jangan berani melawan aku. Aku kaya raya, dan kenal dengan orang yang berkuasa di negeri ini, makanya jangan berani menentang aku. Hal-hal semacam inilah sebenarnya yang dapat dikatakan "menjadi Tuhan". Langsung maupun tidak langsung.  Apalagi ditambah dengan kata-kata “ Nanti aku yang bertanggung jawab kepada Tuhan, dan lain-lain. Subhanallah, Naudzu billah minzalik.

 Jadi, maksud saya sebagai Tuhan, adalah meniru karakter Tuhan, untuk kita jadikan sebuah perbuatan seperti Tuhan sendiri,  berupa pelaksanaan. Khususnya, karakter Tuhan yang Maha Pemurah, dan Maha Penyayang, Walaupun dalam ukuran mikro didalam meniru karakter Tuhan. Mereka yang di tingkatan ini, tidak lagi berpikir untuk meminta kepada Allah, karena tahu Allah maha memberi, sebelum kita meminta. Bukankah orang tua akan selalu memperhatikan anak-anaknya tanpa diminta? Apalagi Tuhan. Tetapi yang ada didalam dirinya dan pikirannya adalah, bagaimana bisa selalu membantu Tuhan untuk menebarkan rasa kasih kepada seluruh ummat. Baik binatang, tanaman, flora dan fauna, maupun manusia dari kalangan apapun. Tanpa memandang dari suku dan agama apapun. Serta, menjaga ekosistem supaya tetap seimbang. Seperti bunyi QS.(47) : 7 . Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan derajad kalian.  Jo.QS.(47):36 ; QS.(47) :38.

Dengan demikian, bila seseorang sudah sampai tingkatan yang ke 5 ini, sudah tidak lagi meminta-minta kepada Tuhan. Akan tetapi akan berbuat sebanyak-banyaknya kebajikan, dan berjuang untuk selalu menebarkan rasa kasih pada sesama. Siapapun  mereka, jahat maupun baik, kafir maupun beriman dengan membawa bendera sebagai muslim yang “rahmatan lil alamin” ....

            Terakhir saya tutup dengan QS.Asy Syuura(42) : 23.” Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah membahagiakan hamba- hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah: "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu bayaran atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan." Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”


            Demikian, dan sengaja ayat-ayat yang tercantum sebagai pendukung, tidak saya tulis  secara keseluruhan, selain hanya nomor surat dan ayatnya, disamping untuk merampingkan tulisan agar tidak terlalu panjang, sekaligus merupakan suatu ajakan untuk kembali membuka Al Qur’an, dan mempelajari bersama-sama.

            Semoga bermanfaat.. dan Maha benar Allah dengan segala Firman Nya. Amien.



  


  



  



  


1 komentar:

  1. Subhanallah mas... benar benar mendapat ilmu yang berkesinambungan dengan mengenal mas Tris... semoga selalu menjadikan pengingat bagi kami yang membacanya... terima kasih atas ilmunya mas...

    BalasHapus