Partner | KAENDRA Tour & MICE

Sabtu, 16 Juli 2011

PUASA DARI SUDUT PANDANG METAFISIKA


                Selama ini, disaat seseorang menjalani puasa, semata-mata bukan karena muncul dorongan dari dalam diri manusia, melainkan karena merasa adanya kewajiban untuk puasa. Bahkan didalam menterjemahkan kata “ kutiba ” seperti tercantum didalam surat Al Baqarah(2): 183 : “Yaa ayyuhalladzina amanu, kutiba alaikummussiyam, kamaa kutiba ‘alalladzina min qoblikum laa ‘allakum tattaquun”. (Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa). Padahal, kata kutiba itu lebih berarti kewajiban dari dalam diri manusia itu sendiri. Tidak ada daya pemaksa dari luar. Sama halnya, disaat kita sudah besar dan ingin kuliah, tetapi tidak ada uang, kita menjadi susah, bukan karena merasa senang tidak kuliah. Jadi, kata ”kutiba” semata-mata merupakan kedisiplinan diri, jadi didalam menterjemahkan kata “kutiba” adalah “ tetapkanlah”. Yang merupakan unsur kedisiplinan diri, baik ada perintah maupun tidak. Dan apabila tidak melaksanakan puasa, kita akan merasakan susah yang amat sangat. Begitu pula didalam mengartikan “puasa(siyam)” bukan menahan lapar, melainkan “menahan diri”

Jadi, adanya salah tafsir didalam mengartikan kata “kutiba alaikummusiyam”,  membuat sebagian orang didalam mengerjakan puasa, merasa terpaksa melakukan, hanya ikut-ikutan, untuk supaya dikatakan kuat menahan lapar, takut berdosa, dan lain-lain. Bahkan disaat awal berpuasa, tiap orang ditanya, apakah engkau berpuasa? Disamping itu, pada bulan puasa, banyak orang yang berlomba-lomba menyediakan jasa dadakan, seperti halnya menjual makanan dan minuman yang penuh gizi, menjual vitamin, agar didalam seharian puasa bisa kuat. Sehingga secara bergurau, saya pernah menyarankan kenapa tidak menjual vitamin, atau kapsulnya milik astronout saja, agar bisa kuat selama 3 bulan sekali makan. Disamping itu, pengeluaran didalam bulan puasa, justru malah lebih membengkak, dibandingkan dengan sebelum bulan berpuasa. Belum ditambah lagi dengan suara petasan yang tentu harganya amat mahal. Walaupun secara teori makannya cuma 2 kali, yaitu saat berbuka dan sahur. Namun sejatinya, beaya yang dikeluarkan amat besar, yang hal ini justru akan berdampak pada kebutuhan ragawi, dibandingkan kebutuhan batini. Puasa, yang seharusnya untuk prihatin, dan instropeksi diri, malah lebih banyak untuk berhura-hura.

                Dari sudut pandang metafisika, puasa mengandung arti yang amat dalam sekali, yakni dengan adanya tidak makan dan minum seharian, serta nafsu tidak diisi dengan energi negatif, tidak berpikir dan berbuat yang negatif pula, maka manusia akan bisa mengenal jati dirinya yang murni. Sebab, tanpa adanya unsur materi yang masuk dalam seharian itu, akan diharapkan unsur energinya semakin menonjol. Darimana unsur energi masuk? Adalah dari udara yaitu saat kita bernafas, dan dari matahari. Yang kalau boleh saya gambarkan sebagai unsur dingin dan panas. Bersatunya unsur dingin dan panas tanpa diikuti dengan unsur materi yang masuk, akan membuat manusia semakin memperkaya unsur energi udara, dan energi api secara murni( Yin Yang).

Selama ini, yang dominan masuk kedalam diri manusia adalah unsur materi sehingga lebih bersifat ragawi. Dengan adanya unsur energi yang masuk selama 1 bulan penuh justru akan semakin memperbanyak pengisian energi yang dibutuhkan oleh unsur jiwani, sehingga akan bisa mengisi pada hati manusia. Sebab fungsi hati manusia, semakin diisi unsur materi, akan semakin mengeras yang apabila dibiarkan berlarut-larut, sifat batin dari hati akan semakin menghilang. Dan apabila sifat batin dari hati telah menghilang, maka dia tidak akan bisa peka lagi didalam menangkap apa yang menjadi kebutuhan batin manusia itu sendiri.

                Jadi, dengan berpuasa, diharapkan tidak akan ada sisa tabungan materi yang ada didalam diri(nafsu) manusia. Sehingga dengan demikian, dalam istilah komputer, hati bisa berfungsi untuk mendisclean segala sampah-sampah dari nafsu, sekaligus bisa mem prefetch, men defragment, sistem restore, dan bahkan bila perlu menginstal ulang. Dengan begitu otak sebagai perangkat komputer manusia, akan selalu siap dipakai didalam penerapan pada 11 bulan setelah bulan puasa, tidak akan lambat, dan seperti masih baru membeli.

