Dewasa ini telah banyak orang membicarakan tentang jatidiri, dan bahkan didalam sambutan-2 para pemimpin sering menyebut agar kita kembali pada jati diri masing-masing. Akan tetapi, apakah para penyampai itu telah mengerti apa yang dimaksud dengan jati diri tersebut? Lewat tulisan ini, sengaja saya mengambil judul diatas, agar masing-masing orang mengerti, terhadap Jati diri manusia. Dan jati diri manusia masing-masing harus dicari, sebab kalau tidak, akan menyebabkan bahaya yang amat besar, jika jati diri manusia itu malah dikendalikan oleh nafsu kita sendiri, yang akhirnya akan membuat kerusakan dimuka bumi.
Manusia itu adalah Wakil Presiden semesta alam, jadi tugas kita adalah untuk menjaga ekosistem sebagai wujud kebaktian kita kepada Presiden semesta alam, yakni Tuhan itu sendiri. Adapun caranya adalah bagaimana kita bisa bermanfaat pada alam, dan bukan memanfaatkan atau dimanfaatkan.
Partner | KAENDRA Tour & MICE
Tampilkan postingan dengan label jatidiri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jatidiri. Tampilkan semua postingan
Minggu, 31 Juli 2011
Sabtu, 16 Juli 2011
PUASA DARI SUDUT PANDANG METAFISIKA
Selama ini, disaat seseorang menjalani puasa, semata-mata bukan karena muncul dorongan dari dalam diri manusia, melainkan karena merasa adanya kewajiban untuk puasa. Bahkan didalam menterjemahkan kata “ kutiba ” seperti tercantum didalam surat Al Baqarah(2): 183 : “Yaa ayyuhalladzina amanu, kutiba alaikummussiyam, kamaa kutiba ‘alalladzina min qoblikum laa ‘allakum tattaquun”. (Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa). Padahal, kata kutiba itu lebih berarti kewajiban dari dalam diri manusia itu sendiri. Tidak ada daya pemaksa dari luar. Sama halnya, disaat kita sudah besar dan ingin kuliah, tetapi tidak ada uang, kita menjadi susah, bukan karena merasa senang tidak kuliah. Jadi, kata ”kutiba” semata-mata merupakan kedisiplinan diri, jadi didalam menterjemahkan kata “kutiba” adalah “ tetapkanlah”. Yang merupakan unsur kedisiplinan diri, baik ada perintah maupun tidak. Dan apabila tidak melaksanakan puasa, kita akan merasakan susah yang amat sangat. Begitu pula didalam mengartikan “puasa(siyam)” bukan menahan lapar, melainkan “menahan diri”
Jumat, 15 April 2011
EKOSISTEM MIKRO DAN MAKRO KOSMOS
Lanjutan :
Kita tahu, bahwa wujud kebaktian manusia pada Tuhan adalah sebagai “kholifah” minimal untuk dirinya sendiri. Untuk kebaikan, berdaya-guna, serta bermanfaat bagi dirinya serta lingkungannya. Namun bukan berarti menguasai, atau memerintah, apalagi lantas memaksa orang lain untuk memenuhi apa yang menjadi keinginannya. Akan tetapi memiliki arti; bagaimana bisa men-serasi-kan ekosistem, antara manusia lahir dan manusia batin. Setelah keduanya bisa serasi, selaras dan seimbang, kemudian dipadukan dengan ekosistem yang ada diluar tubuh kita. Dan, tugas-tugas tersebut terwujud, serta terlaksana dengan baik, apabila selalu memperhatikan, menganalisa, serta perduli pada setiap saat. Adakah perobahan yang terjadi pada ekosistem tersebut? Sebab, setiap perobahan, pasti akan membawa sebab akibat, yang bisa membahayakan pada tata kehidupan manusia itu sendiri. Selanjutnya, untuk melihat adanya perobahan ekosistem didalam diri, hanya dengan memperhatikan perubahan ekosistem yang ada diluar tubuh. Yakni : adanya perubahan musim, perubahan cuaca, adanya penyakit, serta adanya perobahan yang terjadi pada alam flora, dan fauna. Begitu melihat diluar tubuh ada perobahan, ini menunjukkan bahwa, ekosistem yang ada didalam tubuh, pasti ada perobahan, atau ada masalah.Jadi, tugas manusia didalam berbakti kepada Tuhan, hanyalah 1 (satu ), yakni “MENJAGA EKOSISTEM” itu sendiri. Yakni, adanya satu lingkaran keseimbangan, yang saling ada keterkaitan, antara satu dengan yang lain, sebagaimana wujud asli saat diciptakan Tuhan..
Langganan:
Postingan (Atom)