Partner | KAENDRA Tour & MICE

Minggu, 31 Juli 2011

MAKSUD DAN TUJUAN MENEMUKAN JATI DIRI


Dewasa ini telah banyak orang membicarakan tentang jatidiri, dan bahkan didalam sambutan-2 para pemimpin sering menyebut agar kita kembali pada jati diri masing-masing. Akan tetapi, apakah para penyampai itu telah mengerti apa yang dimaksud dengan jati diri tersebut? Lewat tulisan ini, sengaja saya mengambil judul diatas, agar masing-masing orang mengerti, terhadap Jati diri manusia. Dan jati diri manusia masing-masing harus dicari, sebab kalau tidak, akan menyebabkan bahaya yang amat besar, jika jati diri manusia itu malah dikendalikan oleh nafsu kita sendiri, yang akhirnya akan membuat kerusakan dimuka bumi.

                 Apakah jati diri itu?  Menurut hemat saya, jati diri adalah merupakan sifat dasar manusia saat mulai bersemayam didalam diri manusia ragawi dan batini. Dia,  adalah merupakan turunan sifat Tuhan itu sendiri, yang sering kali saya gambarkan sebagai bayangan Tuhan. Akan tetapi, bukan berarti sebagai sifat Tuhan secara keseluruhan, melainkan hanyalah sebatas 1 titik belaka. Seperti halnya stroom listrik yang dialirkan pada sebuah bohlam. Dan sebuah bohlam yang nampak atau kelihatan pada manusia, itulah yang dikatakan raga manusia. Sedangkan stroomnya dikatakan  ruh dari manusia bathin, yang kemudian menyatu dengan bohlam dan mengeluarkan cahaya. Akan tetapi bisakah stroom itu masuk kedalam bohlam tanpa adanya variabel penghubung? Sehingga karena itulah dibutuhkan kabel, stop kontak, dan jenis bohlam itu sendiri, termasuk warna dari cahaya yang kita kehendaki. Jika warna kaca bohlam itu berwarna merah, maka cahaya yang keluar akan berwarna merah. Jika kacanya berwarna hijau, cahaya yang keluar itu juga hijau. Tetapi, apakah strom yang ada mempunyai warna? Tentunya tidak. Kendati stroom tidak dapat dilihat, akan tetapi bisa dirasakan keberadaannya. Stroom listrik ada positif negatif, yang dialirkan dari gardu induknya,  dan dari gardu induk akhirnya mengalir kesetiap rumah yang akan dialiri listrik. Dan pada setiap rumah masih dibagi-bagi lagi menuju tiap titik yang akan dipasangi bohlam. Gardu induk itulah yang dikatakan jati diri manusia, setelah dialiri stroom dari pusat pembangkitnya yakni dari Tuhan itu sendiri.

                Dimanakah tempat  gardu induk (jati diri) manusia? Untuk bisa menjawabnya, adalah dengan mengetahui lebih dahulu tempat Pusat pembangkit listriknya, yakni letaknya berada  di serambi kanan jantung sebelah atas, yang merupakan suatu titik awal hidup manusia, yang dalam bahasa jawa dikatakan “ Teteg”. Selanjutnya dari titik hidup itu, kemudian dihubungkan ke titik kehidupan, yang letaknya ada di serambi kanan jantung sebelah bawah, yang dalam bahasa jawa dikatakan “ Keteg” atau dalam bahasa Indonesia dikatakan “detak”, dan disini merupakan gardu induk listrik yang ada pada diri manusia sehingga dikatakan hidup. Kemudian dari sini akan dibuat aliran-aliran lagi menuju masing-masing rumah nafsu, yang selanjutnya dialirkan kepada seluruh titik yang akan dipasangi bohlam yang didalam perangkat manusia dikatakan karakter manusia. Sedangkan variabel yang dilewati dari “Keteg” yang terletak di serambi kanan bawah jantung tadi, menuju urat nadi dikatakan “ denyut” yang mengarah kepada kehidupan manusia lahir dan batin itu sendiri. Kedua titik yang diserambi kanan atas jantung, berasal dari laki-laki, dan bersifat positif sedangkan yang disebelah bawah berasal dari perempuan dan bersifat massa atau negatif. Kedudukan antara keduanya harus selalu seimbang, dan hidup serta berhubungaan terus menerus. Bagaikan hubungan antara aqqu dengan dinamo mobil. Jika sifat negatif ini mati, maka lambat laun yang bersifat positif juga mati, sehingga seluruh aliran stroom yang ada pada setiap bohlam juga akan mati, dan pada saat itulah manusia dikatakan telah meninggal dunia.

                Apa tujuan kita mengenal dan menemukan gardu induk manusia( jati diri)? Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui sifat dasar dari stroom yang ada , berapa voltage yang merupakan sifat lampu yang nantinya akan dipasang, dan berapa watt jumlah stroom yang dimiliki oleh gardu induk tadi, supaya kita bisa memahami seberapa besar beban yang ditanggung dan harus dipakai. Bila tidak terjadi keseimbangan, serta melampaui batas, dan terjadi over beban, maka akibatnya gardu induk tadi bisa meledak atau padam, sehingga aliran listrik pada masing-masing rumah /nafsu secara keseluruhan akan padam pula. Atau setidak-tidaknya voltage  akan turun, dan mengganggu kepada cahaya bohlam, bisa redup, tidak seterang semula.