                 Selama ini, hanya didalam bulan puasa saja yang hal itu diterapkan. Itupun sering kali hanya pada siang hari. Namun begitu malam hari, kehidupan manusia kembali seperti pada bulan-bulam sebelum puasa. Atau, malahan lebih semarak unsur materi yang merasuk kedalam diri tubuh ragawi. Ada-ada saja makanan dan minuman yang dimasukkan kedalam tubuh selagi malam tiba, bukan malah mengurangi makan dan minum. Kegiatan yang dilakukan bukan untuk kepentingan jiwani, dan hati, tetapi justru malah berbuat yang melebihi batas toleran sebagai hamba yang beragama. Mengusik orang lain yang tidak berpuasa, warung-warung ditutup, bahkan orang lain harus menghormati kita yang berpuasa, dan lain-lain.

                 Menurut hemat saya, hal itu tidak perlu. Malahan yang terbaik bagi kita adalah, bagaimana kita lebih menghormati orang lain, mementingkan orang lain, melayani orang lain. Yang semula kita ingin dilayani, kita ganti dengan bagaimana kita melayani orang lain, menjadi orang yang dibutuhkan oleh orang lain. Bukankah dengan begitu kita telah mencontoh Sifat Tuhan itu sendiri? Bukan malah dibalik, orang lain yang harus melayani dan menghormati kita. Dengan begitu, kita akan semakin banyak memperoleh manfaat dan hikmah yang besar, sifat egois kita buang, bukan malah membuat ketakutan orang-orang lain diluar agama kita. Malam hari, harus memperbanyak dzikkir kepada Tuhan, mengkoreksi diri dengan membaca kitab suci AL Qur’an, manakah perbuatan kita yang tidak cocok dengan petunjuk Al Qur’an, manakah yang perlu ditambah. Adakah sifat kita yang bertentangan dengan Rasul. Masih adakah kekerasan dan kekejaman, serta kesombongan pada diri kita. Sudah santunkah kita dan lain-lain.

 Kenapa harus begitu? Hal ini dimaksudkan supaya hati kita akan semakin baik, dan sempurna seperti bayi disaat unsur materi masih sedikit sekali. Jika hati kita sudah baik dan sempurna, maka dia akan lebih peka menangkap masalah-masalah yang ada pada diri kita untuk diselesaikan, sehingga nantinya dapat diterapkan pada 11 bulan berikutnya, jika ada beban yang harus dipikul, akan bisa diatasi dengan baik. Dan dengan begitu, kita akan bisa semakin dekat dengan Allah. Sehingga disaat kita butuh sesuatu yang kita tidak mampu mengatasi, maka Allah akan senantiasa memberikan pertolongan, tanpa harus berdoa berkali-kali dalam satu permintaan. Bahkan, cukup dengan bisikan hati saja, apa yang menjadi kebutuhan kita dimuka bumi in,i akan tersedia dengan cepat, sesuai dengan kehendak kita. Tidak harus berteriak-teriak memanggil Allah, namun tidak pernah berhasil. Dan apabila hal ini diteruskan, maka hati semakin lama akan semakin mengeras, kita akan semakin emosional, penuh penderitaan,  yang bisa mengakibatkan penyakit hati, seperti TBC, hepatitis, leukimia, stroke, sirosis, dan lain-lain dalam istilah kedokteran.


 Demikian, sekapur sirih ini saya buat, dan semoga bermanfaat.
               

1 komentar:

  1. Orang-orang yang beriman diwajibkan untuk berpuasa, setelah kita berpuasa diharapkan oleh Allah Ta’ala agar kita menjadi orang yang takwa. kita haruslah termasuk orang yang beriman dahulu, kemudian melakukan puasa, puasa itu selain tidak makan dan minum sebetulnya pelajaran utamanya adalah mengerem semua hawa nafsu yang tidak baik. Baik itu amarah, baik itu ghibah, baik itu su’udon, baik itu memukul orang, memaki orang. Semua yang tidak baik itu harus kita hilangkan dari hati kita yang memang penuh dengan dosa. Dari sanalah kalau kita bisa melakukan puasa dengan baik dan benar, dan barulah kita digolongkan orang yang takwa oleh Allah Ta’ala. kita harus menyadari bahwasanya ramadhan ini adalah salah satu dari bulan-bulan yang paling baik bagi kita orang Islam. Tapi kita akan lebih bisa dekat kepada Allah Ta’ala, jika kita setiap hari berpuasa dengan setiap hari kita tidak mengumbar nafsu kita. Baik itu amarah, baik itu ghibah, baik itu memaki orang, baik itu mengambil hak orang lain dan lain sebagainya.Semua yang tidak baik, kita tidak lakukan semata-mata karena Allah, karena cinta kita kepada Allah, karena kita takut akan dosa yang kita lakukan kepada Allah.Terimakasih...

    BalasHapus