                Jadi, fungsi untuk mengenal dan menemukan jati diri manusia itu, adalah semata-mata untuk mengetahui karakteristik pada stroom yang ada pada diri manusia masing-masing, sifat-sifat dasar yang diberikan Tuhan pada kita selaku hamba, apakah sesuai dengan yang dikehendaki oleh Pusat pembangkitnya yang di isi dengan sifat Tuhan itu sendiri. Jika aliran listrik tidak dipakai secara seimbang, dan hanya untuk menuruti apa yang menjadi kepentingan masing-masing rumah nafsu, sehingga menjadi over lapping, maka tentunya akan menimbulkan kelainan terhadap keberlangsungan hidup manusia yang  dikatakan “kehidupan manusia”

                Dengan mengenal pembangkit listrik, dan gardu induk yang mengalirkan strom pada diri manusia, kita akan mengetahui pula sifat-sifat apa yang ada diri kita, dan bagaimana cara kita memformulasikan catu daya cahaya dengan kebutuhan yang akan disediakan. Sehingga, bila suatu saat terjadi kesalahan dan ketidak normalan pada cahaya kehidupan yang ada, kita bisa memperbaikinya, sehingga akan kembali seperti semula.

                Dan bertepatan dengan akan dimulainya bulan puasa ini, kita bisa mulai merenovasi pembangkit listrik yang merupakan perangkat dari manusia batin, dan gardu induk merupakan perangkat untuk menyalurkan dari manusia batin menuju manusia lahir. Dari hidup menuju kehidupan. Selanjutnya, untuk dapat merenovasi, serta melihat, yang barang kali ada kerusakan, kita bisa memperbaiki dengan puasa.  Dan, seluruh stroom harus kembali dimatikan sementara dari gardu induknya. Sehingga kita bisa meneliti, perangkat nafsu mana yang rusak, dan perlu diperbaiki, dengan mengacu terhadap buku petunjuknya. Yakni, lewat pemahaman agama dari masing-masing orang. Kemudian, disempurnakan sesuai dengan sifat dasar yang telah ditanamkan Tuhan pada diri kita. Sehingga kita bisa membangun manusia seutuhnya, yakni kembali pada jati diri masing-masing manusia sebagai kholifah dimuka bumi ini, sebagaimana asal mula sifat, seperti saat kita dilahirkan kemuka bumi ini.
Selamat berpuasa, dan Semoga bermanfaat.

                 

4 komentar:

  1. Jati diri adalah Aku sejati kita (berupa eksistensi) yang sesungguhnya yang ada dahulu, sekarang dan yang akan datang. Setiap orang memiliki jati diri yang mempunyai keunikannya masing- masing. Kata "keunikan" ini sengaja dipakai untuk menggantikan kata "kelebihan dan kekurangan" agar kita tidak terjebak dalam pandangan untuk saling membandingkan. Keunikan jati diri masing-masing ini adalah merupakan hasil dari proses-proses terdahulunya dan merupakan awal dari proses kedepan yang juga tidak perlu dibandingkan dan dinilai berlebihan, akan tetapi haruslah dipahami dan disadari sepenuhnya.

    BalasHapus
  2. Betul sekali cah ayu. romo yakin Roro pasti akan bisa menangkap apa yang romo tuliskan. Memang setiap orang punya keunikan masing-2 jika ditinjau dari pribadi masing-2 orang, kita tidak boleh menilai bahwa orang lain itu punya kelemahan dan kelebihan, sebab kata penilaian itu kan karena kita tinjau apa yang dimiliki oleh kita dan itu bukan kebenaran, melainkan adalah merupakan titik balik untuk diri kita sendiri. Sebab dengan sering melihat keluar tanpa menengok kedalam diri sendiri justru akan semakin jauh pada diri kita masing-2. Coba kita perhatikan dunia anak-2, adakah mereka yang menilai rekan-2nya lebih rendah atau lebih tinggi darinya? Semua berpredikat sama, hanya karena lingkungan keluarga sAJALAH YANG MENGAJARKAN SALAH SEHINGGA SI ANAK IKUT MEMBANDING-2KAN. Jadi, dengan menengok secara terus menerus kedalam diri adalah supaya proses didalam penemuan dan pemurnian jati diri seperti fitrahnya masing-2 bisa berjalan simultan sampai benar-2 nirmala. Kalau kita terhenti satu saat saja dengan mengalihkan fokus kita keluar tubuh, saat itu kita terhenti memperhatikan kedalam. Dan itulah kenapa kita harus selalu berpikir tentang Tuhan setiap detik baik dalam keadaan tidur, jaga berbaring maupun berdiri. Hal itu semata-mata agar jangan sampai salah mengisikan energi yang dibutuhkan didalam dirinya. Sebegitu salah energi yang dimasukkan, akan menyebabkan kita salah pula didalam berperilaku, apalagi didalam perbuatan.

    BalasHapus
  3. Menemukan jati diri memang hal penting yang harus dilakukan. Masalahnya adalah seringkali setiap orang membutuhkan "cermin" berwujud manusia lain untuk menemukannya. Dengan kata lain, layaknya kata-kata bijak "Tiap orang tidak bisa meniup kelilipnya sendiri"

    BalasHapus
  4. Amat betul dik Nababan, memang masing-2 orang itu butuh cermin yang pada umumnya adalah lewat orang lain. akan tetapi, biasanya pula kalau berlatih melalui orang lain disamping bisa tersinggung disaat menerima kritik, juga karena apa yang dilihat orang lain itu sering kali pada unsur tekstual, dan maksimal pada kontekstual. Tetapi sudah tahukah bagi yang mengkritik itu dari sisi substansi, yang tentunya masing-2 impian dan variabel yang dilewati tidak akan sama. Jadi cermin yang betul adalah selalu melihat pada dirinya, apakah yang telah dilakukan itu sudah benar atau tidak. Bermanfaat atau tidak, Kemudian ada efek samping atau tidak. Lantas, efeknya itu mampu tidak untu kita alami. Dan ini memang butuh pelatihan yang terus menerus secara simultan. Btw t. kasih atas komentnya yang berbobot.

    BalasHapus